Museum Daur Ulang Botol Bekas Pertama di Dunia, Ada di Malang

Kamis, 19 Maret 2020 13:00 Reporter : Rizka Nur Laily M
Museum Daur Ulang Botol Bekas Pertama di Dunia, Ada di Malang Museum Botol Bekas. ©2020 Merdeka.com/oxygreen.id

Merdeka.com - Museum daur ulang botol bekas pertama di dunia ada di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Terletak di Pondok Wisata B Walk, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, museum daur ulang botol bekas ini bernama Recycle Museum Hotbottles.

Koleksi museum ini terdiri dari kreasi berbentuk motor, mobil, dan alat transportasi lain yang semuanya berbahan dasar botol bekas. Dihimpun Merdeka dari berbagai sumber, ide di balik tercetusnya Recycle Museum Hotbottles adalah Mohammad Taufiq Shaleh Saguanto.

Lelaki kelahiran Malang itu sebelumnya mengelola perusahaan keluarga besarnya di Jakarta. Tahun 2010, Ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya untuk membuka usaha secara mandiri. Nahas di tahun 2014 atau empat tahun setelah usahanya berjalan, a ditipu orang dan usahanya gulung tikar.

Ia kemudian bereksperimen mendaur ulang barang-barang bekas menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi. Sebelum fokus menggunakan botol bekas sebagai bahan baku kreasinya, Taufiq lebih dulu menggunakan segala jenis barang bekas. Mulai dari alat dapur, mainan anak, alat elektronik, dan lain sebagainya. Pilihan untuk fokus mendaur ulang botol bekas ditekuninya di kemudian hari karena botol plastik bekas lebih mudah ditemukan.

1 dari 3 halaman

Koleksi di Museum Botol Bekas

museum botol bekas

2020 Merdeka.com/kerajinanindonesia.id

Pemilihan materi botol plastik bekas selain karena material itu mudah didapatkan, juga mengandung kesadaran mencintai lingkungan. Dikutip Merdeka dari berbagai sumber, sampah plastik termasuk sampah yang sulit diurai. Kalaupun bisa, proses penguraian sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa mencapai 20 tahun.

Hampir semua kreasi dari botol bekas yang dipajang di Recycle Museum Hotbottles berupa miniatur berbagai alat transportasi seperti mobil dan motor. Selain dibentuk menjadi alat transportasi, Taufiq juga menyulap botol bekas menjadi robot. Alasan Taufiq memproduksi botol bekas menjadi menjadi berbagai miniatur alat transportasi itu karena memiliki kesan maskulin dan dekat dengan teknologi.

Miniatur transportasi itu dilapisi wana kuning emas yang memberi kesan elegan dan bernilai tinggi. Taufiq menjual kreasinya itu dengan berbagai harga.

Peminat kreasi Tauqif tidak hanya ada di dalam negeri, tetapi juga dari mancanegara. Ia pernah menjual sebuah miniatur sepeda dengan bandrol Rp 2 juta. Omset yang ia peroleh selama satu bulan rata-rata sekitar Rp 20 juta.

2 dari 3 halaman

Membalik Konsep Museum

botol bekas

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Konsep museum pada umumnya identik dengan barang klasik dengan nilai tinggi, kuno, mahal, serta terbatas. Semua nilai yang melekat pada citra museum itu tidak ditemui di Recycle Museum Hotbottles di Malang. Museum daur ulang botol bekas pertama di Indonesia itu bahkan memiliki konsep yang hampir seluruhnya berkebalikan dengan museum pada umumnya.

Barang-barang yang merupakan kreasi seni dibuat dari botol bekas yang sering disepelekan orang. Botol bekas merupakan barang yang tidak berharga serta tidak memiliki harga mahal.

Museum daur ulang botol bekas milik Taufiq juga menyediakan sarana pembelajaran. Pengunjung diajak untuk belajar sejarah mengenai hidup di masa lalu.

Bagaimana menyenangkannya hidup tanpa botol di masa lalu. Membeli kecap dengan cara mengembalikan botol kembali ke penjualnya.

3 dari 3 halaman

Upaya Menyelamatkan Lingkungan

museum botol bekas

2020 Merdeka.com/oxygreen.id

Upaya Taufiq dalam mengolah botol bekas dengan kesadaran menjaga lingkungan mendapat apresiasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia ditunjuk PBB menjadi Indonesian volunteer di United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Taufiq mendapat kesempatan untuk menjadi trainer bagi masyarakat dalam upaya menyelamatkan lingkungan dari botol bekas.

Dihimpun Merdeka dari berbagai sumber, Taufiq menyelenggarakan pelatihan untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD) di museumnya. Anak-anak ini membuat kreasi dari botol bekas sesuai dengan arahan yang ia berikan.

Dari kegiatan ini, Tuafiq berharap ke depannya akan ada peradaban yang lebih baik. Terutama terkait dengan penyelamatan lingkungan dari limbah botol plastik.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini