Kasus Covid-19 di DIY Tinggi, Epidemolog UGM Sarankan 70 Persen Warga di Rumah Saja
Merdeka.com - Kasus COVID-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih terus melonjak. Bahkan Sultan HB X telah mewanti-wanti bahwa pihaknya akan memberlakukan kebijakan “lockdown” total apabila kasus terus melonjak dan tak terkendali.
Menanggapi hal ini, ahli epidemologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad menyarankan agar 70 persen masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersedia berdiam diri di rumah selama tiga pekan untuk menurunkan lonjakan kasus tersebut.
Ia mengatakan, angka 70 persen itu diterapkan dengan mengacu pada ukuran tercapainya “herd immunity” yang mensyaratkan cakupan vaksinasi 70 persen penduduk Indonesia.
“Herd immunity itu terjadi karena virus kesulitan mencari orang untuk tidak ditulari karena 70 persen masyarakat tidak bergerak,” kata Riris dikutip dari ANTARA pada Senin (21/6). Berikut selengkapnya:
Hanya Sekedar Pemilihan Istilah

©2020 liputan6.com
Ketika ditanya mengenai kebijakan Lockdown yang diungkapkan Sultan HB X, Riris mengatakan bahwa hal itu sebenarnya hanya sekedar berkaitan dengan pemilihan istilah. Menurutnya, istilah apapun yang digunakan, pada intinya tujuannya adalah untuk menghentikan mobilitas warga.
Oleh karena itu, ia menghendaki agar kebijakan bekerja dari rumah (WFH), belajar dari rumah, sampai beribadah dari rumah yang cukup populer saat masa awal pandemi bisa diterapkan kembali. Acara-acara yang mengundang kerumunan pun juga bisa dihindari sementara waktu.
“Bercermin di Eropa begitu ada kebijakan untuk membatasi mobilitas, kumpulan-kumpulan di atas tiga orang juga dihindari. Ini terus terang juga tergantung kebijakan,” kata Riris.
Dukungan Masyarakat

©2017 Merdeka.com
Menurut Riris, berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akan efektif kalau mendapat dukungan dari masyarakat luas. Menurutnya hal ini penting dilakukan mengingat pada Minggu (20/6) penambahan kasus COVID-19 mengalami pecah rekor selama pandemi COVID-19 merebak di DIY.
Menurut Riris, keberhasilan Vietnam dan New Zealand dalam mengendalikan kasus dikarenakan masyarakatnya yang mau mendukung dan menerapkan kebijakan pemerintah. “Karena mereka mau dipaksa tinggal di rumah selama periode tersebut,” kata Riris pada Senin (21/6).
Pilihan Terakhir

liputan6.com
Mengenai ucapan yang pernah dikatakannya, Sri Sultan HB X mengatakan bahwa “lockdown” merupakan pilihan terakhir apabila tak ada cara lain dalam menekan pertumbuhan kasus COVID-19. Dia mengatakan, “lockdown” merupakan konsekuensi yang tidak mudah karena pemerintah harus mengganti biaya hidup seluruh warga selama kebijakan ini diterapkan. Sultan HB X memastikan, bahwa kebijakan yang diterapkan di DIY tetap sejalan dengan pemerintah pusat yang mencoba menyeimbangkan aspek ekonomi dan kesehatan.
“Kita kan enggak sampai di sana (lockdown), Cuma kita ingin agar mereka timbul kesadaran. Bagaimana saat pandemi ini kita bisa bertoleransi dengan orang lain,” kata Sultan HB X dikutip dari ANTARA.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya