Mengenal Tarawangsa, Alat Musik Tradisional Sunda Khas Sumedang dan Makna di Baliknya
Merdeka.com - Tarawangsa merupakan alat musik tradisional daerah Jawa Barat yang menyerupai kecapi. Alat musik yang dimainkan dengan cara digesek ini amat populer di Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Alat musik ini identik dengan perayaan saat panen.
Melansir dari Liputan6.com, pada Senin (15/3), Tarawangsa memiliki fungsi sebagai sarana rasa syukur para petani atas hasil panen padi yang melimpah. Biasanya, para petani akan memainkan alat musik tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri atau dewi kesuburan.
Melihat fungsinya yang kerap dikaitkan dengan ranah pertanian, ternyata alat musik tradisional ini memiliki makna khusus di baliknya. Apa itu?
Makna Kata Tarawangsa
Sebagai instrumen tradisi, alat musik Tarawangsa memiliki makna di balik namanya. Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, secara etimologi istilah Tarawangsa berasal dari tiga gabungan kata yakni Ta – Ra – Wangsa. Ta merujuk pada akronim dari kata ‘Meta’ (bahasa Sunda) yang berarti pergerakan.
Kemudian ‘Ra’ yang berarti api yang agung (berasal dari bahasa Arab) yang berarti api agung atau besar alias matahari. Dan yang terakhir adalah ‘Wangsa’ sinonim dari kata Bangsa.
Sehingga, Tarawangsa bermakna manusia yang menempati satu wilayah dengan beragam aturan mengikat. Atau bisa juga diartikan sebagai kisah kehidupan bangsa matahari yang melakukan penyambutan hasil panen padi, bergantung pada matahari sekaligus simbol rasa syukur terhadap Tuhan.
Medium Penyelamat Kehidupan

©2020 Merdeka.com
Dilansir dari media.neliti.com, Ela Yulaeliah memaparkan jika alat musik Tarawangsa merupakan bentuk komunikasi pertanian dari masyarakat di Rancakalong, Sumedang. Berkaitan dengan adanya kebiasaan menampilkan Tarawangsa untuk memberikan keselamatan, dan keberkahan di masa panen yang akan datang.
Masyarakat Rancakalong percaya, jika alat musik Tarawangsa mampu menghantarkan hasil panen yang bagus dan meningkat setiap waktunya. Pertunjukan musik tradisional ini dilakukan pada upacara Ngalaksa (upacara panen padi).
“Dalam pementasan Tarawangsa, masyarakat Rancakalong memiliki keyakinan jika terdapat kharisma Dewi Sri di dalam butiran padi yang secara turun temurun memberikan mereka kehidupan melalui hasil panennya,” terang Ela, dalam tulisan Tarawangsa dan Jentreng sebagai Sarana Komunikasi Warga.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya