Bangunan Bersejarah di Wonogiri Ini Kini Terbengkalai Bak Rumah Hantu, Ini Kisah di Baliknya

Halaman rumah itu telah dipenuhi semak belukar. Dulunya bangunan itu merupakan rumah Wakil Bupati Wonogiri.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Bangunan Bersejarah di Wonogiri Ini Kini Terbengkalai Bak Rumah Hantu, Ini Kisah di Baliknya
Bangunan terbengkalai di Wonogiri (YouTube/WONOGIREN)

Di Wonogiri, terdapat sebuah rumah terbengkalai yang berada di atas bukit. Rumah berarsitektur Jawa itu berdiri di atas semak-semak belukar yang mengeilinginya.

Orang-orang mengenal tempat itu dengan nama Selo Belah. Dikutip dari YouTube WONOGIREN, tempat itu dulunya megah. Namun kini semua kemegahan itu tinggal kenangan. Padahal tempat itu memiliki pemandangan alam yang indah dan sayang kalau harus ditutup.

Lalu seperti apa kisah di balik kemegahan Selo Belah? Berikut selengkapnya:

Bangunan itu dinamakan “selo belah” yang artinya Tanah di Ketinggian. Nama itu disematkan karena Selo Belah terletak di sebuah dataran tinggi yang diapit oleh dua buah pegunungan di sekelilingnya.

Mengutip Wonogirikab.go.id, secara historis bangunan itu dulunya adalah kediaman pribadi dari Wakil Bupati Wonogiri, Bapak Soemarno. Kemudian tempat itu diperbaharui dan direnovasi lalu dijadikan obyek wisata dan cagar budaya.

Secara geografis, kawasan Selo Belah ini terletak di Kecamatan Katangtengah, Kabupaten Wonogiri. Kini kawasan itu dikelilingi perkebunan cengkeh dan pegunungan yang tinggi dan menjulang.

Melalui video yang diunggah pemilik YouTube pada 8 September 2024 lalu, para kru kanal YouTube tersebut berkesempatan mengunjungi desa tersebut.

Saat masuk ke bangunan itu, suasana agak mencekam begitu terasa. Semak belukar tumbuh di mana-mana; di tangga, di gerbang, di patung-patung, bahkan hingga di dinding-dinding rumah.

Di sana mereka bertemu dengan Pak Slamet, salah seorang warga setempat. Saat itu ia sedang mencari rumput. Ia bercerita bahwa tempat itu telah terbengkalai selama tiga tahun. Dulunya bangunan megah yang berdiri di tengah halaman luas itu sering digunakan sebagai tempat tirakat dan pagelaran wayang kulit.

Tak jauh dari bangunan itu, terdapat sebuah batu yang hingga kini dikeramatkan oleh penduduk setempat. Bahkan di dalam rumah itu dulunya terdapat sebuah gong raksasa dan perabotan lainnya, namun sayang beberapa perabotan itu sudah dijual dan ada pula yang dicuri oknum tidak bertanggung jawab.

Pekarangan yang kini tak lagi digunakan kemudian dialihfungsikan menjadi kebun durian dan cengkeh. Pak Slamet berharap, durian dan cengkeh yang telah ia tanam bisa tumbuh subur sehingga menjadi potensi wisata baru dan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Walaupun sudah terbengkalai, sejumlah gazebo di tempat itu masih sering digunakan sebagai tempat nongkrong warga setempat. Mereka pun bisa menikmati sisa-sisa keindahan tempat itu tanpa merogoh kocek sepeserpun.

Rekomendasi