Sisi Menarik Kue Rangi, Jajanan Kuno Khas Betawi yang Kini Terpinggirkan

Salah satu alasan kue ini masih dicari para penggemar lantaran tekstur dan cita rasanya yang beragam.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Sisi Menarik Kue Rangi, Jajanan Kuno Khas Betawi yang Kini Terpinggirkan
Sisi Menarik Kue Rangi, Jajanan Kuno Khas Betawi yang Kini Terpinggirkan (Merdeka.com)

Jika dicari, apa jajanan kuno di Jakarta? Tentu akan disebut beberapa nama seperti kerak telor, kembang goyang sampai selendang mayang. Namun ternyata masih ada kudapan lawas lainnya yang hampir terlupakan bernama Kue Rangi.

Buat sebagian orang, nama ini mungkin dianggap asing karena memang sudah jarang ditemui. Kehadirannya kalah pamor dengan jajanan jadul lainnya yang sering tampil di acara kebudayaan.

Walau demikian, Kue Rangi tak boleh dipandang sebelah mata karena memiliki sejumlah sisi menarik. Keunikan kue jadul ini tak sekedar dilihat dari tampilannya, namun proses pembuat yang ternyata tidak menggunakan teknologi modern.

Salah satu alasan kue ini masih dicari para penggemar lantaran tekstur dan cita rasanya yang beragam. Selain cocok sebagai teman minum teh dan kopi, Kue Rangi menjadi salah satu kudapan yang mengenyangkan. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Yuk kenali lebih lanjut jajanan Kue Rangi yang mulai terpinggirkan di Kota Jakarta ini.

foto: jakita.jakarta.go.id/

Kue yang Dicetak Asli Betawi

Kue yang Dicetak Asli Betawi
Dok. Istimewa

Penampilan kue rangi sepintas mirip dengan jajanan bandros dari tatar Sunda atau gandos dari tanah Jawa. Warna dan bentuknya juga serupa, yakni putih pucat dengan sedikit gosong di bagian bawahnya.

Foto: wikipedia

Meski terlihat sama, bahan utama Kue Rangi berbeda dengan bandros maupun gandos. Mengutip majalah Jakita yang dikelola oleh Pemprov Jakarta, Kue Rangi memakai tepung tapioka atau kanji yang membuat  tekstur kue menjadi lebih kenyal namun mudah untuk dipotong

Jka Bandros dan Gandos bercita rasa gurih dan sedikit asin, rasa Kue Rangi perpaduan gurih dan manis yang nikmat disantap saat hangat.

Rasa dasar dari kue ini adalah gurih dan sedikit asin. Bertambah nikmat dengan tambahan parutan kelapa di bagian atasnya.

, kue Rangi memiliki bentuk kotak dan kering di luar namun teksturnya lembut saat dikunyah.

Hal lain yang membedakan Kue Rangi dengan kue lainnya adalah tambahan toping gula merah cair yang kental. Sementara Gandos dan Bandros hanya menggunakan toping kelapa ataupun gula pasir.

Hal lain yang membedakan Kue Rangi dengan kue lainnya adalah tambahan toping gula merah cair yang kental. Sementara Gandos dan Bandros hanya menggunakan toping kelapa ataupun gula pasir.<br>
Dok. Istimewa

Foto: Buku Kuliner Betawi Selaksa Rasa & Cerita

Cara Memasak Dipanggang Pakai Kayu

Menurut budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, Kue Rangi dahulu jadi sajian acara keluarga. Cara memasaknya juga tidak seperti kue pada umumnya, karena Kue Rangi dibuat menggunakan kayu bakar.

Ini juga menjadi alasan mengapa kue jadul khas Betawi ini diberi nama Rangi yang artinya dibakar atau dipanggang menggunakan kayu.

Hingga kini cara pembuatan Kue Rangi juga masih dipertahankan oleh beberapa penjual, yakni dengan memanggang menggunakan tungku kayu bakar.

“Ada yang bilang kalau istilah ‘Rangi’ berasal dari bahasa Betawi kuno, yaitu dipanggang atau dibakar,” jelasnya.

Beraroma Harum

Beraroma Harum
Dok. Istimewa

Selain itu, asal usul kue Rangi juga konon berasal dari aromanya yang harum dari proses membakarnya yakni digarang wangi. Digarang, dalam bahasa Betawi artinya dipanggang.

Aroma wangi berasal dari kayu bakar. Jika dimasak menggunakan minyak tanah atau gas, aroma khas dari kue tersebut kabarnya tidak akan keluar dan cita rasanya juga berkurang.

Beberapa daerah di Jakarta yang masih menjajakan kue Rangi di antaranya di wilayah Bulak – Jakarta Timur, Cipinang Jatinegara – Jakarta Timur dan Ragunan – Jakarta Selatan. Kue ini biasanya dijual dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp5 ribu per porsinya.

Dicatat Sebagai KIK

Di balik keberadaan Kue Rangi yang mulai terpinggirkan, kue ini telah tercatat sebagai salah satu Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta, Iwan Henry Wardana.

KIK tersebut meliputi ekspresi budaya tradisional, sumber daya genetik serta potensi indikasi geografis yang harus dijaga.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Pencatatan inventarisasi KIK ini diharapkan bisa menjadi motivasi bagi para pelaku kuliner Betawi, agar terus menjaga eksistensinya dalam menghadapi maraknya kuliner dari luar,” ucap Iwan.

Rekomendasi