Ibunda Debora mengadu ke Balaikota empat hari setelah anaknya meninggal
Merdeka.com - Peristiwa meninggal bayi Tiara Debora Simanjorang karena tidak mendapat penanganan di IGD RS Mitra Keluarga Kalideres pada Minggu (3/9), menyita perhatian publik. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mendapat laporan dari Henny, ibu korban pada Kamis (7/9) atau empat hari setelah meninggalnya Debora. Dia melaporkan kejadian yang menimpa anaknya karena tidak mampu membayar uang untuk ruang ICU.
"Meninggalnya tanggal 3, tanggal 7 (kamis) dia baru lapor Gubernur," jelas Kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto di Kantornya, Senin (11/9).
Koemedi memastikan setiap aduan yang masuk ke posko pengaduan di Balaikota akan ditindaklanjuti.
"Ya ditindaklanjuti tapi kan kita nggak bisa tiba-tiba kayak begini karena kita harus mencari data dan sebagainya," ucapnya.
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengaku belum mengetahui jika ibu korban mengadu ke posko pengaduan. Namun dia tetap memerintahkan Dinas Kesehatan untuk menginvestigasi lebih lanjut.
"Saya nggak tahu itu, makanya biar diinvestigasi oleh dinas kesehatan, yang saya sampaikan adalah penanganan yang seharusnya dilakukan oleh rumah sakit. Apa rumah sakit swasta, rumah sakit milik pemerintah, penanganan yang prioritas adalah menyelamatkan dan menolong sesuai dengan standar kedokteran," ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, saat orangtua Debora, Henny berjuang menyelamatkan nyawa anaknya dan meminta agar dirawat di ICU, pihak RS menyodorkan biaya senilai Rp 19.800.000. Henny cuma punya Rp 5 juta. Dia sempat memohon kepada pihak rumah sakit untuk menyelamatkan anaknya terlebih dahulu, sisa uang akan diberikan setelahnya. Namun, hal itu ditolak oleh RS.
Pihak RS membantah telah menelantarkan bayi Debora. Saat datang dengan kondisi tampak membiru, bayi Debora telah diberi tindakan penyelamatan nyawa (life saving) berupa penyedotan lendir, dipasang selang ke lambung dan intubasi (pasang selang napas), lalu dilakukan bagging (pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang nafas), infus, obat suntikan dan diberikan pengencer dahak (nebulizer). Pemeriksaan laboratorium dan radiologi segera dilakukan.
Kondisinya sempat membaik, sianosis (kebiruan) berkurang, saturasi oksigen membaik, walaupun kondisi pasien masih sangat kritis. Kondisi pasien dijelaskan kepada Ibu pasien, dan dianjurkan untuk penanganan selanjutnya di ruang khusus ICU.
Saat ibu pasien mengurus di bagian administrasi, petugas menjelaskan biaya rawat inap ruang khusus ICU. Tetapi ibu pasien menyatakan keberatan mengingat kondisi keuangan. Pihak rumah sakit kemudian menyarankan untuk dibantu merujuk ke RS yang bekerjasama dengan BPJS, demi memandang efisiensi dan efektivitas biaya perawatan pasien.
Dokter IGD membuat surat rujukan dan kemudian pihak RS berusaha menghubungi beberapa RS yang merupakan mitra BPJS. Dalam proses pencarian RS tersebut baik keluarga pasien maupun pihak RS kesulitan mendapatkan tempat.
Akhirnya pada jam 09.15 keluarga mendapatkan tempat di salah satu RS yang bekerja sama dengan BPJS. Sementara berkomunikasi antar dokter, perawat yang menjaga dan memonitoring pasien memberitahukan kepada dokter bahwa kondisi pasien tiba-tiba memburuk. Dokter segera melakukan pertolongan pada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya