Korban Erupsi Semeru Jalan Kaki dari Lumajang ke Jakarta, Begini Curahan Hatinya

Kamis, 30 Juni 2022 10:49 Reporter : Shani Rasyid
Korban Erupsi Semeru Jalan Kaki dari Lumajang ke Jakarta, Begini Curahan Hatinya Warga Korban Erupsi Semeru Selamatkan Barang Berharga. ©2021 AFP/Juni Kriswanto

Merdeka.com - Tiga warga Desa Sumber Wuluh, Candipuro, Lumajang melakukan aksi jalan kaki dari Lumajang menuju Istana Negara, Jakarta Pusat, untuk bertemu Presiden Joko Widodo. Ketiganya adalah Nor Holik (41), Masbud (36), dan Pangat (52).

Dengan mengenakan kaus bertuliskan “korban erupsi Semeru menuntut keadilan”, pada hari Rabu (29/6) mereka menyempatkan diri singgah di kawasan Tugu Yogyakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Perlu diketahui, mereka merupakan korban bencana erupsi Gunung Semeru. Mereka rela melakukan aksi jalan kaki Lumajang-Jakarta untuk menuntut keadilan. Keadilan seperti apa? Berikut selengkapnya:

2 dari 4 halaman

Curahan Hati Korban Erupsi Semeru

terungkap sosok bocah berlari di video erupsi semeru

Instagram @littleproject.idn

Kepada awak media, Nur Holik mengatakan aksi jalan kaki itu bertujuan untuk mengadukan aktivitas penambangan pasir di Kali Regoyo yang dinilai tak wajar. Hal inilah yang menurutnya membuat aliran banjir lahar dingin tak terbendung dan menerjang permukiman di desanya.

“Ini semua berawal dari oknum penambang yang membuat tanggul melintang untuk menghambat aliran air,” kata Nur Holik dikutip dari ANTARA.

Menurutnya, oknum perusahaan penambang pasir melakukan penanggulan di Kali Regoyo pada 2019 untuk menghambat dan menampung pasir yang terbawa aliran sungai.

Tanggul dibuat melintang selebar sungai dengan ketinggian hingga 4 meter, sama dengan ketinggian tanggul pengaman banjir pada sempadan sungai yang dulu dibangun oleh pemerintah era Presiden Soeharto pada 1970.

3 dari 4 halaman

Tidak Digubris

warga korban erupsi semeru selamatkan barang berharga
©2021 AFP/Juni Kriswanto

Nur Holik mengatakan, selain membangun tanggul, oknum perusahaan penambang yang beroperasi di Kali Regoyo itu juga membangun kantor di tengah daerah aliran sungai (DAS).

Bahkan pada Februari 2021, atau 11 bulan sebelum erupsi Semeru, warga Desa Sumber Wuluh telah beberapa kali mengadu ke Pemkab Lumajang dan aparat keamanan karena khawatir terhadap dampak pembangunan tanggul itu.

Namun setelah itu tidak ada tindakan lebih lanjut dari Pemkab Lumajang. Hingga akhirnya pada 4 Desember 2021 Gunung Semeru mengalami erupsi dan material lahar dinginnya menimbun Desa Sumber Wuluh.

“Erupsi kemarin adalah bukti kekhawatiran kami yang tidak pernah digubris sehingga banyak sekali korban jiwa dan kerusakan lingkungan yang begitu parah,” kata Nur Holik.

4 dari 4 halaman

Harapan Warga Korban Erupsi Semeru

warga korban erupsi semeru selamatkan barang berharga

©2021 AFP/Juni Kriswanto

Hingga saat ini, aktivitas penambangan pasir di Kali Regoyo masih berjalan meski kawasan tersebut berstatus zona merah.

Mereka sebenarnya sempat mengadu hal ini ke DPRD Lumajang yang berjanji akan membuat panitia khusus untuk menyelidiki. Namun hingga kini panitia khusus itu belum juga dibentuk.

Sementara itu Pangat berharap aksi jalan kaki itu tidak sia-sia. Setelah sampai di Istana Negara, ia berharap kedatangannya dapat diterima langsung oleh Presiden Jokowi.

“Lebih baik saya jalan kaki langsung ke Presiden. Nanti saat ketemu, semoga Presiden mendengarkan kata-kata saya,” kata Pangat dikutip dari ANTARA.

[shr]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Jateng
  3. DIY
  4. Berita
  5. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini