Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jadi Cikal Bakal Kerajaan Mataram Islam, Ini 3 Fakta Unik Petilasan Kembang Lampir

Jadi Cikal Bakal Kerajaan Mataram Islam, Ini 3 Fakta Unik Petilasan Kembang Lampir Petilasan Kembang Lampir. ©2021 Brilio.net

Merdeka.com - Di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, ada sebuah petilasan yang cukup dikenal oleh warga sekitar. Namanya Petilasan Kembang Lampir.

Dulunya, petilasan ini merupakan bekas tempat bersemedi Ki Ageng Pemanahan. Dia merupakan keturunan Brawijaya V yang juga murid dari Sunan Kalijaga.

Tempat ini pula yang kemudian dijadikan lokasi bersemedi dari Panembahan Senopati yang merupakan anak Ki Ageng Pemanahan. Kelak, Panembahan Senopati inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Mataran Islam.

Di sini pula terdapat benda-benda peninggalan Ki Ageng Pemanahan seperti mahkota rumah yang pecah dan berbagai benda pusaka lainnya.

Lantas bagaimana sejarah petilasan ini hingga banyak dikunjungi oleh peziarah di masa kini? Berikut selengkapnya:

Cikal Bakal Kerajaan Mataram Islam

keraton yogyakarta

©2020 liputan6.com

Melansir dari Etnis.id, dalam sejarahnya petilasan Kembang Lampir merupakan awal mula Kerajaan Mataram Islam berdiri. Waktu itu, Ki Ageng Pemanahan diminta oleh Sunan Kalijaga untuk bertirakat di tempat itu guna memperoleh petunjuk mengenai siapa sosok yang tepat untuk memimpin kerajaan setelah era Majapahit.

Saat Ki Ageng Pemanahan hendak bertapa, di sana sudah ada bunga semampir yang bertengger di sebuah pohon besar. Atas perintah Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pemanahan mengambil bunga semampir itu.

Tempat itu pula yang kemudian dijadikan Panembahan Senopati sebagai lokasi semedi sebelum menjadi Raja Mataram Islam. Oleh Panembahan Senopati, tempat itu dinamakan “Mbang Lanpir” yang artinya membangun ketajaman berpikir.

Pemugaran Kembang Lampir

petilasan kembang lampir

©jogjasiana.net

Pada tahun 1975, Sri Sultan HB IX menginisiasi pemugaran petilasan Kembang Lampir. Setelah jadi, petilasan itu dinamakan Gunung Mahenka karena letaknya yang berada di atas perbukitan.

Tempat itupun menjadi petilasan bersejarah bagi Keraton Yogyakarta. Tak hanya direnovasi, di petilasan itu juga dibuatkan monumen berupa patung Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati.

Tak hanya sebagai petilasan, pada bangunan induk di sana tersimpan benda pusaka Wuwung Gubug Mataram dan Songsong Ageng Tunggul Naga.

Pantangan di Kembang Lampir

petilasan kembang lampir

©2021 Brilio.net

Seperti tempat-tempat keramat lainnya, ada pantangan yang harus dihindari pengunjung yang ingin berziarah ke petilasan Kembang Lampir. Dalam seminggu, petilasan itu hanya dibuka pada hari Senin dan Kamis. Selain itu, pengunjung juga tidak boleh mengenakan pakaian berwarna ungu terong dan hijau lumut.

Sutrisno, seorang warga sekitar yang dipercaya Keraton Yogyakarta mengurus petilasan itu mengatakan, kedua warna itu terlarang bagi pengunjung karena keberadaan Nyi Roro Kidul yang konon sering datang ke petilasan itu. Jika pengunjung mengenakan baju warna itu, ia akan disukai Nyi Roro Kidul dan kemudian dijadikan budaknya.

Tak hanya sebatas pakaian, melansir dari Brilio.net, pengunjung juga tidak boleh memotret bangunan dalam, tidak boleh memakai sandal, dan khusus pengunjung wanita harus dalam keadaan suci.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP