Virus Corona sudah menyebar dengan cepat dan sulit untuk dideteksi. Hal itu terjadi hampir di semua tempat yang terjangkit virus tersebut. Salah satunya juga di Yogyakarta. Anggota Gugus Tugas Penanganan COVID-19 DIY yang juga merupakan staff akademis Fakultas Kedokteran UGM, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D mengatakan ada tiga klaster besar yang dominan di Provinsi DIY.
“Dari kasus-kasus yang terkonfirmasi di DIY kami melakukan contact tracing dan dari sana ada 3 klaster besar yang dominan di DIY. Dua klaster terkait dengan jemaah tabligh dan satu klaster terkait dengan kegiatan di gereja,” ujar Riris dilansir akun YouTube Humas Jogja pada Sabtu (3/5).
Dalam keterangan itu Riris menambahkan tiga klaster itu mengingatkan kita bahwa ada resiko besar yang timbul akibat kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa.
Advertisement
Tiga Klaster Besar
Riris menjelaskan dari ketiga klaster besar itu, dua klaster berasal dari kegiatan jemaah tabligh di Jakarta dan satu klaster lagi berasal dari kegiatan pertemuan GPIB di Bogor.
“Yang dari jemaah tabligh itu satu klaster ada di Gunungkidul dan satu klaster lagi ada di Sleman. Yang di Gunungkidul itu, klasternya terdiri dari 18 kasus. Dari jumlah itu ada 6 yang terkonfirmasi positif, satu orang PDP yang sudah meninggal, dan sisanya positif terhadap rapid test,” ujar Riris dilansir Youtube Humas Jogja pada Sabtu (2/5).
Advertisement
Screening Terhadap Warga Negara India
Kemudian kasus berikutnya adalah klaster Jemaah Tabligh di Sleman. Riris bercerita kalau klaster ini bermula dari screening yang dilakukan terhadap warga negara India dan dari sana terdapat 24 kasus positif. Dari jumlah itu sebagian besar sudah terkonfirmasi positif.
“Kasus ini sempat menarik perhatian beberapa teman-teman wartawan beberapa waktu yang lalu di mana ada screening terhadap kewarganegaraan India. Dan dari sana terdapat cukup banyak kasus,” ujar Riris dilansir YouTube Humas Jogja.
Advertisement
Kasus Pertemuan GPIB di Bogor
Sementara itu kasus ketiga berasal dari pertemuan kegiatan GPIB di Bogor. Dari kasus ini ada 17 kasus dengan dua kasus positif, tiga kasus PDP, dan sisanya adalah kasus yang positif terhadap rapid test.
Riris menambahkan ketiga klaster besar itu dapat menjadi pengingat warga kalau ada rIsiko besar terkait kegiatan yang melibatkan kerumunan massa.
Advertisement
Sudah Sampai Penularan Generasi ke-5
Berdasarkan keterangan Riris, penularan di Sleman sudah sampai pada generasi ke-3 sedangkan penularan di Gunungkidul sudah sampai pada generasi yang ke-5.
“Dari adanya tiga klaster besar ini, kami mengimbau kepada masyarakat di kota agar mencoba menghindari kegiatan yang melibatkan kerumunan, dan apabila ada orang yang bergejala di sekitarnya untuk segera melapor ke puskesmas terdekat,” ujar Riris dilansir YouTube Humas Jogja
Advertisement
Masih Ada Kemungkinan Penambahan Kasus
Riris mengatakan bahwa Dinas Kesehatan dan Puskesmas masih terus melakukan pelacakan terhadap ketiga klaster tersebut dan dia tidak memungkiri adanya penambahan kasus.
“Saat ini dinas kesehatan dan juga Puskesmas masih aktif melakukan contact tracing terhadap ketiga klaster ini dan kemungkinan masih ada penularan dari ketiga klaster ini,” ujar Riris dilansir akun YouTube Humas Jogja pada Sabtu (2/5).