Seperti tahun lalu, di kesempatan Bulan Ramadan kali ini masa pandemi belum beranjak dari negeri ini. Namun bedanya, pada kesempatan kali ini pemerintah memberi kelonggaran walau protokol kesehatan tak boleh diabaikan.
Biasanya memasuki Bulan Ramadan, beberapa tempat di seluruh Indonesia menonjolkan kuliner khas mereka. Di Jogja, ada beberapa kuliner khas yang hanya ada di Bulan Ramadan. Kuliner-kuliner itu tersebar di berbagai pasar Ramadan seperti di Kotagede, Kauman, dan tempat-tempat lainnya.
Lantas apa saja kuliner Jogja yang hanya ada saat Ramadan tiba? Berikut selengkapnya:
Advertisement
Kolak
Salah satu kuliner yang banyak dijual di Jogja saat menjelang buka puasa adalah kolak. Dulunya, kolak merupakan kuliner yang digunakan untuk penyebaran ajaran Islam. Kata “kolak” sendiri berasal dari kata “Khalik” yang berarti Sang Pencipta.
Terdapat berbagai jenis kolak yang dijual seperti kolak pisang dan kolak roti. Namun di samping itu ada pula yang menjual jenis kolak lain seperti kolak ubi jalar, kolak labu, ataupun kolak kolang-kaling. Di Jogja, jajanan kolak bisa ditemui di berbagai tempat jajanan menjelang buka puasa.
Advertisement
Kipo
Kipo merupakan kuliner khas Ramadan dari kawasan Kotagede, Jogja. Kuliner ini merupakan bentuk dari keterampilan masyarakat sekitar mengolah produk lokal seperti tepung ketan, gula kelapa, daging kelapa, dan daun suji menjadi sebuah makanan yang memiliki rasa yang khas.
Melansir dari Kemdikbud.go.id, Kipo sudah dikenal sejak abad ke-16 di mana makanan itu merupakan salah satu kesukaan Sultan Agung. Kata “Kipo” sendiri berasal dari kata “Iki opo” (apa ini?), merujuk pada masyarakat yang penasaran dengan makanan itu.
Sempat meredup sekian lama, kuliner Kipo kembali dipopulerkan oleh Mbah Mangun Irono, seorang warga Kotagede pada tahun 1946. Kini, kuliner itu menjadi salah satu kuliner khas Ramadan di Jogja yang patut dicoba.
Advertisement
Kicak
Kicak merupakan kue khas Ramadan dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Harganya pun terhitung murah, yaitu Rp 4.000 per bungkusnya. Dulunya, makanan berbahan dasar beras ketan ini merupakan makanan khas kaum santri.
Salah satu penjual kicak legendaris di Kauman adalah Mbah Wono. Namun seiring waktu, penjual kicak makin banyak di kampung itu dengan varian rasa yang beragam.
Advertisement
Thiwul
Thiwul merupakan makanan pengganti nasi ala masyarakat Jawa. Tidak diketahui kapan pertama kali kuliner ini dikenalkan. Namun saat penjajahan Jepang, makanan ini menjadi makanan pokok sebagian besar rakyat Jawa.
Melansir dari Fimela.com, Thiwul terbuat dari singkong yang sudah dikeringkan atau dikukus. Walaupun sudah jarang dijumpai, makanan ini masih banyak dikonsumsi oleh orang-orang yang tinggal di wilayah Wonosobo, Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar.
Advertisement
Jenang Mutiara
Jenang Mutiara atau juga bisa disebut bubur mutiara, merupakan salah satu makanan khas Ramadan yang bisa dijumpai di seluruh Jawa tak terkecuali di Jogja. Dinamakan “Jenang Mutiara” karena bentuknya yang bulat kecil-kecil seperti mutiara.
Selain harganya yang murah meriah, cara membuatnya sebenarnya terhitung mudah. Walau begitu, bubur ini warnanya mencolok sehingga dapat menggugah selera bagi siapa saja yang melihatnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)