Doa Menyembelih Hewan dan Artinya, Berikut Tata Caranya Menurut Ajaran Islam

Kamis, 30 Desember 2021 09:34 Reporter : Novi Fuji Astuti
Doa Menyembelih Hewan dan Artinya, Berikut Tata Caranya Menurut Ajaran Islam Ilustrasi sapi. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Gerard Koudenburg

Merdeka.com - Pemotongan atau penyembelihan hewan merupakan titik kritis kehalalan daging sebagai bahan pangan. Adapun dalam sudut pandang syariat Islam, kehalalan bahan pagan memiliki batas-batas yang jelas, baik zat atau pun sifat dari bahan pangan yang dikonsumsi.

Dalam hal bahan pangan asal ternak (daging) penyembelihan merupakan metode yang diberlakukan oleh syara bagi umat Islam dalam memperoleh kehalalan daging suatu binatang untuk dimakan.

Para ulama telah banyak memberikan arahan dan bimbingan dalam memilah dan memilih bahan pangan yang halal. Saat menyembelih hewan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan adalah pengucapan doa.

Lebih jauh berikut ini informasi mengenai doa menyembelih hewan dan artinya, lengkap dengan tata caranya menurut ajaran Islam telah dirangkum merdeka.com melalui NU Online dan digilib.uinsby.ac.id.

2 dari 3 halaman

Doa Menyembelih Hewan


اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ

Allâhumma hâdzihî minka wa ilaika, fataqabbal minnî yâ karîm

Artinya, “Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari-Mu. Dan dengan ini aku bertaqarrub kepada-Mu. Karenanya hai Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah taqarrubku."

3 dari 3 halaman

Tata Cara Menyembelih Hewan Menurut Ajaran Islam

Pada dasarnya, penyembelihan merupakan perkara yang ta‘abbudi yang tata cara pelaksanaannya telah ditentukan oleh syara‘. Karena itu, tidak diperbolehkan menyembelih dengan kehendak hati sendiri.

Secara umum, gambaran tentang penyembelihan dapat dibedakan kedalam dua bentuk berdasarkan keadaan hewan yang akan disembelih, yaitu penyembelihan atas hewan yang dapat disembelih lehernya (maqdur ‘alaih), dan penyembelihan atas hewan yang tidak dapat disembelih lehernya karena liar (ghair maqdur ‘alaih).

Berkenaan dengan keduanya, Fuqoha’ telah menyepakati bahwa ada dua macam cara penyembelihan yaitu dengan cara nahr, merupakan penyembelihan yakni di atas dada dan penyembelihan dengan cara zabh. Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Maqdur ‘Alaih
Dalam keadaan maqdur ‘alaih, hewan dapat disembelih dengan cara nahr, yaitu penyembelihan yang ditujukan pada bagian pangkal leher di atas dada dan dengan cara zabh. Zabh merupakan salah satu Tazkiyah.

Tazkiyah merupakan penyembelihan yang ditujukan pada ujung pangkal leher sehingga dapat melenyapkan nyawa hewan seperti dengan memburunya. Sedangkan zabh berarti memotong suatu bagian pada leher hewan yang dapat menyebabkan kematiannya.

Penyembelihan hendaknya dilaksanakan dengan menghadapkan kearah kiblat yang merupakan arah yang diagungkan. Beberapa tata cara dalam menyembelih, yaitu:

  • Menyebut nama Allah, Imam Syafi‘i menyatakan kehalalan atas sembelihan dengan menyebut nama Allah, baik karena lupa atau disengaja. Beliau memandang sunnah menyebut nama Allah atas sembelihan. Meninggalakn menyebut nama Allah dengan sengaja tidak mempengaruhi hasil sembelihan selama dilakukan oleh orang yang mempunyai keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  • Mengasah pisau penyembelihan jauh dari hewan sembelihan.
  • Menjauhkan hewan yang disembalih jauh dari hewan lainnya.
  • Membawa dan membaringkannya dengan lembut dan menyenangkannya.
  • Hendaknya digulingkan kesebelah rusuk kirinya, agar memudahkan bagi orang yang menyembelihnya.
  • Kerongkongan dan tenggorokan harus terpotong.

2. Ghair maqdur ‘alaih
Berkenaan dengan hewan ghair maqdur ‘alaih yang terbagi atas hewan buruan dan hewan ternak yang karena suatu hal menjadi liar dihukumi sama dengan hewan buruan. Hewan dalam keadaan ini bisa dibunuh dibagian manapun dari tubuhnya dengan menggunakan benda tajam atau alat apapun yang dapat mengalirkan darah dan mempercepat kematiannya.

Ulama‘ fiqih menyepakati bahwa selama masih ada hayyat mustaqirrahnya, maka hewan tersebut boleh disembelih. Tanda-tanda hayyat mustaqirrah adalah gerakan yang keras pada hewan setelah diputuskan bagian-bagian tubuhnya disertai dengan memancar dan mengalirnya darah dengan deras.

Jadi, jika penyembelihan dilakukan secara perlahan dan usaha pemotongan terlalu lamban sehingga ketika penyembelihan selesai ternyata hewan itu tidak bergerak-gerak lagi berarti nyawanya yang menetap telah tiada sebelum sempurnanya penyembelihan. maka jelaslah hewan itu belum sempat disembelih sudah mati dan halal dimakan.

Jika nyawanya sudah tidak menetap lagi sebelum disembelih, maka tidak halal dimakan kecuali sebelumnya telah disembelih secara darurat. Dalam hal ini, mengalirnya darah dari urat leher setelah pemotongan bukan merupakan petunjuk atas adanya nyawa yang menetap.

3. Stunning
Seiring dengan kemajuan zaman, ditemukan hal-hal baru yang sekiranya dapat membaikkan hewan sembelihan, salah satunya penemuan baru yang sekarang mulai dipraktekkan adalah stunning yang merupakan salah satu istilah teknis dalam bidang peternakan.

Secara praktis stunning adalah menembak hewan pada sisi tanduknya dengan menggunakan peluru khusus untuk menghilangkan kesadarannya agar tidak terlampau merasakan sakit akibat dari sembelihan. Dalam keadaan pingsan inilah hewan disembelih.

Hal ini sesuai dengan fatwa MUI tanggal 18 oktober 1976 tentang penyembelihan hewan secara mekanis yang menyatakan bahwa teknik pemingsanan pada hewan sebelum penyembelihan dapat dibenarkan menurut syari‘at Islam, karena hal ini meupakan salah satu upaya untuk meringankan rasa sakit hewan setelah penyembelihan.

[nof]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini