Fase Perkembangan Psikis pada Masa Pubertas, Berikut Penjelasannya
Merdeka.com - Pendekatan modern terhadap perubahan dan perkembangan psikis pada masa pubertas didasarkan pada konsep tugas perkembangan dengan cara yang sesuai dengan usia dan sesuai tahapan. Perkembangan kognitif dan psikososial pada remaja pada dasarnya bervariasi antar individu.
Proses biologis dapat memengaruhi keadaan psikologis dan psikososial individu, tetapi peristiwa psikologis dan psikososial juga dapat memengaruhi sistem biologis. Oleh karena itu, waktu dan hasil dari proses pubertas dapat dimodifikasi oleh faktor psikososial.
Fase perkembangan psikis pada masa pubertas yang paling penting adalah munculnya pemikiran abstrak, tumbuhnya kemampuan menyerap cara pandang atau sudut pandang orang lain, meningkatnya kemampuan introspeksi, berkembangnya identitas pribadi dan seksual, pembentukan sistem nilai, dan masih banyak lagi.
Ketidaksinkronan antara perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial dapat membatasi kemampuan remaja untuk memahami dan menilai risiko secara efektif dan dapat mengakibatkan pandangan remaja yang tidak sesuai dengan orang tua atau wali.
Dokter anak dapat membantu remaja untuk bertransisi melalui periode perkembangan yang penting ini sekaligus memberikan bimbingan dan dukungan yang tepat kepada orang tua. Berikut uraian selengkapnya mengenai fase perkembangan psikis pada masa pubertas yang menarik diketahui.
Perkembangan Psikis dan Sosial pada Masa Pubertas
Perkembangan remaja usia 12 hingga 18 tahun harus mencakup pencapaian fisik dan mental yang diharapkan. Mengutip dari medlineplus.gov, selama masa remaja anak-anak mengembangkan kemampuan untuk:
Secara fisik, masa remaja dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 19 atau 20 tahun. Secara intelektual, masa remaja adalah periode ketika individu menjadi mampu merumuskan hipotesis atau proposisi secara sistematis, mengujinya, dan membuat evaluasi yang rasional.
Pemikiran formal remaja dan orang dewasa cenderung bersifat deduktif, rasional, dan sistematis. Secara emosional, masa remaja adalah masa ketika individu belajar untuk mengontrol dan mengarahkan dorongan seks mereka dan mulai membangun peran dan hubungan seksual mereka sendiri.
Dekade kedua kehidupan juga merupakan saat ketika individu mengurangi ketergantungan emosional (jika bukan fisik) pada orang tua mereka dan mengembangkan seperangkat nilai yang matang dan pengarahan diri yang bertanggung jawab.
9 Fase Perkembangan Psikis pada Masa Pubertas
Melansir dari buku 1001 Cara Bicara Orang Tua dari BkkbN dan John Hopkins Center for Communication Programs, dijelaskan bahwa pada fase awal anak mengalami pubertas, mereka cenderung lebih tertarik pada keadaan yang terjadi saat ini dibandingkan dengan apa yang menanti di masa depan.
Perkembangan psikis pada masa pubertas memang tak bisa dihindari. Untuk itu, Anda sebagai orangtua harus memahami tahapan dan juga cara mengatasinya dengan baik dan benar, guna kelangsungan hubungan emosional Anda dan anak di masa yang akan datang. Berikut adalah 9 fase perkembangan psikis pada masa pubertas;
- Mengalami krisis identitas
- Merasa bingung dengan keadaan dan emosi dari diri sendiri
- Meningkatnya kemampuan verbal untuk mengekspresikan diri
- Mendapat pengaruh besar dari kelompok sebaya terhadap hobi dan cara berpakaian
- Berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, bahkan terkadang beberapa anak mengembangkan perilaku kasar
- Cenderung berlaku kekanakan
- Berani menunjukkan kesalahan orang tua
- Merasakan pentingnya kehadiran teman dekat
- Mencari orang lain untuk disayangi selain orang tua
Perubahan Psikososial pada Masa Pubertas
Melansir dari who.int, terkait dengan perubahan hormonal dan perkembangan saraf yang terjadi adalah perubahan psikososial dan emosional, dan juga peningkatan kapasitas kognitif serta intelektual. Selama dekade kedua, remaja mengembangkan keterampilan penalaran yang lebih kuat, pemikiran logis dan moral, dan menjadi lebih mampu berpikir abstrak dan membuat penilaian rasional.
Selain itu, mereka lebih mampu mempertimbangkan perspektif orang lain dan sering ingin melakukan sesuatu tentang masalah sosial yang mereka hadapi dalam hidup mereka. Pada saat yang sama, remaja sedang mengembangkan dan mengonsolidasikan rasa diri mereka.
Dengan meningkatnya identitas diri ini, termasuk perkembangan identitas seksual mereka, muncul kekhawatiran tentang pendapat orang lain, terutama pendapat rekan-rekan mereka. Selain itu, remaja menginginkan kemandirian dan tanggung jawab yang lebih besar. Mereka semakin ingin menegaskan lebih banyak otonomi atas keputusan, emosi dan tindakan mereka dan untuk melepaskan diri dari kontrol orang tua.
Lingkungan sosial dan budaya mereka secara penting mempengaruhi bagaimana remaja mengekspresikan keinginan untuk otonomi ini. Remaja yang lebih muda mungkin sangat rentan ketika kapasitas mereka masih berkembang dan pada saat yang sama mereka mulai bergerak di luar batas keluarga mereka dan mulai mengambil keputusan mandiri, mulai dari dengan siapa mereka menghabiskan waktu hingga makanan apa yang mereka makan.
(mdk/edl)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya