Pada Sabtu (12/3) sebuah sumur pengeboran di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng mengalami kebocoran gas. Peristiwa itu menyebabkan sembilan orang diduga keracunan.
Mereka mengalami kejang, sesak napas, dan muntah. Salah satu korban dinyatakan meninggal dunia. Mendengar kejadian itu, tim dari Polres Banjarnegara langsung bergerak menuju lokasi dan sterilisasi.
Sementara para korban langsung dilarikan ke RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Lantas apa penyebab kebocoran gas bumi itu?
Advertisement
Kronologi Keluarnya Gas Beracun
Kapolres Banjarnegara AKBP Hendri Yulianto mengatakan bahwa kecelakaan kerja itu diawali pada saat para pekerja melakukan kegiatan pembersihan sumur pada Sabtu sore (12/3). Pembersihan itu memang dilakukan secara berkala dan memang biasa dilakukan.
Berdasarkan informasi yang ia terima, kegiatan pembersihan itu sudah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang baik. Namun 20 menit setelah pembersihan tersebut, gas beracun tiba-tiba keluar dan mengakibatkan insiden terjadi.
“Akibat kejadian itu korban tak sadarkan diri. Setelah dievakuasi korban dibawa petugas Geo Dipa ke RSUD Wonosobo,” kata Hendri dikutip dari ANTARA pada Minggu (13/3).
Advertisement
Pemutakhiran Data
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Andri Sulistyo mengatakan berdasarkan pemutakhiran data terkini diketahui terdapat tujuh orang terdampak peristiwa tersebut, dengan satu orang di antaranya meninggal dunia.
“Berdasarkan data terbaru, total tujuh orang yang mengalami kecelakaan kerja dan satu meninggal dunia. Sebelumnya berdasarkan informasi awal disebutkan jumlahnya sembilan orang,” ujar Andri.
Advertisement
Imbauan kepada Masyarakat
Atas kejadian ini, AKBP Hendri Yulianto memastikan bahwa kondisi telah aman dan terkendali. Percikan dan gas tak lagi keluar dari dalam sumur. Pihaknya juga telah memasang garis polisi di sumur PAD 28 Geo Dipa yang menjadi lokasi kejadian.
Senada, Andri juga mengimbau masyarakat agar tidak panik karena kondisi benar-benar sudah terkendali.
“Masyarakat agar tidak mudah percaya berita yang belum jelas kebenarannya atau disinformasi atau hoaks. Cari info dari sumber-sumber yang terpercaya,” pungkas Andri.