Batik selama ini lekat dengan pakaian, menjadi bagian dari tubuh yang dikenakan, dikenali, lalu dilupakan. Tapi tidak bagi Eni Anjayani (45) pemilik Wastraloka, yang punya cara lain untuk merayakan batik. Bukan untuk dipakai, melainkan cukup untuk dipandang dan dinikmati dalam bentuk lain, yaitu jadi dekorasi rumah dan hadiah.
Wastraloka berarti “surga wastra” dalam bahasa Sanskerta, lahir dari keinginan Eni untuk mempertahankan keindahan motif batik lawas yang semakin jarang ditemui. Lahir di keluarga pembatik, sejak kecil Eni sudah terbiasa dengan motif-motif rumit yang kini mulai punah. Tapi untuk membuat kembali batik-batik itu secara konvensional tentu membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.
Alih-alih mencanting, mencelup, dan melalui proses membatik yang panjang, Eni memilih jalan kreatif dengan mengambil esensi batik lawas sebagai motif, lalu menerapkannya ke media dekorasi rumah.
Lewat kerja keras, kreativitas, dan pendampingan dari Rumah BUMN BRI Yogyakarta serta Bank BRI, Wastraloka mampu bertahan bahkan tumbuh. Inovasinya tak pernah berhenti, dengan tetap menjunjung filosofi batik sebagai identitas bangsa yang harus dipertahankan—dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Saya berpikir, kenapa harus batik itu hanya ada di kain? Kenapa tidak cukup untuk dipandang saja? Maka mulailah saya coba gambar motif-motif itu di media lain,” cerita Eni ketika ditemui merdeka.com di Wastraloka Workspace, Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (8/3/2025).
Advertisement
Perjalanan Wastraloka: Berawal dari Ingin Menikmati Batik Tapi Bukan di Kain
Langkah awalnya begitu sederhana namun bermakna, yaitu melukis kaleng kerupuk. Sebuah benda ikonik khas Indonesia yang biasa ditemukan di rumah-rumah sejak puluhan tahun silam. Namun di tangan Eni, kaleng kerupuk berubah menjadi karya seni bernilai tinggi, dihias dengan motif batik lawasan yang autentik.
Karya pertamanya diunggah di Facebook dan mendapat sambutan hangat. Dari sanalah, konsep Wastraloka mulai mendapatkan bentuk dan pijakan—membawa wastra Nusantara sebagai warisan budaya dalam format baru yang modern dan relevan.
Wastraloka resmi dirintis tahun 2012. Saat itu, Eni masih bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan di Klaten, yaitu Intan Pariwara. Ia menyempatkan waktu di sela kesibukannya untuk berkarya, menggambar, dan mencari media yang pas untuk ide-ide kreatifnya.
Baru pada 2017, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya setelah 14 tahun bekerja, dan ingin fokus pada usaha yang telah dirintisnya secara perlahan.
Modal awalnya saat itu hanya Rp5 juta. Ia gunakan modal itu untuk membeli bahan-bahan dan memulai promosi lewat media sosial. Produksi dilakukan secara handmade, dari memotong lembaran kaleng, membentuk media, hingga melukis langsung dengan tangan.
“Kami mulai dari nol, bahkan kaleng kerupuknya pun kami bentuk sendiri,” ungkap perempuan lulusan UGM jurusan geografi.
Tantangan utama datang dari proses produksi yang rumit dan sangat bergantung pada tangan manusia. Karena itu, Wastraloka memberdayakan perajin lokal yang mengerjakan sebagian besar komponen dari rumah mereka masing-masing. Media dibentuk oleh perajin, lalu dibawa ke tim pelukis yang melukisnya satu per satu. Proses ini tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru.
Eni menyadari bahwa handmade art memiliki keunikan tersendiri—setiap produk berbeda karena goresan tangan dan pencampuran warna yang tak pernah bisa sama. Maka dari itu, ia membuat standar ketat untuk menjaga konsistensi warna dan kualitas lukisan.
“Kami bahkan mencatat takaran warna untuk setiap adukan cat agar setiap produk tetap memiliki keseragaman visual,” tegasnya.
Barulah pada tahun 2014 hingga 2015, Eni mulai berani mengikuti pameran-pameran. Titik balik terjadi saat ia mengikuti INACRAFT tahun 2015. Untuk itu, ia menggelontorkan dana Rp50 juta, yang diambil dari pencairan premi asuransi jiwanya sejak pertama kali bekerja. Sebuah keputusan besar yang ternyata membawa dampak signifikan pada eksistensi Wastraloka di dunia craft Indonesia.
Advertisement
Menguatkan Identitas Lewat Produk dan Cerita
Produk Wastraloka memiliki karakter kuat, yaitu perpaduan antara fungsi, estetika, dan cerita budaya. Dengan bahan-bahan seperti kayu, rotan, dan kaleng daur ulang, Wastraloka menciptakan produk-produk seperti kaleng kerupuk, teko, baki, hingga tumbler. Semua produknya dihias dengan motif batik lawasan yang digambar tangan.
