Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Profil

I Made Suatjana

Profil I Made Suatjana | Merdeka.com

Berawal dari iseng dan kompetisi antar teman dalam bidang komputer, I Made Suatjana, seorang arsitek lulusan Universitas Aachenlife, merancang satu program yang dapat melestarikan budaya Bali. Berpikiran bahwa komputer adalah mesin canggih yang kelak ke depannya akan semakin maju, sehingga berkemungkinan akan meninggalkan segala hal yang dianggap kuno, seperti budaya.

Tidak ingin memusnahkan budaya, khususnya Bali yang diperkirakan jumlah penutur akan semakin musnah, pria kelahiran Gadungan, 14 Mei 1947 ini merancang sebuah program yang memadukan unsur teknologi dengan budaya. Saat itu, pria yang akrab disapa Suatjana ini merancang sebuah program aksara Bali yang nantinya terprogram pada komputer. Maka, pada tahun 1983, Suatjana mulai merealisasikan rancangannya. Bukan perkara mudah tentunya mengingat saat itu komputer baru berbasis DOS dengan font yang seadanya. Tak hanya itu, mengubah huruf dari bentuk font biasa menjadi font aksara Bali yang asimetris juga mempunyai kerumitan tersendiri. 

Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, pada tahun 1988, Suatjana mulai membentuk huruf-huruf aksara Bali dengan garis putus-putus. Ide tersebut berawal dari adanya program chiwriter, sebuah program yang berisi aneka simbol yang salah satunya adalah matematika, kimia, dan fisika. Berlanjut ketika program windows mulai dikenalkan pada khalayak ramai, suami dari Made Suratmi ini kian mengembangkan dan menyempurnakan rancangannya dengan bantuan program makro hingga pada tahun 1995 aksara Bali bernama Bali Simbar ini lahir. 

Tak berhenti sampai di sana, ayah dari Asri Utama, Made Wira, dan Kerti Triasari ini terus melakukan penyempurnaan tanpa henti. Bekerjasama dengan Aken Life dan yayasan Dwijendra, program hasil rancangan Suatjana berhasil diresmikan oleh Pemda Bali dan mulai dikenalkan pada masyarakat dan berganti nama menjadi Bali Simbar Dwijendra pada tahun 1996. 

Berhasil membuat rancangan aksara Bali yang jika kita memasukkan sejumlah kata atau kalimat akan terdeteksi rupa aksaranya, Suatjana mulai membuat alih aksara lontar. Ia mengaku belum puas jika programnya hanya bisa menyalin, ia khawatir makna yang ditampilkan komputer akan berbeda pada penggunanya yang berbeda.

Pada awal tahun 2000-an, seorang teman menyarankan Suatjana untuk mematenkan programnya pada Unicode, standardisasi komputasi dunia untuk teks yang dikoordinasi oleh Unicode Consortium yang berpusat di Amerika Serikat. Tak butuh waktu lama, pada tahun 2006 Bali Simbar Dwijendra akhirnya diakui dan dibakukan secara internasional. Bahkan pada tahun 2009, Bali Simbar Dwijendra sudah dilengkapi dengan sistem koreksi di mana jika kita memasukkan sebuah kata atau kalimat maka akan ada hasil koreksinya. 

Gagasan Suatjana memang cemerlang, berlatar belakang melestarikan budaya bangsa dengan menggabungkan teknologi, Suatjana layak diapresiasi dengan Penghargaan Rancage Bidang Sastra pada tahun 2008 setelah sebelumnya mendapatkan Penghargaan Khusus dari Pemerintah Bali.

 

Riset dan Analisis: Atiqoh Hasan