Kisah Inspiratif Pak Untoro, Ubah Tempat Pembuangan Sampah Liar Jadi Restoran Unik

Selasa, 7 Desember 2021 10:41 Reporter : Shani Rasyid
Kisah Inspiratif Pak Untoro, Ubah Tempat Pembuangan Sampah Liar Jadi Restoran Unik Jamak Untoro dan Resto Taman Luku. ©Facebook/Jamak Untoro

Merdeka.com - Di Jalan Kaliurang Km 14,5, tepatnya di depan Kampus Universitas Islam Indonesia (UII), berdiri sebuah restoran yang halamannya cukup luas. Setiap harinya, bus-bus pariwisata berdatangan ke restoran itu dengan membawa wisatawan dari berbagai kota. Tak jarang acara pernikahan juga digelar di sana. Restoran itu bernama “Taman Luku”.

Tak banyak yang menyangka, sebelum dibangun restoran, lahan seluas 5.000 meter persegi itu merupakan tempat pembuangan sampah liar. Keadaan tersebut bertahan sekitar 10-15 tahun. Para warga sekitar pun merasa terganggu dengan bau menyengat yang timbul dari sampah-sampah itu.

“Dulu lahan itu kan tanah kas desa. Saya diminta pihak Pemerintah Desa Umbulmartani untuk mengelolanya. Saya kerjakan 9 bulan selesai,” kata Jamak Untoro, pemilik Resto Taman Luku, saat dihubungi Merdeka.com pada Senin (6/12).

jamak untoro dan resto taman luku

Suasana Resto Taman Luku dari atas. Dulunya lahan yang cukup luas itu adalah tempat pembuangan sampah liar©Facebook/Resto Taman Luku

Untoro membuka Restoran Taman Luku pada 2018. Sebelum berbisnis di bidang kuliner, dia adalah seorang kontraktor bangunan. Namun pengalamannya dalam berwirausaha telah ia mulai sejak kecil.

Dibesarkan dari keluarga petani, Untoro telah terbiasa bekerja keras sejak kecil. Bahkan saat masih SMP, dia sudah bekerja dalam proyek bangunan sebagai laden batu dan sering pula ikut orang tuanya menggarap sawah.

Saat SMP itu pula dia terpilih sebagai ketua karang taruna di kampungnya. Hal inilah yang kemudian mengantarnya menduduki jabatan kepala dukuh ketika lulus SMA.

“Waktu itu saya sambi kuliah. Saya usia 19 tahun sudah menjabat sebagai dukuh. Jabatan itu saya jalani selama 15 tahun,” ungkap pria kelahiran 16 Agustus 1969 itu.

Setelah lulus kuliah, Untoro mendirikan perusahaan kontraktor hingga berkembang cukup besar. Pekerjaan sebagai kontraktor ia lakoni selama 10 tahun.

Namun karena merasa lelah bekerja sebagai kontraktor, perusahaannya ia nonaktifkan. Setelah itu beberapa aset perusahaan ia jual untuk menyewa sebidang tanah kas desa. Di atas tanah itulah ia kemudian mendirikan sebuah restoran.

“Jadi motivasi saya mendirikan rumah makan sebenarnya permintaan dari istri. Waktu itu kebetulan kami belum punya momongan,” kata Untoro.

2 dari 3 halaman

Proses Awal Pembangunan Resto

Pada awal proses pembangunan restoran, hal yang harus dilakukan Untoro adalah membakar sampah-sampah liar yang bertebaran tak karuan di lahan itu. Warga sekitar yang merasa terganggu dengan asap pembakaran menghampiri Untoro, menanyakan sebenarnya sampah-sampah itu dibakar untuk apa.

“Saya bilang saja apa adanya. Lahan ini akan saya dirikan rumah makan. Langsung banyak warga sekitar yang mendukung. Bahkan mereka rela saya menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membakar sampah itu karena setelahnya mereka akan terbebas dari bau busuk,” katanya.

jamak untoro dan resto taman luku

Di pinggir jalan setapak restoran terpasang "luku". ©Facebook/Resto Taman Luku 

Dalam membangun fasilitas restoran, Untoro banyak menggunakan kayu-kayu bekas yang sebelumnya ia gunakan saat masih mengelola perusahaan konstruksi. Selain itu ada keunikan lain pada restoran berkonsep ruang terbuka itu. Dia banyak memasang “luku” pada setiap pinggir jalan setapak bercor semen yang mengelilingi halaman restoran.

“Kenapa luku? Para petani selalu bekerja keras saat menggunakan luku untuk membajak sawah. Ada yang berhasil panen, ada juga yang tidak. Sepanjang perjalanan itu pasti ada lika-liku. Keberhasilan tidak diraih secara instan,” kata Untoro menjelaskan filosofi penggunaan nama alat yang biasa digunakan petani tradisional untuk membajak sawah itu.

3 dari 3 halaman

Semakin Berkembang

jamak untoro dan resto taman lukuaneka menu makanan di Resto Taman Luku ©Facebook/Resto Taman Luku

Seiring waktu berjalan, restoran itu makin berkembang. Hingga kini, dia sanggup mempekerjakan sebanyak 17 karyawan yang empat di antaranya merupakan chef.

Menu makanannya juga sangat bervariasi, di antaranya makanan tradisional seperti soto tangkar, sop buntut, dan gudeg. Ada pula masakan ala barat seperti karbonara dan steak.

“Selain itu kami juga menyediakan banyak paket untuk acara perusahaan, wedding, ada juga nasi box mulai dari Rp27 ribu-35 ribu. ada juga menu prasmanan mulai dari Rp25 ribu-60 ribu per orang,” terangnya.

Tak lupa, karena letaknya yang tak jauh dari kampus UII, restoran itu juga menyediakan paket mahasiswa yang lebih murah.

Restoran milik Untoto pun makin terkenal. Pengunjungnya makin banyak. Bus-bus pariwisata berdatangan dari berbagai kota. Berbagai acara mulai dari acara pernikahan, rapat besar, pelatihan dari instansi swasta maupun pemerintah digelar di tempat itu.

Mengenai strategi promosi, Untoro mengatakan bahwa ia terlibat aktif di kelompok-kelompok pelaku usaha pariwisata. Karena keterlibatan itulah, makin banyak orang yang mengenal restorannya. Selain itu ia juga aktif menjalin relasi dengan banyak pihak seperti instansi pemerintah.

Namun saat masa pandemi datang, restorannya juga terkena dampak ekonomi yang besar. Kerugian ditaksir hingga ratusan juta rupiah. Belum lagi ia harus tetap menggaji karyawan walau dengan pemotongan sebesar 75 persen dari gaji normal.

Tapi seiring kondisi yang berangsur membaik, pemasaran kembali digalakkan. Hingga akhirnya bus-bus pariwisata yang sempat “menghilang” saat puncak pandemi kini kembali berdatangan.

“Saat normal kita biasanya menargetkan 10 bus per hari. Tapi kini karena masih PPKM kita hanya menargetkan 6-8 bus per hari,” ujarnya.

jamak untoro dan resto taman lukuUntoro pemilik restoran Taman Luku (tengah), bersama dua rekannya. ©Facebook/Jamak Untoro

Kini setelah kondisi makin baik walau masih dihadapkan dengan ketidakpastian soal kapan pandemi berakhir, Untoro tak takut untuk bermimpi. Ia berharap melalui restoran Taman Luku, ia bisa terus menampung tenaga kerja dan bermanfaat bagi orang banyak.

“Bahkan kita sesama teman-teman pengelola restoran tidak bersaing satu sama lain. Kita saling support dan membantu, demi kepentingan bersama,” pungkasnya.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini