Di salah satu sudut jalan trotoar Bumijo Jogja, ada satu tempat penjual jajanan pasar yang hampir selalu dikelilingi pembeli. Penjual jajanan itu bernama Mbah Satinem. Walaupun tak ada papan nama khusus di lapak milik perempuan 75 tahun itu, namun para pembeli sudah memadati tempat itu bahkan sebelum Mbah Satinem datang.
Bahkan untuk memperlancar antrian, Mbah Satinem sudah menyediakan nomor urut dari nomor 1-50. Jika sudah mencapai urutan 50, urutannya akan kembali ke nomor satu lagi.
Saat ditanya mengenai tempat jajanan pasarnya yang selalu dipadati pengunjung, Mbah Satinem mengaku kalau dulu jajanan pasarnya sempat diliput oleh stasiun televisi Netflix. Jajanan pasarnya pun sempat didatangi orang-orang besar seperti Presiden Soeharto sampai aktor terkenal Korea, Lee Seung-gi.
Berikut ini adalah kisah Mbah Satinem dan Lupis-nya:
Advertisement
Sudah Berjualan Selama 58 Tahun
Biasanya, Mbah Satinem berjualan di Jl. Bumijo No.50, Gowongan, Yogyakarta, atau tepatnya sekitar 500 meter di sebelah barat Tugu Jogja. Di sana, Mbah Satinem duduk dengan dingklik mungilnya sambil menggelar dagangan seperti lupis dan jajanan pasar lainnya.
Dilansir dari Merdeka.com, Mbah Satinem mengaku sudah berjualan jajanan pasar sejak tahun 1963. Resep lupis yang ia buat merupakan warisan turun temurun dari ibunya.
Dulunya, Mbah Satinem berjualan keliling pasar dengan menggendong dagangannya hingga akhirnya ia memilih lokasi itu sebagai tempatnya menetap saat berdagang.
Advertisement
Terkenal hingga Mancanegara
Tak hanya di kalangan warga Jogja, jajanan pasar Mbah Satinem juga sudah terkenal hingga mancanegara. Pernah suatu hari dia serta jajanan pasarnya itu diliput untuk keperluan film dokumenter Netflix.
Setelah film itu tayang, makin banyak orang yang mengenal Mbah Satinem dan datang berkunjung untuk menikmati jajanan pasarnya. Salah seorang aktor Korea, Lee Seung Gi juga pernah sengaja datang untuk menikmati makanan yang dijualnya.
Bahkan ketika Presiden Soeharto masih hidup, Ia selalu menyuruh ajudannya untuk membeli kue lupis Mbah Satinem. Hal inilah yang membuat Mbah Satinem merasa bangga.
Advertisement
Resep Dagangan Laris ala Mbah Satinem
Walaupun hanya berjualan dari jam 6 hingga jam 8 pagi, namun biasanya saat pukul 07.30 pagi jajanan pasar Mbah Satinem sudah habis. Bahkan untuk bisa membeli dagangannya, para pembeli sudah antre sejak Mbah Satinem belum datang.
Karena antreannya cukup panjang, Mbah Satinem memakai nomor antrian dari urutan 1 sampai 50. Dengan telaten, Mbah Satinem melayani satu per satu pembelinya sesuai dengan nomor antrean.
Saat ditanya apa resep dagangannya selalu laris, Mbah Satinem mengaku tak ada resep khusus agar jajanannya enak. Ia hanya mempertahankan resep yang telah diwariskan orang tuanya secara turun temurun.
“Resepnya ya itu, asal dagangan kita bersih, enak, pasti laku. Kalau nggak enak ya nggak laku,” kata Mbah Satinem dikutip dari kanal YouTube Jogja Magazine.
Advertisement
Tetap Sederhana
Walaupun sudah terkenal hingga ke mancanegara, Mbah Satinem tetap tidak kehilangan kesederhanaannya. Banyaknya pembeli dari penjuru tak lantas membuatnya menaikkan harga dagangannya.
Tak mau menyebut omzet dari hasilnya menjual jajanan pasar, Mbah Satinem mengaku bersyukur karena hasil jajanannya itu mampu menghidupi tiga orang anak dan sepuluh cucunya. Dia pun mengaku tidak akan pernah berhenti berjualan selama tubuhnya masih mampu.
Sehari-hari, Mbah Satinem berjualan jajanan pasar bersama seorang anaknya. Saat kelak ia tak mampu lagi berjualan, anaknya itulah yang akan mewariskan jajanan pasarnya itu.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)