Setiap motif yang digarap memiliki tema tersendiri, mengikuti momen atau tren tahunan seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru, hingga Imlek. Bahkan beberapa perusahaan memesan produk custom sesuai identitas brand mereka.
“Kami biasa buat edisi tematik, supaya batik bisa tetap relevan di berbagai momen,” ujar Eni.
Tak hanya unggul dari sisi estetika, produk Wastraloka juga telah memenuhi standar keamanan. Cat yang digunakan sudah bersertifikasi food grade, serta kayu bersertifikasi legalitas dan ramah lingkungan. Beberapa desain bahkan telah didaftarkan ke HAKI sebagai bentuk perlindungan kekayaan intelektual.
Untuk menjaga orisinalitas, Eni memastikan bahwa desain yang dibuat tetap mengangkat unsur budaya Indonesia, termasuk doodle khas Jogja seperti Tugu Yogyakarta. Produk tidak hanya dijual, tapi juga membawa pesan budaya yang bisa dinikmati oleh siapa saja, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Perawatan produknya pun cukup mudah. Karena sebagian besar difungsikan sebagai dekorasi, jadi cukup dilap atau dicuci ringan dengan spons halus jika kotor. Finishing cat yang aman menjamin produk tidak mudah mengelupas atau rusak.
Advertisement
Dari Klaten ke Dunia: Wastraloka Berhasil Tembus Pasar Global
Wastraloka kini tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Amerika Serikat. Sekitar 20 persen dari total pasar Wastraloka saat ini merupakan pasar luar negeri. Tumbler dan rantang menjadi produk ekspor favorit karena ringan, unik, dan mudah dikirim.
Ekspansi global ini banyak dibantu oleh pameran luar negeri dan program pemberdayaan UMKM seperti yang dimiliki oleh Bank BRI. Di Jepang, proses masuk pasar bisa memakan waktu hingga satu tahun. Prosesnya mulai dari business matching, verifikasi kualitas produk, hingga uji sertifikasi.
“Salah satu buyer kami dari Jepang akhirnya repeat order setelah berkenalan lewat pameran dan melihat langsung produk kami,” ungkap Eni.
Wastraloka berusaha mempertahankan nama brand dalam setiap ekspornya. Bahkan di Amerika, produk tetap dijual dengan nama Wastraloka, karena dianggap lebih autentik dan eksotik oleh diaspora Indonesia yang memiliki toko besar di Texas.
Untuk minimum order ekspor berkisar Rp100 juta, dengan jumlah produk antara 300 hingga 500 unit. Setiap bulan, Wastraloka memproduksi rata-rata 500 unit untuk memenuhi kebutuhan outlet di Jakarta, Bali, dan Jogja, serta pesanan reseller.
Harga produk Wastraloka berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung jenis dan kompleksitas desain. Produk signature seperti kaleng kerupuk dan set teko menjadi favorit karena punya nilai artistik tinggi sekaligus fungsi yang nyata.
Strategi branding yang konsisten menjadi kekuatan Wastraloka. Meskipun kompetitor mulai bermunculan, Eni yakin bahwa kekuatan motif, filosofi batik, dan teknik handmade tetap menjadi pembeda utama.
“Orang bisa meniru gambar kami, tapi belum tentu bisa meniru presisi dan jiwa produknya,” tegasnya.
Wastraloka Tumbuh Bersama Bank BRI
Sejak tahun 2019, Wastraloka resmi menjadi binaan Rumah BUMN Yogyakarta yang dikelola oleh Bank BRI. Setelah dua tahun berdiri, dari sinilah banyak pintu terbuka—mulai dari pelatihan manajemen, perpajakan, hingga pengurusan HAKI. Bahkan merek Wastraloka dan desain-desain batiknya kini telah terdaftar secara resmi.
Di tahun 2020, Wastraloka terpilih sebagai salah satu dari 10 UMKM terbaik dalam ajang BRILianpreneur yang digelar BRI secara nasional. Sejak saat itu, Eni terus diajak oleh BRI untuk mengikuti berbagai pameran dan showcase, baik nasional maupun internasional.
“BRI membantu kami menjaga jaringan dan memperluas pasar. Bahkan hingga sekarang, kami dipercaya menyediakan merchandise untuk nasabah-nasabah BRI,” jelasnya.
Pameran-pameran ini juga menjadi tempat bertemunya Wastraloka dengan buyer dari berbagai negara.
Tak hanya dari segi promosi, Wastraloka juga pernah memanfaatkan fasilitas KUR dari BRI saat Eni masih bekerja kantoran. Kini, hubungan itu berlanjut dalam bentuk kemitraan strategis, di mana BRI menjadi mitra tetap dalam pengembangan dan ekspor produk.
Produk Wastraloka pernah dipamerkan di Belanda, China, dan Taiwan atas dukungan BRI. Bahkan di ajang BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di ICE BSD lalu, mereka berhasil mencuri perhatian hingga mendapatkan buyer dari China dan menjual habis produk unggulan seperti tumbler hanya di hari pertama.
Advertisement
Bank BRI Hadir untuk Bantu Pelaku UMKM Lokal ke Pasar Global
Bank BRI berkomitmen untuk memberikan akses pembiayaan serta memberikan berbagai program dukungan serta pemberdayaan kepada UMKM. BRI membantu UMKM dalam melakukan branding dan pemasaran, termasuk melalui partisipasi dalam pameran internasional.
BRI tidak hanya aktif menggalang dana, namun juga menghadirkan berbagai program pemberdayaan bagi pelaku UMKM. BRI senantiasa berkomitmen mendukung UMKM semakin maju dan naik kelas melalui empat program pemberdayaan unggulan.
Mengutip Instagram BRI Regional Yogyakarta, ada empat program pemberdayaan BRI yang bertujuan untuk membawa UMKM mendunia antara lain; Rumah BUMN, Growpreneur, BRIncubator dan Pengusaha Muda BRILiaN. Semua program ini bertujuan untuk memperkenalkan UMKM Indonesia ke seluruh dunia.
Rumah BUMN merupakan sebuah langkah kolaborasi BUMN dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas UMKM yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN sejak 2016. Di Jogja, Rumah BUMN berkolaborasi dengan Bank BRI untuk memberdayakan UMKM melalui berbagai pelatihan hingga pembinaan. Peran Rumah BUMN antara lain sebagai wadah pengembangan UMKM, tanggung jawab sosial lingkungan (Satgas Bencana), program Kredit Usaha Rakyat (KUR), co-working space hingga jadi basecamp millenials.
Sejak pertama kali didirikan pada 2017, sudah tersebar sebanyak 54 Rumah BUMN milik BRI di seluruh Indonesia. Mengutip situs Rumah BUMN, ada 444.617 pelaku UMKM binaan yang terdaftar dengan 15.604 jumlah pelatihan yang sudah terlaksana.
Pada 12 Januari 2017, Rumah BUMN juga hadir di Yogyakarta yang dikenal dengan RuBY. Ada 15.368 UMKM yang terdaftar dengan 1.660 pelatihan yang sudah terlaksana di RuBY.
“Per Agustus 2024 kemarin, ada sekitar 400-500 peserta UMKM yang baru bergabung,” kata Bagaskara Priyambodo, Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBY), Rabu (12/3/2025).
Adapun sektor yang dibina oleh Rumah BUMN BRI Yogyakarta adalah fashion, food and beverages, accessories & beauty, home décor & craft. RuBY terus mengembangkan program pelatihan agar pelaku UMKM semakin berkembang.
Setelah bergabung di Rumah BUMN, pelaku usaha akan diajak untuk mengikuti pameran produk di Brilianpreneur. Sejak tahun 2019, Brilianpreneur sudah menjadi acara tahunan yang diselenggarakan BRI.
Brilianpreneur jadi salah satu event yang paling ditunggu oleh pelaku UMKM se-Indonesia. Pasalnya, Brilianpreneur memiliki tujuan untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan pembeli atau buyer internasional agar bisa ekspor produk.
Rumah BUMN dan BRI Brilianpreneur adalah dua program yang berbeda namun saling mendukung dalam pengembangan UMKM di Indonesia yang diinisiasi oleh Bank BRI. Dengan adanya program ini, BRI berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan UMKM di Indonesia, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan daya saing UMKM di tingkat global.
“Nah, BRI UMKM EXPO(RT) itu ialah kategori Brilianpreneur yang menjadi puncak kegiatan dan acaranya. Dari semua program bisa mengikuti seleksi untuk mengikuti kegiatan Brilianpreneur,” kata Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta (RuBY), Rabu (12/3/2025).
Advertisement
Pemberdayaan yang Menjadi Jiwa dari Wastraloka
Di balik kesuksesan Wastraloka, terdapat sistem pemberdayaan masyarakat lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari misi keberlanjutan bisnis. Saat ini, Wastraloka memberdayakan sekitar 40 orang yang terdiri dari karyawan tetap, pelukis lepas, dan perajin media.
Sebagian besar pelukis adalah lulusan SMA yang kini bisa meraih pendapatan hingga lebih dari UMR untuk per bulannya. Mereka mengerjakan lukisan di rumah, sementara perajin pembuat media seperti kaleng bekerja secara terpisah dengan tetap mematuhi standar desain dan ukuran dari Wastraloka.
Kegiatan ini bukan hanya membuka lapangan pekerjaan, tapi juga membentuk komunitas produktif yang ikut menjaga kualitas dan kelestarian budaya melalui karya seni.
“Kalau tidak ada pesanan, kami tetap bikin stok supaya mereka tetap bisa bekerja,” ujar Eni.
Dengan pendekatan ini, Wastraloka tidak hanya menciptakan produk, tapi juga sistem sosial yang hidup—berbasis budaya, seni, dan keberlanjutan. Inilah yang membuat brand ini tidak hanya berkelas secara komersial, tapi juga bermakna secara kultural.
Selain menjual, Eni juga mulai aktif berbagi sebagai pembicara dalam berbagai acara UMKM dan wirausaha. Ia berharap perjalanan Wastraloka bisa menginspirasi banyak pelaku usaha kreatif untuk mengangkat budaya Indonesia dengan cara yang inovatif dan bertanggung jawab.