Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Apa Itu Toxic Relationship, Ketahui berbagai Gejalanya

Apa Itu Toxic Relationship, Ketahui berbagai Gejalanya Ilustrasi pasangan bertengkar. ©Gottman.com

Merdeka.com - Toxic relationship merupakan satu topik yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan hangat, terutama di media sosial. Di mana banyak orang membahas masalah hubungan yang buruk dengan pasangan. Mulai dari pasangan yang over protective, pencemburu yang berlebihan, hingga pasangan yang sampai melakukan kekerasan fisik.

Beberapa contoh tersebut dikatakan masuk dalam kategori toxic relationship.Dari contoh tersebut, kemudian muncul pertanyaan sebenarnya apa itu toxic relationship.

Istilah toxic relationship dipahami sebagai hubungan yang merusak atau hubungan yang tidak sehat. Dalam hal ini, sebenarnya toxic relationship dapat terjadi pada berbagai macam hubungan. Mulai dari hubungan pertemanan, hubungan antara orang tua dan anak, hingga hubungan romantis atau berpasangan.

Dari semua jenis hubungan, toxic relationship lebih erat dikaitkan dalam jenis hubungan percintaan. Dalam percintaan biasanya toxic relationship ditandai dengan adanya berbagai perilaku yang tidak baik dan bersifat merusak. Meskipun kerap terjadi, namun sebagian orang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam toxic relationship.

Dengan begitu penting bagi Anda untuk tahu apa itu toxic relationship dan gejala apa saja yang perlu diperhatikan ketika berada dalam masalah ini. Selain itu, bagaimana cara mengatasi jika terjebak dalam toxic relationship.

Dilansir dari Healthline, berikut kami merangkum pengertian apa itu toxic relationship, gejala, dan cara mengatasinya, bisa Anda simak.

Apa Itu Toxic Relationship

Sebelum mengetahui beberapa gejala toxic relationship, perlu dipahami terlebih dahulu pengertian mengenai toxic relationship. Toxic relationship adalah hubungan yang ditandai dengan perilaku buruk dan tidak sehat secara emosional yang dilakukan salah satu pihak kepada pasangannya, dan tidak jarang merusak secara fisik.

Orang yang terlibat atau terjebak dalam hubungan toxic relationship biasanya akan menguras banyak energi hingga merusak harga diri. Idealnya, hubungan yang sehat melibatkan perhatian timbal balik, rasa hormat, kasih sayang, minat dan kesejahteraan dalam pengambilan keputusan satu dengan yang lain.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang aman di mana masing-masing pihak bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa takut dan terbebani. Sementara toxic relationship adalah sebaliknya, ditandai dengan suasana ketidakamanan, sikap egois, sikap dominasi, serta kendali. Hubungan tersebut tidak akan berfungsi dan hanya akan merusak dan memberikan dampak buruk pada salah satu pihak.

Gejala Toxic Relationship

Setelah mengetahui pengertian apa itu toxic relationship, berikutnya akan dijelaskan gejala atau tanda-tanda apa saja dalam sebuah toxic relationship. Seperti disebutkan sebelumnya gejala toxic relationship dapat dilihat dari perilaku atau sikap yang tidak sewajarnya dan bersifat merusak yang dilakukan oleh pasangan. Mulai dari perilaku verbal bahkan hingga perilaku yang melukai fisik seseorang.

Lebih dari itu, gejala toxic relationship terkadang juga mencakup hal-hal kecil namun cukup berpengaruh pada jalannya hubungan. Berikut beberapa gejala toxic relationship yang perlu Anda perhatikan:

  • Kurangnya dukungan dari pasangan, di mana Anda merasa tidak didukung dengan apa yang menjadi pilihan atau apa yang sedang Anda lakukan. Kurangnya dukungan juga menunjukkan menurunnya rasa kepedulian dari pasangan.
  • Komunikasi yang merusak, di mana pasangan tidak dapat berkomunikasi dengan efektif dan membangun, selalu memberikan komentar sinis, atau berkata dengan nada mengejek, selalu berargumen dan tidak mau kalah, hingga komunikasi yang cenderung menyudutkan Anda.
  • Rasa cemburu yang berlebihan hingga memunculkan sikap over protective yang melarang Anda melakukan berbagai macam hal.
  • Sikap mengontrol perilaku pasangan, di mana pasangan Anda selalu ingin Anda untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Tidak memberikan kebebasan bagi Anda untuk bersikap, memilih, dan melakukan hal sesuai kehendak Anda sendiri.
  • Mempunyai sifat dendam, jika terdapat satu kesalahan yang Anda lakukan, pasangan cenderung dendam dan marah berlarut-larut, atau terus saja mengungkitnya.
  • Pasangan tidak jujur terhadap Anda, biasanya ditandai dengan perilaku berbohong yang dilakukan secara terus menerus.
  • Tidak menunjukkan sikap hormat pada Anda, sesederhana menghargai waktu Anda dan hal yang telah Anda lakukan.
  • Mempunyai perilaku keuangan yang negatif, cenderung ingin membelanjakan sesuatu yang tidak disetujui oleh pasangan, atau melanggar kesepakatan rencana keuangan.
  • Adanya hubungan yang hilang, mungkin Anda menyadari bahwa Anda semakin jauh dari teman-teman atau keluarga, jarang menghabiskan waktu bersama mereka. Dan secara tidak sadar lebih banyak meluangkan waktu bersama pasangan, dengan alasan agar mengurangi risiko konflik dengan pasangan.
  • Cara Mengatasi Toxic Relationship

    Setelah mengetahui apa itu toxic relationship dan beberapa gejalanya, terakhir akan dibahas bagaimana cara mengatasi hubungan yang toxic. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa toxic relationship adalah sebuah takdir, namun tidak selalu begitu.

    Toxic relationship ini masih memiliki peluang untuk diatasi, yaitu dengan cara mengubah perilaku, bukan hanya salah satu pihak melainkan kedua pihak. Berikut beberapa cara mengatasi toxic relationship yang bisa Anda lakukan:

  • Kedua pasangan, harus sama-sama berbenah diri, dimulai dengan menyadari letak kesalahan dalam sikap yang telah dilakukan. Menanamkan kesadaran diri jika telah melakukan kesalahan, maka harus meminta maaf dan berusaha untuk tidak mengulangi hal yang sama. Kedua pihak harus berkomunikasi secara terbuka, dan saling membantu untuk mendapatkan hubungan yang sehat.
  • Adanya minat dan kemauan untuk memperbaiki hubungan menjadi lebih baik. Kedua pihak sama-sama memiliki keinginan untuk bertahan dan membangun hubungan yang lebih sehat. Jika salah satu tidak memiliki minat, maka ini akan sulit berhasil.
  • Mengurangi sikap saling menyalahkan, dan berusaha untuk memahami kebutuhan, keinginan, dan apa pun dari pasangan. Jika terjadi masalah, praktikkan komunikasi yang terbuka, bersedia menceritakan apa yang membuat masing-masing pihak tidak nyaman, dan mencari jalan tengah untuk masalah tersebut.
  • Melibatkan orang ketiga, atau bahkan professional seperti konseling individu atau pasangan. Ini dapat membantu Anda menyelesaikan masalah dengan pasangan. Pandangan dari orang ketika lebih bersifat netral, sehingga pemecahan masalah akan lebih adil dan bijaksana.
  • (mdk/ayi)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP