Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Surabayan, Kampung Peninggalan Majapahit yang Berusia Lebih dari 700 Tahun

Mengenal Surabayan, Kampung Peninggalan Majapahit yang Berusia Lebih dari 700 Tahun Kampung Surabayan. ©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Kampung Surabayan yang terletak di Kelurahan Kedungdoro, Tegalsari, Kota Surabaya, Jawa Timur memiliki sejarah panjang yang menarik untuk disimak. Konon, kampung ini sudah ada sejak zaman Majapahit.

Dikutip dari liputan6.com, Raja Majapahit yang berkuasa pada tahun 1350 hingga 1389, Hayam Wuruk pernah mengunjungi sekitar 40 kampung yang ada di bantaran sungai Brantas dan Bengawan Solo, seperti yang tertulis dalam Kitab Nagarakretagama. Salah satunya ialah Kampung Surabayan.

Kunjungi Kampung Tua

kampung surabayan

©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Jurnal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang berjudul Conservation Concept of Old Kampung Through the Application fo Sustainable Development Principles at Kampung Surabayan, Kedungdoro District, Surabaya yang terbit pada 1 April 2014 menyebutkan nama-nama kampung yang sempat dikunjungi Hayam Wuruk. Di antaranya ada Kampung Surabayan, Kampung Bungkul, dan Kampung Jambangan.

Eksistensi Kampung Surabayan ditunjukkan pada Prasasti Canggu dan Kakawin Nagarakretagama.

"Surabaya disebutkan pertama kali di dalam peninggalan Majapahit yang bisa dijadikan sumber sejarah antara lain Prasasti Canggu dan Kakawin Nagarakrtagama. Prasasti Canggu diterbitkan pada 1358 Masehi di masa Majapahit dipimpin Hayam Wuruk," ungkap Sejarawan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Adrian Perkasa.

Desa-desa Penting

kota tua surabaya

©2020 Merdeka.com/Youtube PENS TV

Prasasti Canggu dikeluarkan oleh Hayam Wuruk sebagai bukti pemberian hak istimewa kepada desa-desa penting di sepanjang aliran Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Hak istimewa itu diberikan lantaran kontribusinya meningkatkan ekonomi Kerajaan Majapahit. Diketahui, Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas merupakan dua sungai penting di masa Majapahit.

"Yang harus diketahui posisi desa dan dua sungai di Jawa itu urat nadi ekonomi, lalu lintas antara pedalaman dan pesisir dengan laut. Di situ kemudian ibarat hari ini desa tersebut semacam pintu tol lalu lintas manusia dan komoditas," ujar dia.

Berusia Sekitar 700 Tahun

kota tua surabaya

©2020 Merdeka.com/Youtube PENS TV

Sementara itu, ada jarak waktu sekitar 700 tahun antara penyebutan nama Surabaya pertama kali dengan perkembangan Kota Surabaya. Sehingga bangunan peninggalan zaman Majapahit di kota ini nyaris tidak ditemukan.

Menurut Adrian, ada salah satu peninggalan yang masih bisa dilacak. Yakni Bunden Mba Mojo.

"Bunden kalau kita lihat di desa di luar kota besar Surabaya, ada bentuk mata air, ada bentuk pohon, tumpukan batu kuno merupakan struktur candi. Ada yang kemudian dirupakan seperti makam, di sini bunden Mba Mojo dirupakan sebagai makam, keterkaitan prasasi Majapahit bangunan atau struktur yang menunjukkan kekunoan kampung dari Surabayan tersebut," jelas Dosen Sejarah Unair itu.

Tradisi Kampung yang Masih Bertahan

ilustrasi adu cepat burung dara

©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Di kampung yang usianya lebih dari 7 abad itu, ada sejumlah tradisi yang masih eksis hingga sekarang. Dua di antaranya Budaya Cangkruk dan Adu Burung Dara.

Cangkrung memiliki pengertian yang sama dengan nongkrong. Secara beramai-ramai, orang-orang duduk dan saling bertukar cerita.

Sementara Adu Burung Dara merupakan aktivitas mengadu kecepatan burung dara. Seiring dengan berkurangnya lahan kosong, secara kuantitas kegiatan ini juga turut berkurang.

Kampung Surabayan disebut-sebut memiliki potensi pariwisata budaya yang menggiurkan. Mengingat usianya yang sudah tua dan menyimpan banyak cerita sejarah. Kampung ini juga telah terdaftar di Dinas Pariwisata Kota Surabaya sebagai warisan budaya dengan nomor registrasi 646/1654/436.6.14/2009.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP