Warisan budaya dan keagamaan selalu menjadi hal yang unik dari berbagai wilayah di Nusantara. Banyak tradisi yang telah diyakini bertahun-tahun lamanya sebagai medium keselarasan umat manusia dengan sang pencipta dan sebagai penghalau dari sebuah musibah yang terus diyakini secara turun temurun.
Hal tersebutlah yang saat ini masih dijalani di sebuah Masjid di Cirebon bernama Masjid sang Cipta Rasa. Masjid kuno yang berada di Kawasan Komplek Keraton Kasepuhan, Lemah Wungkuk Cirebon itu memiliki tradisi unik yaitu Azan Pitu. Konon Azan Pitu pernah digunakan sebagai pemusnah wabah di zaman dahulu.
Advertisement
Menurut Budayawan Cirebon yang dilansir dari Liputan6, bahwa Azan Pitu merupakan tradisi islami yang sudah berlangsung selama ratusan tahun di Masjid Sang Cipta Rasa Kota Cirebon. Hal tersebut juga merupakan perintah langsung Sunan Gunung Jati untuk membasmi wabah serta sihir dari Pendekar bernama Menjangan Wulung.
Konon sihir dari Menjangan Wulung adalah membuat warga Cirebon meninggal saat azan tiba dengan berdiam diri diatas kubah saat Azan tiba (ada yang menyebut jika Menjangan menaruh cairan racun di Kubah Masjid).
Setelah itu, Sunan Gunung Jati langsung memerintah untuk melaksanakan Azan di Masjid Sang Cipta Rasa dan dilakukan oleh 7 orang sehingga Menjangan Wulung pun terkalahkan oleh Azan dari tujuh orang tersebut. Itulah mengapa disebut Azan pitu (Azan tujuh).
Advertisement
Versi kedua dari sejarah Azan Pitu dikatakan juga, menurut Nurdin M Noer bahwa suatu Ketika Masjid Sang Cipta Rasa dilanda kebakaran hebat, segala upaya dikerahkan namun sia sia.
Saat itu istri dari Sunan Gunung Jati yang bernama Nyi Mas Pakungwati menyarankan untuk dilaksanakan Azan oleh 7 orang muazin dan akhirnya padam.
Advertisement
Dilansir dari Merdeka.com, bahwa pelaksanaan Azan oleh tujuh muazin tersebut biasa dilantunkan saat Azan pertama dan Azan kedua menjelang Sholat Jumat.
Azan tersebut akan terdengar lebih keras untuk memanggil jamaah agar datang ke Masjid untuk melaksanakan sholat. Selain itu hari Jum'at merupakan hari yang baik.
Advertisement
Menurut Nurdin yang juga merupakan wartawan senior budaya tersebut menjelaskan jika makna simbolis dari tujuh orang muazin atau azan pitu ialah sebagai makna dari 7 buah mahzab Agama islam yang dipakai oleh masyarakat Cirebon.
"Azan pitu yang masih dilakukan hingga kini bukan untuk mengusir sinatria jahat, tetapi untuk menyatukan berbagai mazhab yang ada saat itu. Azan pitu merupakan hasil ijtihad para ulama terdahulu," terangnya.
Advertisement
"Makna lain yang terkandung dalam Azan Pitu khas Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ialah menggambarkan 7 hari dalam sepekan yang selalu diberkahi oleh Allah swt," kata Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat.
Advertisement
Menurut Sultan Sepuh Arief menjelaskan juga bahwa Azan yang dikumandangkan oleh ketujuh muazin merupakan sebuah pengarapan dan doa agar umat manusia diberbagai wilayah termasuk Cirebon bisa terbebas dari segala macam bencana termasuk musibah.
"Selain menjaga tradisi, azan pitu juga mengandung doa dan pengharapan agar terlindung dari segala bencana dan musibah. Selain itu, azan pitu juga dianggap sebagai suatu seni religi yang adi luhung" ungkapnya.
Advertisement
Dikatakan bahwa Azan Pitu tersebut bisa menghalau wabah jika dibarengi oleh doa saat azan tersebut. Menurut Ismail sebagai penjaga masjid, zaman dahulu mengacu pada sejarah Islam di Cirebon bahwa saat itu Cirebon dihantui oleh wabah penyakit aneh akibat sihir dari Menjangan Wulung.
Dahulu ahli sihir tersebut tidak suka akan banyaknya umat Islam di Cirebon. Lalu Menjangan Wulung pun menebarkan penyakit misterius sehingga membuat Sunan Gunung Jati dengan Istrinya, Nyimas Pakungwati berupaya memberantasnya dengan Azan yang dilakukan oleh Tujuh orang.