Wafatnya Kuntowijoyo 22 Februari 2005, Budayawan Karismatik Asal Yogyakarta

Dalam dunia kesusasteraan, nama Kuntowijoyo tentu sudah tidak asing di telinga. Selain dikenal sebagai sastrawan, Kuntowijoyo juga seorang cendekiawan muslim yang cukup berpengaruh. Banyak sekali buku-bukunya yang sampai saat ini masih menjadi rujukan atau referensi penelitian di bidang budaya.

Jevi Nugraha
Oleh Jevi Nugraha - Reporter
Wafatnya Kuntowijoyo 22 Februari 2005, Budayawan Karismatik Asal Yogyakarta
Kuntowijoyo. wikipedia.org

Dalam dunia kesusasteraan, nama Kuntowijoyo tentu sudah tidak asing di telinga. Selain dikenal sebagai sastrawan, Kuntowijoyo juga seorang cendekiawan muslim yang cukup berpengaruh. Banyak sekali buku-bukunya yang sampai saat ini masih menjadi rujukan atau referensi penelitian di bidang budaya.

Kuntowijoyo lahir pada 18 September 1943 di Bantul, Yogyakarta. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai pengarang berbagai judul novel, cerpen dan puisi, pemikir dan penulis beberapa buku tentang Islam, kolomnis di berbagai media, aktivis berintegritas di Muhammadiyah, dan sangat sering menjadi penceramah di masjid.

Tepat hari ini, 22 Februari pada 2005 silam, budayawan asal Yogyakarta itu mengembuskan napas terakhirnya. Meski telah tiada, namun karya-karyanya seolah tidak terkikis oleh zaman. Tak heran jika Kuntowijoyo dianggap sebagai salah seorang sastrawan besar di Indonesia.
Lantas, seperti apa perjalanan hidup seorang Kuntowijoyo? Berikut ulasannya yang merdeka.com lansir dari Liputan6 dan sumber lainnya:

Mengenal Sosok Kuntowijoyo


Semasa hidupnya, Kuntowijoyo dikenal sebagai orang yang sangat arif dan juga pemikir Islam yang cerdas. Sebagai dosen, meski dalam kondisi sakit, ia tetap mau merelakan waktunya untuk membimbing mahasiswanya.

Minat belajar sejarah Kuntowijoyo sudah terlihat sejak ia masih kecil. Ketika ia masih belajar di madrasah ibtidaiyah, Kunto kecil sangat kagum kepada guru mengajinya, Mustajab, yang pandai menerangkan peristiwa sejarah Islam secara dramatik. Ia merasa seolah-olah ia ikut mengalami peristiwa yang dituturkan sang Ustad tersebut. Sejak saat itu, Kunto pun tertarik dengan sejarah.

Di bangku kuliah, Kunto akrab dengan dunia seni dan teater.  Kunto pernah menjabat sebagai sekretaris Lembaga Kebudayaan Islam (Leksi) dan ketua dari Studi Grup Mantika hingga tahun 1971, sehingga ia berkesempatan bergaul dengan beberapa seniman dan budayawan muda, seperti Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam dan Salim Said.

Kemampuan menulis Kunto diakuinya diasah dengan cara banyak belajar membaca dan menulis sekaligus. Ia kemudian berhasil melahirkan sebuah novel berjudul Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari dan dimuat di Harian Jihad sebagai cerita bersambung.

Karya-karya Kuntowijoyo

Selain menjadi seorang sejarawan dan seniman, Kunto juga seorang kiai. Ia ikut membangun dan membina Pondok Pesantren Budi Mulia pada 1980 dan mendirikan Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta di tahun yang sama. Dia menyatu dengan pondok pesantren yang menempatkan dirinya sebagai seorang kiai.

Sebagai seorang cendekiawan muslim, Kuntowijoyo pernah melahirkan sebuah karya Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru. Bahkan, menurut Prof. Dr. Syafii Maarif, Kunto merupakan sosok pemikir Islam yang sangat berjasa bagi perkembangan Muhammadiyah karena kritiknya cukup pedas tetapi merupakan pemikiran yang sangat mendasar.

Adapun sebagai seorang sastrawan, Kunto juga telah melahirkan karya-karya yang fenomenal. Beberapa karyanya, seperti Kereta yang Berangkat Pagi Hari (1966), Khotbah di Atas Bukit (1976), Hampir Sebuah Subversi (1999), Barda dan Cartas (1972), dan masih banyak lagi.

Pada tanggal 22 Februari 2005, Anak kedua dari sembilan bersaudara ini menghembuskan napasnya yang terakhir akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare, dan ginjal yang diderita setelah beberapa tahun mengalami serangan virus meningo enchephalitis. Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak. Meski telah tiada, tetapi karya-karyanya akan tetap hidup di hati para penggemarnya.

Rekomendasi