Khutbah Jumat adalah salah satu kegiatan ibadah dalam agama Islam yang dilakukan setiap hari Jumat di masjid-masjid. Khutbah Jumat dilakukan oleh seorang imam atau khatib yang bertindak sebagai pemimpin ibadah dalam rangkaian salat Jumat. Khutbah biasanya berupa ceramah yang isinya berkaitan dengan ajaran agama Islam.
Tujuan dilakukan khutbah Jumat tidak lain sebagai sarana untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah. Selain itu, Khutbah Jumat juga menjadi ajang untuk mengingatkan umat Muslim tentang pentingnya memperbaiki akhlak dan perilaku serta menghindari perbuatan yang dilarang oleh agama Islam.
Tema atau topik yang diangkat dalam khutbah Jumat bisa beragam. Salah satu topik yang menarik untuk dibahas adalah manfaat istighfar. Di mana istighfar adalah salah satu amalan ringan yang memberikan banyak berkah kebaikan. Membaca istigfar bukan hanya menghapus dosa-dosa, tetapi juga dapat memberikan ketenangan hati, membuka rezeki, hingga memudahkan segala urusan.
Bagi yang sedang mencari rekomendasi topik untuk khutbah Jumat, terdapat beberapa contoh khutbah Jumat tentang manfaat istigfar yang bisa menjadi pilihan Anda. Dengan beberapa contoh ini, Anda masih bisa mengembangkan materi khutbah sehingga lebih lengkap dan penuh pelajaran. Dari berbagai sumber, berikut beberapa contoh khutbah Jumat tentang manfaat istighfar, bisa menjadi inspirasi.
Advertisement
Contoh Khutbah Jumat Tentang Manfaat Istighfar: Hakikat Istighfar
Berikut contoh khutbah Jumat tentang manfaat istighfar yang befokus pada hakikat istighfar bisa disimak:
Tidak diragukan bahwasanya segala kesulitan dan segala kesedihan yang dirasakan oleh seorang muslim, tidak lain adalah akibat dari dosa yang dia lakukan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura : 30)
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”
Ini dalil bahwasanya segala yang menimpa seorang muslim, baik itu kesedihan tentang masa lalu, keletihan, kehawatiran tentang masa depan, hati yang tidak tenang, semua adalah karena dosa-dosa yang dilakukan. Oleh karenanya tidak ada kesulitan yang kita hadapi di dunia, terlebih kesulitan yang akan dihadapi di akhirat, kecuali akibat dosa yang kita lakukan.
Dari sini kita sadar bahwasanaya di antara zikir yang sangat agung adalah zikir istighfar. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.”
Orang yang banyak beristighfar kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang beruntung, di dunia maupun di akhirat. Karena orang yang beristighfar, akan dikurangi dosa-dosanya (diampuni) oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan dengan istighfar dia akan mendapati banyak kemudahan di dunia dan di akhirat.
Apa makna istighfar? الإستغفار (Al-Istighfar) diambil dari kata إستغفرا (Istaghfara) yang berarti memohon kepada Allah maghfirah (ampunan). Adapun kata المغفره (Al-Maghfirah) diambil dari kata مغفر (Mighfar) yang dalam Bahasa Arab berarti sebuah penutup kepala yang dipakai oleh seorang prajurit dalam peperangan. Tidaklah dikatakan penutup kepala dengan mighfar, kecuali telah memenuhi dua persyaratan; pertama adalah fungsi menutup kepala; dan kedua adalah fungsi menutupi kepala dari hantaman pedang. Oleh karenanya Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwasanya sorban dan kopiah tidak dikatakan sebagai mighfar, karena fungsi keduanya hanya menutupi dan tidak bisa melindungi.
Maka dari sini kita tahu bahwasanya Al-Istighfar artinya kita meminta maghfirah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan meminta meghfirah ada dua makna,
Pertama, yaitu kita meminta agar Allah menutup aib-aib kita di dunia dan di akhirat. Sungguh merugi orang yang dibongkar aibnya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia. Orang-orang akan meninggalkannya, menghinakannya, dan menjatuhkannya ketika aibnya terbongkar di dunia. Dan terlebih mengerikan lagi jika aib itu terbongkar di akhirat kelak, di hadapan khalayak banyak, maka sungguh itu adalah tanda kebinasaan. Maka seseorang tatkala beristighfar, maka bermakna bahwa dia meminta untuk ditutupkan aib dan dosa-dosanya dari hadapan manusia.
Kedua, yaitu kita meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar dosa-dosa kita tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi diri kita. Sesungguhnya tidak satu dosa pun kecuali pasti menimbulkan dampak. Dan dampak yang paling minimal dari dosa ada membuat hati kita menjadi hitam. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Apabila eorang hamba melakukan suatu dosa, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya.”
Semakin banyak dosa yang dilakukan, maka akan semakin membuat hati semakin hitam, sehingga semakin mudah terpengaruh syahwat dan syubhat. Oleh karenanya ini adalah dampak minimal daripada dosa. Belum lagi dengan dampak-dampak yang lain berupa kegelisahan, kehawatiran, kesedihan, dan gangguan orang lain. Ini semua adalah dampak dari dosa-dosa. Oleh karenanya tatkala seseorang beristighfar, maka maknanya adalah dia meminta dijauhkan dari dampak dosa-dosa yang dilakukan.
Khutbah Kedua
Istighfar, jika disebut sendirian, maka maknanya adalah menutup dosa-dosa, menghilangkan dampak dari dosa, dan memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya jika istighfar disebut secar sendirian, maka maknanya sama dengan taubat. Demikian pula jika taubat disebut sendirian maka maknanya sama dengan istighfar. Akan tetapi jika istighfar digabung dengan taubat, sebagaimana dalam beberapa lafal di antaranya,Maka taubat kedudukannya menjadi lebih tinggi daripada istighfar. Oleh karenanya di dalam Alquran disebutkan,
“Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya.” (QS. Hud : 52)
Ayat ini menggambarkan bahwa kedudukan taubat seakan-akan lebih tinggi daripada istighfar.
Lalu apa bedanya istighfar dan taubat jika digabungkan? Taubat melazimkan seseorang meninggalkan dan berhenti dari maksiat. Adapun istighfar, bisa jadi seseorang mengucapkannya sementara dia masih melakukan suatu maksiat. Ini menunjukkan bahwa apakah sesorang mampu meninggalkan dosa-dosanya atau tidak, tetap dia harus beristighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Oleh karenanya di antara dzikir pagi dan petang, seseorang berdoa dengan berkata,
“Dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampuni aku.”
Ada seseorang yang terjebak dalam dosa dan tidak mampu untuk meninggalkannya. Maka seharusnya dia tidak berputus asa dalam beristighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sampai dia mencapai derajat taubat, yaitu smapai dia bisa meninggalkan dosa tersebut. Oleh karenanya di antara dzikir yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah,
Dan kata وَتُبْ عَلَيَّ bisa bermakna dua hal, pertama bahwa jika seseorang belum bertaubat, maka dia meminta di anugerahkan taubat; kedua, jika seseorang telah berhenti dari maksiat, maka dia meminta untuk diterima taubatnya.
Ma’asyiral Muslimin,
Jika seseorang telah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, kemudian dia beristighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan Allah Subhanahu wa ta’ala menerima taubat dan mengampuni dosa-dosanya, maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala akan kembali mencintainya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala murka kepada seseorang yang melakukan maksiat, akan tetapi jika dia kembali dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan kembali mencintainya. Sungguh tidak benar pernyataan sebagian orang bahwa jika salah seorang telah berdosa, meskipun Allah mengampuninya, Allah tidak lagi mencintainya. Sesungguhnya pernyataan ini telah dibantah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya,
“Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih (mencintai).” (QS. Al-Buruj : 14)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata bahwa pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menggabungkan dua namanya yaitu Al-Ghafur dan Al-Wadud, artinya jika seseorang bermaksiat lantas dia kembali kepada Allah dan bertaubat, ketika taubatnya telah diterima maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan kembali mencintainya, karena Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-hambaNya yang kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Advertisement
Contoh Khutbah Jumat Tentang Manfaat Istighfar: Keistimewaan Istighfar
Berikut contoh khutbah Jumat tentang manfaat istighfar yang berfokus pada keistimewaan istighfar bisa Anda simak:
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada hari yang mulia ini, pada hari Jumat, tiada kata yang patut kita ucapkan melainkan rasa syukur kepada Allah Subhānahū wa Ta’ālā yang telah melimpahkan rahmat dan karunia, sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini dengan penuh keridhaan-Nya.
Jemaah Salat Jumat yang Berbahagia
Tidak lupa pula shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah-tercurah kepada baginda nabi Muhammad SAW yang merupakan contoh terbaik dalam menampilkan sikap syukur dan sabar. Kalaulah tidak dengan kesabaran dan kegigihan beliau dalam memperjuangkan agama Allah ini, sudah barang tentu kita tidak bisa mengecap indah dan lezatnya nikmat Iman dan Islam.
Jemaah Salat Jumat yang Berbahagia
Dalam Islam, salah satu cara yang biasanya dilakukan oleh seseorang ketika melakukan kesalahan adalah membaca istighfar, yaitu memohon ampunan kepada Allah swt atas kesalahan yang telah dilakukannnya.
Kata istighfar berasal dari kata غفر (ghofaro yaghfiru) yang bermakna mengampuni atau memaafkan. Di dalam kamus Al-Munawwir Istighfar diartikan (4 artian) yaitu mengampuni, menutupi, memperbaiki, dan mendoakan. Kemudian menurut Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitabnya Mufradat li Alfadh Alquran, istighfar adalah meminta ampun kepada Allah Swt dari segi ucapan dan juga perbuatan.
Istighfar dapat berarti memohon ampunan, bertaubat atas perbuatan buruk yang telah dilakukan. Sebagai hamba, karena manusia sangat membutuhkan ampunan Allah, sehingga sangat dianjurkan untuk beristighfar. Karena beristighfar dapat dilakukan di manapun dan kapanpun setiap waktu. Kecuali pada tempat-tempat yang dilarang oleh syatiat.
Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. “Telah menceritakan pada kami Yahya ibn Yahya dan Qutaibah ibn Sa’id dan Abu ar-Rabi’ al-‘Atakiy, seluruhnya dari Hammad. Yahya berkata: telah menceritakan pada kami Hammad ibn Zaid dari Tsabit dari Abi Burdah. Dari al-‘Aghari al-Muzabiy, mereka semua adalah para sahabat, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya istighfar itu selalu meliputi hatiku dan sungguh aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari sebanyak seratus kali” [HR. Muslim].
Jemaah Salat Jumat yang Berbahagia
Rasulullah saw saja yang kedudukannya jelas di sisi Allah mutlak masuk surga. Masih beristighfar 100 kali dalam sehari, apalagi kita orang biasa yang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, khotib ingat kisah antara Imam Ahmad Bin Hambal dengan Penjual Roti.
Jemaah Salat Jumat yang Berbahagia
Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid dari Imam Syafi’I yang dikenal juga sebagai Imam Hanbali.
Di usia tua, ia bercerita, suatu waktu tanpa tahu alasannya tiba-tiba ingin ke kota di Irak. Padahal tidak ada janji ataupun hajat di sana.
Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah, Irak. Ia bercerita saat tiba di sana waktu Isya, kemudian ikut shalat berjamaah Isya di masjid. Hatinya terasa tenang, kemudian istirahat di masjid.
Begitu selesai salat dan jemaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid. Tiba-tiba marbut masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, “Mengapa syekh (panggilan untuk orang tua), mau apa di sini?”
Marbut tidak tahu kalau yang ditegurnya adalah Imam Ahmad. Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan dirinya. Di Irak semua orang kenal Imam Ahmad sebagai seorang ulama besar dan ahli hadits. Sosok ulama yang sangat saleh dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, hanya tahu namanya sudah terkenal.
Imam Ahmad menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.” Marbut berkata, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”
Imam Ahmad melanjutkan ceritanya, “(Di masjid itu) saya didorong-dorong oleh orang (marbut) itu, disuruh keluar dari masjid, setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid.”
Setelah diusir dari dalam masjid, Imam Ahmad ingin tidur di teras masjid. Ketika sudah berbaring di teras masjid, marbutnya datang lagi dan marah-marah kepada Imam Ahmad.
Marbut itu mengatakan, “Mau apa lagi syekh?” Imam Ahmad menjawab, “mau tidur, saya musafir.” Marbut masjid menimpali, “di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh.”
Setelah itu Imam Ahmad diusir bahkan didorong dari teras masjid sampai ke jalanan.
Di samping masjid ada penjual roti yang rumahnya kecil, di rumah itu ia membuat dan menjual roti. Penjual roti itu sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbut ke jalan.
Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh dan mengajaknya menginap di rumahnya. Imam Ahmad bersedia dengan ajak menginap itu.
Imam Ahmad masuk ke rumah penjual roti, duduk di belakangnya yang sedang membuat roti. Imam Ahmad masih tidak memperkenalkan dirinya, ia layaknya seorang musafir.
Penjual roti ini perilakunya lain daripada umumnya, kalau Imam Ahmad tidak mengajak berbicara, ia terus membuat adonan roti sambil membaca istighfar. Kalau diajak bicara baru menjawab seperlunya.
Saat meletakkan garam membaca Astaghfirullah, memecahkan telur membaca Astaghfirullah, mencampur gandum membaca Aastaghfirullah. Ia selalu mengucap istighfar.
Imam Ahmad memperhatikan terus, lalu bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini (membaca istighfar setiap saat)?” Penjual roti menjawab, “Sudah lama sekali syekh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan ini.”
Imam Ahmad bertanya lagi, “Apa hasil dari perbuatanmu ini?” Penjual roti menjawab, “Hajat yang saya minta pasti dikabulkan Allah, semua yang saya minta kepada Allah langsung diterima.”
Penjual roti menambahkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.” Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, “Apa itu?”
Penjual roti menjawab, “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”
Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir. Kemudian berkata, “Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad ke Bashrah, bahkan sampai didorong-dorong marbut masjid itu sampai ke jalanan karena istighfar yang kamu lakukan.”
Khutbah Jumat kedua
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di khutbah yang kedua ini Khotib berpesan kepada para jama’ah sekalian dan terkusus untuk diri khotib pribadi. Mari kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Mari kita laksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasullnya dan mari kita tinggalkan apa yang dilarang oleh Allah Swt dan Rasullnya.
Sahabat Abu Hurairah Radhiyaallahu ‘Anhu mengilustarikan makna takwa dengan permisalan berhati-hati dalam menjalan hidup. ”Pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan itu penuh dengan duri? Bagaimana tindakanmu untuk melewatinya?” Orang itu menjawab, ”Apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur.” Abu Hurairah cepat berkata, ”Itulah dia takwa!” (HR Ibnu Abi Dunya).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Oleh karena itu khotib berpesan kepada seluruh jama’ah sekalian, supaya untuk memperbanyak istighfar kepada Allah Swt. Dimana pun dan kapan pun berada.
Advertisement
Contoh Khutbah Jumat Tentang Manfaat Istighfar: Keutamaan dan Rahasia Istigfar
Berikut contoh khutbah Jumat tentang manfaat istighfar yang befokus pada keutamaan dan rahasia istighfar bisa disimak:
Ma’asyiral Muslimin wa Jumratul mu’minin rahimakumullah
Istighfar merupakan salah satu cara sekaligus solusi yang diajarkan Islam untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan sekaligus hal yang paling dibutuhkan saat ini.
Kita butuh istighfar karena saat-saat ini banyaknya ujian, fitnah, dan musibah. Kita sangat butuh istighfar atas dosa-dosa dan kemaksiatan yang telah kita lakukan. Sebagaimana kita sangat butuh beristighfar di hari-hari di mana langit sudah sangat jarang membasahi bumi tempat kita tempati.
Tidak ada seorang pun yang mampu memaksa langit untuk menurunkan hujan meski betapa kuatnya dia. Hanya istighfar lah yang mampu menjadi solusi. Hal ini sebagaimana nasihat dan pesan Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya,
Artinya; maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)
Barang siapa yang ingin hujan, maka istighfar dapat menjadi sebab turunnya hujan dari langit. Barang siapa yang ingin kaya, maka istighfar adalah jawabannya. Barang siapa yang ingin punya keturunan, maka istighfar adalah solusinya.
Barang siapa yang menginginkan surga, keridhaan, dan limpahan nikmat Rabbnya, maka istighfar adalah sebab dan wasilahnya.
Potret Keutamaan Istighfar dalam Kehidupan Ulama Salaf
Jemaah Salat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala
Banyak kisah dan riwayat yang menjelaskan dan merekam rahasia dan keutamaan istighfar. Semua terekam dan dicatat dalam lintasan hari-hari sejarah umat Islam.
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama ungkapan kesepakatan para ahli sejarah bahwa at-tārīkh yu’īdu nafsahu, sejarah itu akan mengulang dirinya. Pilihan ada di tangan kita, semoga kita termasuk yang mencontoh kebaikan-kebaikan para pendahulu kita yang mulia.
Potret keutamaan istighfar dapat kita jumpai dalam kisah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Pada masa kepemimpinannya, kaum muslimin ditimpa kekeringan dan masa paceklik. Beliau keluar ke tanah lapang. Beliau hanya beristighfar, dan hal itu diketahui oleh orang banyak. Mereka heran dan bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, kenapa kami tidak melihatmu meminta hujan?”
Lantas beliau menjawab, “Sungguh aku telah meminta hujan dengan kemuliaan langit yang dengannya hujan turun!” sambil melantukan ayat al-Quran surat Nuh ayat 10-12 yang tadi kita simak bersama.
Qadarullah wa subhanallah wallahu Akbar! Apa yang diminta dan diharapkan oleh mereka menjadi kenyataan.
Kisah tentang keutamaan istighfar juga kita jumpai dalam kehidupan Hasan Al-Bashri. Satu ketika pernah datang kepada Hasan al-Bashri seseorang yang mengadukan masalah hama tanaman dan kekeringan, beliau hanya menjawab, “Beristighfarlah kamu!”
Saat orang yang lainnya mengadukan masalah kefakirannya, jawaban Hasan Al-Bashri pun tetap sama, “Beristighfarlah kamu!”
Kemudian datang orang ketiga mengadu kepadanya tentang anaknya yang sedikit, jawaban beliau tetap, “Beristighfarlah kamu!”
Orang-orang yang mengetahui sikap dan jawaban Hasan Al-Bashri terheran-heran lantas bertanya kepadanya, “Kenapa jawabanmu untuk solusi semua masalah hanya istighfar?”
Beliau menjawab, “Itu bukan jawaban dan solusi dariku, aku hanya menjawab sesuai firman Rabbku.” Sembari membaca surat Nuh ayat 10-12.
Betapa mulianya istighfar, alangkah indah dan baiknya lisan-lisan yang berkilau dan bersinar karena cahaya istighfar tanpa kenal malas, lalai, dan bosan.
Dan yang paling baik dari itu semua jika istighfar bisa menjadi syiar dan untaian yang senantiasa menghiasi setiap detik hidup dan tempat kita.
Dapat kita baca dan lihat tidak hanya melalui lisan, bahkan tertulis di dinding-dinding, plang-plang setiap sudut jalan dan ruangan kita, di sekolah-sekolah, dan perkantoran. Mari kita isi waktu-waktu penantian dan menunggu kita dalam hidup ini dengan senantiasa beristighfar kepada Allah subhanahu wata’ala!
Kaum Muslimin sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Jika kita mengisi waktu kita dengan istighfar, sama artinya kita mengisi lembaran-lembaran catatan amal kita dengan kebaikan-kebaikan, yang dengannya derajat kita bertambah mulia di sisi-Nya.
Setan pun lari dan tidak akan mampu menggoda kita. Sebagaimana yang disampaikan baginda Nabi dalam hadis shahihnya, “Sesungguhnya setan berkata, demi kemulian-Mu, ya Rabb aku tidak akan berhenti menggoda hamba-hamba-Mu selama arwah masih berada di jasad mereka, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Demi kemulian dan kebesaran-Ku akan aku ampuni hamba-hamba-Ku selama mereka beristighfar kepada-Ku.” (HR. Ahmad no. 11327)
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala senantiasa mengingatkan kita untuk memohon ampun atas kesalahan dan dosa dalam banyak ayat-ayat-Nya.
“Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat).” (QS. Hud: 3)
Dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wata’ala juga berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian senantiasa berbuat kesalahan di siang dan malam hari, namun Aku mengampuni dosa-dosa kalian semua, maka meminta ampunlah kepada-Ku, pasti akan Aku ampuni!” (HR. Muslim no. 2577)
Syarat Istighfar Agar Diterima Oleh Allah
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Istighfar merupakan bagian dari doa. Maka, agar istighfar kita berfaidah ibarat doa mustajab, maka ia harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam syariat Islam.
Syarat-syarat tersebut antara lain:
Syarat pertama: Takwa dan bebas dari syirik serta kekufuran.
Istighfar kita harus berbalut takwa dan bebas dari syirik dan kufur, sebagaimana yang Allah firmankan,
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)
Syarat kedua: Makan dan minum yang halal.
Kenapa harus makan dan minum yang halal? karena makanan dan minuman yang haram merupakan penghalang dikabulkannya doa hamba.
Syarat ketiga: Yakin Allah akan mengabulkan doa dan permitaan.
Yakin sepenuhnya bahwa Allah akan mengabulkan doa dan permintaan kita. Sebagaimana pula dijelaskan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. At-Tirmizi No. 3479)
Syarat keempat: Tidak berlebih-lebihan dalam berdoa.
Artinya, kita tidak boleh berdoa yang dilarang, misalkan meminta suatu yang sudah jelas-jelas haram agar dihalalkan atau sebaliknya. Sebagaimana kita dilarang berdoa yang mustahil menyelisihi sunnah kauniyah-Nya. Seperti berdoa agar tidak mati dan lain sebagainya.
Selain syarat-syarat di atas, siapa saja yang ingin berdoa dan beristighfar seyogianya memperhatikan waktu mustajab untuk berdoa (al-auqaat al-mustajabah).
Adapun waktu-waktu tersebut sebagaimana dalam hadis-hadis Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu, saat sujud, dalam barisan jihad, turunnya hujan, saat safar berpergian, sepertiga akhir malam, ketika azan dikumandangkan, imam atau khatib naik mimbar di hari Jumat seperti sekarang ini dan di penghujung sore harinya, juga ketika berbuka puasa dan lain-lain.
Ma’asyiral Muslimin wa Jumratul mu’minin rahimakumullah
Demikianlah materi khutbah Jumat singkat yang dapat khatib sampaikan tentang rahasia dan keutamaan istighfar.
Semoga ada manfaatnya dan Allah jadikan kita dari golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengisi setiap detik dan tarikan nafas hidupnya, lisanan, jasadan wa ruuhan beristighfar kepada-Nya. Wallāhul musta’ān. Allāhumma ‘ainnā ‘alā dzikrika wa husni ‘ibādatika.