Cerita di Balik Kue Kembang Goyang yang Legendaris, Cara Ibu-Ibu Betawi Menghibur Belanda

Kabarnya, saat itu ibu-ibu menyajikan kue kembang goyang untuk menghibur para tamu Belanda yang singgah.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Cerita di Balik Kue Kembang Goyang yang Legendaris, Cara Ibu-Ibu Betawi Menghibur Belanda
Cerita di Balik Kue Kembang Goyang yang Legendaris, Cara Ibu-Ibu Betawi Menghibur Belanda (Merdeka.com)

Kabarnya, saat itu ibu-ibu menyajikan kue kembang goyang untuk menghibur para tamu Belanda yang singgah.

Bagi masyarakat Betawi, kue Kembang Goyang jadi sajian camilan yang wajib hadir di rumah-rumah mereka. Kudapan mirip kerupuk ini juga selalu ada di berbagai acara kebudayaan, termasuk pernikahan, tujuh bulanan kehamilan dan khitanan.

Makanan ini disukai karena bentuknya mirip bunga, teksturnya renyah dan rasanya yang manis.

Dalam satu acara hajatan, ada lebih dari 10 toples yang disebar di meja-meja tamu agar hadirin bisa dengan mudah menikmatinya.

Namun siapa sangka jika kue ini jadi salah satu makanan kuno warisan masa kolonial warga Jakarta. Ya, kembang goyang memang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun silam dan menjadi kue rumahan buatan ibu-ibu Betawi asli. 

Kabarnya, saat itu ibu-ibu menyajikan kue kembang goyang untuk menghibur para tamu Belanda yang singgah.

Kue ini juga jadi perekat hubungan antara warga pribumi dengan bangsa kolonial. Berikut kisahnya.

Apa Itu Kembang Goyang?

Apa Itu Kembang Goyang?
Dok. Istimewa

Menurut situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, kue kembang goyang merupakan kudapan ringan yang terbuat dari campuran bahan tepung beras, air, santan, telur dan garam.

Dinamakan kembang goyang karena bentuk kue yang menyerupai kembang dan proses menggorengnya yang digoyang-goyang (digerak-gerakan) agar adonan bisa lepas dari cetakan di minyak panas.

Kue ini punya tekstur yang renyah, dengan cita rasa manis, gurih dan sedikit asin. Tak heran jika kehadirannya cocok untuk menemani masa bersantai di rumah.

Dikembangkan Warga Betawi

Sampai sekarang,kembang goyang tidak kehilangan pamor dan masih disukai termasuk di kalangan anak-anak muda.

Hal itu yang kemudian mendorong para perajin kembang goyang berinovasi dengan beberapa rasa seperti asin, manis, pandan, gula merah dan keju.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Biasanya, para penjual mengemas kembang goyang dengan wadah plastik ukuran sedang dan besar sesuai permintaan pasar. Kue ini dijual di toko oleh-oleh khas Betawi dengan harga yang relatif ramah di kantong.

Untuk Menghibur Orang Belanda

Untuk Menghibur Orang Belanda
Dok. Istimewa

Jika ditarik di masa-masa awal kehadirannya, tak terlepas dari upaya ibu-ibu Betawi untuk menciptakan sebuah sajian yang disukai oleh kalangan bangsa Eropa.

Beberapa catatan lawas mengatakan bahwa kue ini merupakan sajian khusus orang Betawi saat dikunjungi oleh warga Belanda di rumah maupun kampung mereka. Kabarnya, Belanda menyukai kue ini sehingga merasa senang saat disuguhi kembang goyang.

Sampai sekarang, kue ini selalu jadi pendamping setia kudapan khas Betawi lainnya yakni dodol.

Populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Selain Betawi, wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur jadi daerah yang memiliki kudapan serupa dan dengan nama yang sama, yakni kembang goyang. Dari sisi rasa, kue di Jawa Tengah dan Jawa Timur hanya khusus manis dan tidak banyak varian seperti yang dibuat oleh masyarakat Betawi di Jakarta.

Namun ada cerita unik terkait asal usul kehadirannya. Masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Timur menciptakan kue kembang goyang karena terinspirasi dari sanggul yang biasa digunakan oleh perempuan di keraton.

Konon, dahulu orang-orang Jawa sangat terkesima dengan hiasan bunga di sanggul yang digunakan oleh para pemaisuri keraton. Dari sana, bentuk ini diadaptasi ke makanan ringan yang saat ini dinamakan kembang goyang.

Karena bentuknya yang cantik dengan rasa yang manis, kue ini lantas disukai masyarakat sekitar hingga jadi sajian khas kebudayaan setempat. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sampai sekarang, kue kembang goyang mudah dijumpai di sekitar Jakarta hingga Jawa Timur.

Rekomendasi