Banyu Urip, Sumber Air Keramat Tempat Pelaut Hindu Jawa Panjatkan Doa pada Dewa
Merdeka.com - Dalam buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe mengutip penjelasan di dalam buku Soerabaia Beld van Eeen Staad menyebutkan, Sumber Urip atau Banyu Urip merupakan sumber air keramat zaman dahulu.
Dulu tepatnya pada zaman Hindu Jawa, para pelaut biasa mengambil air minum di sana. Mereka juga memanjatkan doa kepada para dewa agar pelayaran mereka selamat sampai tujuan.
Air Kehidupan
G.V. von Faber menyebutkan, sekitar seribu tahun yang lalu, Banyu Urip terletak di pinggir pantai. Pada tahun 850 masehi, garis pantai sungai Brantas terletak jauh di sebelah selatan atau di sekitar kawasan Wonokromo.
Sementara itu, secara harfiah, Sumber Urip berarti sumber hidup atau air hidup. Bentuk asli sumber air itu sebenarnya berupa sebuah sumur, namun kini sudah ditutup.
Sementara itu, di atasnya tumbuh pohon waringin yang sangat rindang dan lebat daunnya. Pohon itu pun dipakai sebagai tempat berziarah orang-orang, seperti dilansir akun Instagram resmi @surabaya, Jumat (4/6/2021).
Versi Lain

©2021 Merdeka.com/Instagram @surabaya
Sementara itu, ada cerita versi lain berkenaan dengan nasal usul kawasan Banyu Urip. Dikutip dari laman resmi Disperpusip Provinsi Jawa Timur, dikisahkan, ada persaingan cinta segitiga antara Pangeran Situbondo putra Adipati Cakraningrat dari Sampang yang cacat dengan Pangeran Jokotruno putra dari Adipati Kediri untuk dapat mempersunting Raden Ayu Probowati.
Guna menghindari raden Situbondo yang cacat, Raden Ayu Probowati mengajukan syarat berupa kesanggupan sang calon untuk membuka hutan agar dapat mendirikan pemukiman sebanyak dan sebaik mungkin bagi warga Surabaya. Raden Situbondo pun menyanggupi permintaan itu.
Cerita berawal di daerah yang memakai nama wono (yang arti hutan) dan simo (singa atau harimau). Masyarakat di daerah Wonokromo dan Wonocolo percaya bahwa kampung- kampung yang mereka diami ialah hasil karya dari Raden Situbondo.
Saat Raden Situbondo membuka hutan, ia menemukan tumpukan kulit kerang (kupang) yang menggunung, daerah itu kemudian dinamakan Kupang Gunung. Di tempat lain, ia menemukan daerah dengan banyak kerang tersusun rapi menyerupai kerajaan. Selanjutnya, daerah itu dinamakan Kupang Krajan.
Di salah satu tempat, Raden Situbondo bertemu dengan Joko Jumput. Keduanya memutuskan beradu kekuatan. Raden Situbondo kalah, bahkan hampir mati.
Di tengah ancaman kehilangan nyawa itulah, Raden Situbondo pergi ke Kedung Gempol dan minum air di kedung itu. Nyawa Raden Situbondo akhirnya dapat diselamatkan, dan daerah itu kemudian diberi nama Banyu Urip.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya