Kisah di Balik Masjid Jami Al Makmur Cikini, Warisan Raden Saleh yang Pernah Digotong Manual karena Akan Digusur

Kabarnya masjid ini dulu pernah digotong manual agar tidak digusur.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kisah di Balik Masjid Jami Al Makmur Cikini, Warisan Raden Saleh yang Pernah Digotong Manual karena Akan Digusur
Kisah di Balik Masjid Jami Al Makmur Cikini, Warisan Raden Saleh yang Pernah Digotong Manual karena Akan Digusur (Merdeka.com)

Masjid Jami Al Makmur yang berada di Jalan Raden Saleh, Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat ini memiliki kisah yang unik.

Terlihat jika bangunan  memiliki arsitektur kuno peninggalan kolonial Belanda. Masjid ini didapati sudah eksis sejak tahun 1890 dan menjadi salah satu pusat dakwah Islam di Batavia.

Dahulu, masjid warisan pelukis terkenal Indonesia Raden Saleh ini pernah digotong secara manual saat hendak digusur.

Saat ini bangunan masjid masih berdiri kokoh, dengan mempertahankan corak khas abad ke-19.
Lokasi ini juga menjadi spot wisata religi sekaligus sejarah, serta cocok dijadikan tempat ngabuburit di bulan ramadan seperti sekarang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Yuk simak cerita unik di balik berdirinya Masjid Jami Al Makmur Cikini yang legendaris di pusat Kota Jakarta itu.

Foto: YouTube White Dome

Berawal dari Tanah Warisan Maestro Lukis Raden Saleh

Sejarah berdirinya Masjid Jami Al Makmur dimulai ketika mestro lukis kenamaan Indonesia Raden Saleh, mewakafkan tanah milik pribadinya.

Ketika itu sebelum tahun 1890, Raden Saleh baru saja pulang dari Belanda. Ia kemudian menemukan jodohnya di Bogor dan memutuskan untuk menetap di kawasan Menteng Jakarta.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip laman majalah digital Jakita Pemprov Jakarta, Raden Saleh terpikir untuk menetap di Jakarta yang kala itu bernama Batavia. Ia kemudian membeli sebidang tanah dan mewakafkannya untuk dibangun musala kecil.

Berawal dari Musala Sederhana

Dalam laman dunia masjid Islamic center disebutkan bahwa musala ini sangat kecil dan sederhana.
Saking tradisionalnya, dinding musala terbuat dari anyaman bambu serta kayu. 

Lambat laun tanah wakafnya itu dijual Raden Saleh kepada keluarga Alatas, yang merupakan
pengusaha kaya keturunan Arab Saudi. Tanah ini kemudian diwariskan kembali kepada putranya yang bernama Ismail Alatas.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Ismail Alatas menjadi sosok yang sempat berpengaruh di masa itu. Saking populernya, jalan di wilayah tersebut dikenal sebagai Alatas Land. Sayangnya, ketika itu sang anak tidak mengetahui bahwa musala di lahan tersebut merupakan warisan dari Raden Saleh dan justru menjualnya.

Sempat Memicu Konflik

Sempat Memicu Konflik
Dok. Istimewa

Dahulu, lahan beserta musala itu sempat dibeli oleh Koningin Emma Stichting (Yayasan Ratu
Emma).

Yayasan ini bergerak di bidang sosial agama Kristen milik orang Belanda, sekaligus menganalkan ajaran agama Kristen.

Setelah tanah tersebut menjadi milik Koningin Emma Stichting, pihak pengelola merasa keberatan adanya bangunan tempat ibadah di sana. Padahal musala itu berada di luar tanah yang ia beli.

Karena desakan dari pihak yayasan, akhimya musala itu dipindahkan beberapa meter dari tempat asalnya untuk menghindari konflik sosial.

Digotong Secara Manual Karena Akan Digusur

Digotong Secara Manual Karena Akan Digusur
Dok. Istimewa

Setelah muncul kesepakatan, musala akhirnya dipindahkan oleh warga dengan cara digotong secara manual.

Terdapat banyak orang yang ikut memanggul bangunan musala secara tradisional. Musala pun berhasil dipindahkan dari lahan tersebut.

Namun setelah pemindahan berlangsung, rasa tidak puas masih dirasakan yayasan Emma Sticting.
Pihak Emma mengaku masih ingin memindahkan musala tersebut ke tanah yang lebih jauh ini. Namun keinginannya itu lantas mendapat penolakan dari warga.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Hal ini mendapat respon dari tokoh-tokoh Islam kenamaan seperti H.O.S. Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam), Haji Agus Salim dan Abikusno Cokrosuyoso. Kuatnya persatuan ini, membuat mereka dan umat Islam di sana pasang badan.

Mendapat kabar akan adanya penggusuran susulan, mereka pun menyiapkan senjata tajam.

Ini digunakan untuk mengusir Belanda yang berniat jahat untuk memindahkan bangunan musala. Kejadian ini berlangsung sampai pertengahan tahun 1930.

Dibangun Menjadi Sebuah Masjid

Dibangun Menjadi Sebuah Masjid
Dok. Istimewa

Pada 1932, musala berbahan dinding anyaman bambu dan kayu itu kemudian direnovasi.

Pembangunan juga dikomandoi oleh Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam), Haji Agus Salim dan
Abikusno Cokrosuyoso yang tidak ingin masjid ini kembali digusur.

Ketika itu desainnya menggunakan gaya Indische yang populer dan melambangkan bangunan modern. Fasadnya dibuat melengkung setengah lingkaran. Lalu dindingnya disusun dari tumpukan batu sungai berwarna hitam. Bagian dalamnya dibuat layaknya kastil Eropa, dengan
banyak pilar.

Karena arsitektur dan nilai sejarahnya yang kuat, Gubernur DKI Jakarta tahun 1993 meresmikan
bangunan masjid sebagai cagar budaya yang dilindungi.

Karena arsitektur dan nilai sejarahnya yang kuat, Gubernur DKI Jakarta tahun 1993 meresmikan<br>bangunan masjid sebagai cagar budaya yang dilindungi.
Dok. Istimewa
Rekomendasi