Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Desa yang Berada di Bekas Sungai Bengawan Solo Purba, Jam 5 Sore Sudah Gelap

Kisah Desa yang Berada di Bekas Sungai Bengawan Solo Purba, Jam 5 Sore Sudah Gelap Desa ini terletak di aliran Sungai Bengawan Solo Purba. ©YouTube/Cerita Gunungkidul

Merdeka.com - Gunungkidul selalu menyimpan banyak cerita. Kini cerita itu datang dari salah satu daerah yang letaknya berada di pelosok.

Wilayah daerah itu bernama Padukuhan Wotawati. Terletak di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, desa itu berada di bekas aliran Sungai Bengawan Solo Purba.

Jejak Bengawan Solo Purba merupakan jajaran perbukitan karst yang masuk ke dalam Geopark Gunung Sewu Network.

Bekas aliran sungai itu kini banyak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Namun ada salah satu wilayah yang dimanfaatkan sebagai tempat tinggal. Lalu bagaimana rasanya hidup di bekas aliran sungai purba? Berikut selengkapnya:

Sejarah Pedukuhan Wotawati

desa ini terletak di aliran sungai bengawan solo purba

©YouTube/Cerita Gunungkidul

Robby Sugihastanto, dukuh Wotawati, bercerita tentang asal usul Pedukuhan Wotawati. Ia mengatakan bahwa dulunya ada orang yang bercocok tanam di sana beberapa tahun lamanya.

Saat bercocok tanam, dia membangun sebuah gubuk. Setelah itu, dia juga membangun keluarga dan menetap bertahun-tahun. Seiring waktu penduduknya makin banyak hingga tempat bercocok tanam itu menjadi sebuah kampung.

“Itu sudah lama sekali. Mungkin sudah berabad-abad yang lalu,” tutur Robby, mengutip dari kanal YouTube Cerita Gunungkidul.

Jam 5 Sore Sudah Gelap

desa ini terletak di aliran sungai bengawan solo purba

©YouTube/Cerita Gunungkidul

Sebagai dusun terpencil yang berada di aliran Sungai Bengawan Solo Purba, desa itu diapit oleh dua tebing yang berada di sebelah timur dan barat. Robby mengatakan, kalau pagi hari, desanya baru diterangi sinar matahari mulai pukul delapan hingga setengah sembilan.

Namun saat sore hari tiba, matahari seolah tenggelam lebih cepat di Wotawati. Mulai pukul setengah lima sore, suasana pedukuhan itu sudah mulai gelap. Kondisi itu harus dirasakan warga karena desa itu memang benar-benar terhalang oleh gunung-gunung yang berada di samping.

Sulit Air

desa ini terletak di aliran sungai bengawan solo purba

©YouTube/Cerita Gunungkidul

Karena berada di daerah pelosok, sinyal di Padukuhan Wotawati cukup sulit dijangkau. Kalau untuk mendapatkan akses televisi, warga di sana masih mengandalkan sinyal parabola.

Sama seperti daerah-daerah di Gunungkidul yang lain, walaupun di masa lampau merupakan bekas aliran sungai, tempat itu masih langka air. Untuk kebutuhan air, warga mengandalkan air hujan.

“Kalau ngebor sumur nggak bisa. Sudah dicoba. Kemarin itu di bawah seperti ada aliran, cuma air itu tidak bisa dinaikkan,” kata Robby.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP