Tak Hanya Anthony Ginting, Ini 7 Pebulu Tangkis Asal Jabar yang Harumkan Nama Bangsa
Merdeka.com - Saat ini perhatian dunia tengah terpaku pada perhelatan akbar Olimpiade Tokyo 2020. Salah satu cabang olahraga yang menyita animo masyarakat Indonesia adalah bulu tangkis. Pasalnya di olahraga tepok bulu ini, wakil-wakil Indonesia telah beberapa kali menyumbangkan medali.
Sayang ambisi wakil Indonesia di nomor tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting untuk meraih medali emas harus pupus. Pada babak semifinal yang digelar pada Minggu (1/8), pemain 24 tahun ini harus takluk dari wakil China, Chen Long dua gim langsung 16-21 dan 11-21.
Meski gagal lolos ke final, pencapaian pemain kelahiran Cimahi ini patut diapresiasi. Ini jadi kali pertama Indonesia meloloskan wakilnya hingga ke babak semifinal nomor tunggal putra setelah terakhir kali Taufik Hidayat melakukannya di Olimpiade Athena 2004 lalu.
Pencapaian Ginting ini pun menambah panjang deretan prestasi yang dipersembahkan oleh pebulu tangkis asal Jawa Barat. Berikut 7 pebulu tangkis Jawa Barat yang berhasil membawa harum nama Indonesia di pentas Internasional yang telah dirangkum dari berbagai sumber.
Tan Joe Hok

Tan Joe Hok
©2021 Youtube Bina Budaya /Merdeka.com
Pebulu tangkis asal Jawa Barat pertama yang mampu mengharumkan nama Indonesia adalah Tan Joe Hok. Ia merupakan atlet kelahiran Bandung, 11 Agustus 1937.
Ia dikenal sebagai pebulu tangkis pertama Indonesia yang membuka jalan bagi pemain generasi berikutnya di berbagai kejuaraan bulu tangkis internasional.
Beberapa prestasi yang berhasil ditorehannya di antaranya juara All England 1959, juara Asian Games 1962, hingga tiga kali juara Piala Thomas (1958, 1961, dan 1964).
Usai pensiun, ia memutuskan untuk berkarier sebagai pelatih. Tak hanya melatih di Indonesia, Tan Joe Hok juga pernah melatih di Meksiko hingga Hongkong.
Ivana Lie

Ivana Lie
©2021 pbjarum.org/Merdeka.com
Legenda bulu tangkis asal Jawa Barat selanjutnya adalah Ivana Lie. Tak hanya di satu nomor, ia dikenal sebagai pemain tunggal putri, ganda putri, maupun ganda campuran.
Ivana sudah berprestasi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saat itu Ivana iseng mengikuti sejumlah kejuaraan hingga sering memenangkan lomba dan mendapat keringanan biaya pendidikan.
Atlet kelahiran Bandung, 7 Maret 1960 tersebut diketahui meraih banyak prestasi yang mengharumkan nama Indonesia. Di nomor tunggal putri ia sukses menjadi juara di ajang Sea Games (1979, 1983), Indonesia Terbuka (1983), hingga Taiwan Open (1982, 1984).
Sementara itu di nomor ganda campuran ia berhasil meraih gelar juara Asian Games 1982, Sea Games 1983, Indonesia Terbuka 1983 dan 1984, Piala Dunia 1985, dan US Open 1988. Semua pencapaian tersebut diraihnya saat berpasangan dengan Christian Hadinata.
Di nomor ganda putri, pencapaiannya pun tak kalah istimewa. Di tahun 1986, ia berhasil meraih gelar juara Indonesia Terbuka, China Terbuka, dan Taiwan Open. Di tahun berikutnya, ia kembali keluar sebagai juara Indonesia Terbuka.
Lie Sumirat

Iie Sumirat
©2021 timindonesia.id/Merdeka.com
Nama Iie Sumirat mulai melambung di kancah bulu tangkis Indonesia usai menjuarai ajang Singapura Open tahun 1972. Ia berhasil mengalahkan tungga putra Malaysia Tan Aik Mong dengan skor 15-5, 15-11.
Di tahun berikutnya (1973) ia kembali meraih gelar juara setelah mengalahkan wakil Indonesia Tjun Tjun 15-3, 15-14.
Tak sampai di situ, Iie kembali membuat masyarakat Indonesia bangga usai meraih juara di gelaran International World Badminton Championship Thailand pada 1976. Selain itu ia juga merupakan bagian dari tim Thomas Indonesia yang berhasil menjadi juara pada edisi 1976 dan 1979.
Pemain kelahiran Bandung, 15 November 1950 tersebut juga mendapat berbagai julukan di masa jayanya. Mulai dari Meteor dari Bandung Selatan, Tan Joe Hok kecil, hingga Si Pembunuh Raksasa.
Iie memutuskan untuk gantung raket di tahun 1982 saat usianya masih 32 tahun. Ia kemudian memilih fokus untuk menjadi pelatih calon atlet bulu tangkis dengan mendirikan PB Sarana Muda.
Beberapa atlet kenamaan pun pernah ia latih seperti Taufik Hidayat, Tony Gunawan, hingga Anthony Ginting.
Halim Haryanto

Halim Haryanto
©2021 bwfbadminton.com/Merdeka.com
Nama Halim Haryanto mungkin tak sepopuler atlet bulu tangkis Indonesia lainnya. Namun pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 23 November 1976 tersebut pernah menjadi andalan ganda putra Indonesia pada tahun 1995 hingga 2004.
Nama Halim mulai diperhitungkan saat berpasangan dengan Tony Gunawan di tahun 1995. Keduanya berhasil menjadi juara di Kejuaraan Dunia dan All England edisi tahun 2001. Setahun kemudian, Halim berganti pasangan dengan Tikus Haryanto, lantaran Tony harus pindah ke Amerika.
Pada babak final Piala Thomas 2002, Halim dan Tikus tampil sebagai underdog. Namun mereka berhasil mengalahkan pasangan Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heon sekaligus jadi penentu kemenangan Indonesia.
Melansir bwfbadminton.com, informasi terakhir Halim disebutkan berada di Amerika dan menjadi pelatih bulutangkis di Orange Country, negara bagian California.
Susi Susanti

Susi Susanti
©kapanlagi.com
Pecinta olahraga tanah air tentu sudah tak asing lagi dengan sosok Susi Susanti. Perempuan kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971 tersebut memiliki banyak prestasi di olahraga bulu tangkis, termasuk raihan empat gelar juara All England (1990, 1991, 1993, 1994).
Namun pencapaian terbaik Susi yang paling diingat adalah saat ia berhasil memberikan medali emas di Olimpiade Barcelona 1992. Istri Alan Budi Kusuma ini pun menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil meraih medali emas di ajang bergengsi ini.
Berkat prestasinya, ia diganjar penghargaan Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama (1992) dan masuk dalam The Badminton Hall of Fame (2004).
Taufik Hidayat

Taufik Hidayat
©2016 Merdeka.com/Septian Tri Kusuma
Di olahraga bulutangkis, nama Taufik Hidayat dikenal sebagai salah satu atlet Indonesia yang disegani dunia. Bagaimana tidak, berbagai gelar juara prestisius telah ia raih sejak debutnya di akhir tahun 1990-an.
Namanya makin dikenal setelah meraih medali emas untuk Indonesia pada Olimpiade Athena 2004 usai dengan mengalahkan Seung Mo Shon dari Korea Selatan di babak final.
Setahun kemudian, Taufik melengkapi pencapaiannya dengan meraih gelar juara dunia usai mengalahkan pemain peringkat 1 dunia, Lin Dan di babak final. Ia pun menjadi pemain tunggal putra pertama yang memegang gelar Olimpiade dan Kejuaraan Dunia secara berturut-turut.
Setelah itu, ia juga berhasil keluar sebagai juara tunggal putra Asian Games 2002 di Busan dan 2006 di Doha. Semasa bermain, Taufik dikenal sebagai pemain yang memiliki smash keras, bahkan di tahun 2006 lalu smashnya tercatat memiliki kecepatan 206 km/jam.
Anthony Sinisuka Ginting

Anthony Ginting saat bertanding di Olimpiade Tokyo 2020
©REUTERS/Hamad I Mohammed
Atlet bulu tangkis asal Jawa Barat terakhir adalah Anthony Ginting. Teranyar, ia berhasil menembus babak semifinal Olimpiade Tokyo 2020 meski harus ambisinya untuk meraih emas harus pupus usai dikalahkan wakil China, Chen Long.
Sebelumnya pebulu tangkis kelahiran Cimahi ini telah meraih berbagai prestasi, mulai dari juara Korea Open 2017, juara Daihatsu Indonesia Master 2018 dan 2020, hingga juara HSBC Word Tour Super 1000 Victor China Open 2018.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya