Kemenkes Sebut 89 Persen Orang Indonesia Minum Air Tak Aman, Begini Penjelasannya

Saat ini 89,1 persen masyarakat masih meminum air yang masuk dalam kategori tidak aman karena mengandung sejumlah bakteri yang bisa menimbulkan gangguan pencernaan.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kemenkes Sebut 89 Persen Orang Indonesia Minum Air Tak Aman, Begini Penjelasannya
Air minum kemasan. boldsky.com

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Vensya Sitohang, menyoroti kondisi air minum yang kerap dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Menurutnya, saat ini 89,1 persen masyarakat masih meminum air yang masuk dalam kategori tidak aman karena mengandung sejumlah bakteri yang bisa menimbulkan gangguan pencernaan.

“Sekitar 89,1 persen masyarakat kita masih meminum air yang tidak aman,” beberVensya dalam Diskusi Pegiat Air Minum dan Sanitasi yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (5/11), dilansir dari Antara.

Air Minum Mengandung Bakteri E.Coli

Dalam forum tersebut, Vensya membeberkan jika bakteri yang banyak terkandung dalam air minum berjenis Escherichia coli atau E. coli.

Keberadaan bakteri tersebut membuat jumlah masyarakat yang menderita penyakit diare di Indonesia masih cukup tinggi. Oleh sebab itu, Vensya menekankan jika masyarakat masih memerlukan air yang tidak hanya layak tapi juga aman untuk dikonsumsi.

“Bila bicara soal air minum, itu sekarang sudah tidak bisa kita bicara soal layak, tapi harus soal aman. Karena air minum yang layak bukan air minum yang aman,” tegas dia.

OMS Sebagai Solusi

Menurut Vensya, saat ini diperlukan adanya bantuan dari Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) yang dapat menyebarkan praktik kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Nantinya organisasi tersebut bisa mendorong masyarakat menjadi higienis, sehat, dan memiliki akses sanitasi yang baik.

Melalui OMS, diharapkan banyak pihak yang akan terinspirasi untuk mencontoh dan memodifikasi inovasi-inovasi yang dibuat untuk meningkatkan kualitas sanitasi yang ada di masyarakat.

OMS juga bisa menjadi jejaring kerja sama sebagai langkah kampanye edukasi warga seperti setop buang air besar sembarangan juga membentuk budaya cuci tangan pakai sabun.

Pemenuhan Akses Sanitasi Menjadi Langkah Indonesia Sehat

Vensya menambahkan, OMS juga dapat mendukung program sanitasi total berbasis masyarakat yang dijalankan Kemenkes untuk menciptakan lingkungan yang kondusif serta mampu meningkatkan kebutuhan dan akses sanitasi masyarakat di lingkup pelayanan umum seperti sekolah, kantor, rumah makan, Puskesmas juga terminal.

Dirinya berharap akan semakin banyak OMS yang tergabung bersama pemerintah untuk menciptakan lingkungan hidup yang bersih, sehingga masyarakat yang terkena berbagai penyakit akibat air yang tidak bersih dapat berkurang dan taraf kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik.

“Sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), telah bermitra dengan berbagai OMS dalam pelaksanaan STBM termasuk untuk kampanye dan advokasinya. Mudah mudahan ke depan akan semakin baik lagi dan semakin banyak OMS yang terlibat,” jelasnya.

Rekomendasi