Menguak Sosok Haji Wura-Wari, Biang Kekacauan di Pulau Jawa Era Mataram Hindu

Sebuah situs bersejarah ditemukan di Desa Ngloram, Blora. Diduga kuat keberadaan situs itu terkait dengan sosok Haji Wura-Wari.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Menguak Sosok Haji Wura-Wari, Biang Kekacauan di Pulau Jawa Era Mataram Hindu
Situs Haji Wura Wari (Blorakab.go.id)

Sebuah situs sejarah berada di sebuah lahan kosong pemukiman penduduk di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora. Oleh masyarakat setempat, situs dengan luas 100x100 meter itu disebut sebagai Punden Nglinggo.

Dikutip dari Blorakab.go.id, di tengah situs itu terdapat tumpukan batu yang berundak. Di sana terdapat makam yang tak diketahui pemiliknya. Di bawahnya terdapat tumpukan bata yang membatasi punden dengan bidang kosong. Di sebelah kiri agak ke bawah terdapat gundukan bata yang disebut dengan Punden Ngloram.

Dikutip dari Goodnewsfromindonesia, keberadaan situs ini memperkuat isi Prasasti Pucangan dari tahun 963 Saka atau 1041/1042 Masehi. Dalam prasasti itu disebutkan sosok Haji Wura-Wari yang berasal dari Desa Ngloram.

Siapakah sosok Haji Wura-Wari sebenarnya? Berikut selengkapnya:

Sosok Haji Wura Wari

Situs Haji Wura Wari
Situs Haji Wura Wari Goodnewsfromindonesia.id

Arkeolog Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, menjelaskan bahwa sosok Haji Wura-Wari adalah penguasa bawahan yang pada tahun 1017 Masehi menyerang Kerajaan Mataram Hindu. Ia disebut merupakan raja dari Kerajaan Lwaram, sebuah kerajaan kecil di dekat Kerajaan Medang atau Mataram Hindu, yang bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya memanfaatkan persekutuannya dengan Kerajaan Lwaram untuk menyerang Medang yang waktu itu berpusat di sekitar daerah Maospati, Madiun. Haji Wura-Wari menyerang Medang saat kerajaan itu tengah menggelar pesta pernikahan anaknya, Dewi Galuh Sekar Kedhaton dengan Airlangga, putra Raja Udayana dari Bali.

Penyerangan itu menyebabkan tewasnya Raja Dharmawangsa dan seluruh anggota kerajaan. Selain mendapat perintah dari Kerajaan Sriwijaya, alasan Haji Wura-Wari menyerang Medang disebabkan dendam karena lamarannya terhadap putri Raja Dharmawangsa ditolak. Kematian Raja Dharmawangsa sebagai penguasa Medang sempat menyebabkan kekacauan di seantero Pulau Jawa.

Serangan Balik

Situs Haji Wura Wari
Situs Haji Wura Wari Blorakab.go.id

Airlangga selamat dalam peristiwa itu. Ia kemudian menyiapkan serangan balik terhadap Raja Wura Wari. Serangan itu terbukti sukses sehingga ia menjadi penguasa Medang. Setelah berhasil meredakan kekacauan, Airlangga memindahkan ibu kota Kerajaan Medang ke Kahuripan. Di sana ia membagi Kerajaan Medang menjadi dua, yaitu Jenggala dan Panjalu.

“Semula saya ragu ada temuan penting di Ngloram. Tetapi temuan arkeologis ini sangat meyakinkan bahwa di sini merupakan lokasi Keraton Wura-Wari dan pemukiman cukup padat pada saat itu,” kata Dwi Cahyono dikutip dari website Goodnewsfromindonesia.

Makam Keramat

Kebanyakan warga Desa Ngloram sendiri tidak paham dengan sejarah bangunan tersebut. Masyarakat hanya mengenal tumpukan batu itu sebagai makam keramat. Setiap tiga kali dalam setahun digelar acara sedekah bumi di tempat itu. Warga sendiri menjadikan tempat itu makam keramat karena ditemukan serpihan tulang-belulang di sana.

Dikutip dari Blorakab.go.id, dari hasil analisis toponim atau nama tempat, kemungkinan nama Kerajaan Lwaram seiring waktu berubah menjadi Ngloram, dan menjadi cikal bakal Desa Ngloram saat ini.

Rekomendasi