Westerling Serbu Bandung, APRA Duduki Markas Staf Divisi Siliwangi

Jumat, 14 Oktober 2022 06:04 Reporter : Merdeka
Westerling Serbu Bandung, APRA Duduki Markas Staf Divisi Siliwangi Pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Kapten Raymond Sterling. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk dari hasil kompromi antara Indonesia dengan negara-negara federal ciptaan Belanda yang dicapai dalam Konferensi Inter-Indonesia dan Konferensi Meja Bundar (KMB). Sejak RIS terbentuk, pertentangan datang dari rakyat.

Sebagian besar menghendaki kembali kepada negara kesatuan. Tetapi ada juga kelompok-kelompok yang mendukung bentuk negara federal ini.

Mereka yang termasuk kelompok federalis merasa jika Belanda meninggalkan Indonesia maka akan kehilangan bantuan dan kekuasaan.

Karena itu mereka melakukan Gerakan untuk mempertahankan bentuk negara federalis. Salah satunya dengan Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung.

2 dari 4 halaman

APRA: Gerakan Dipimpin Tentara Belanda

Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) merupakan gerakan yang dipimpin bekas kapten tentara Belanda, yakni Kapten Raymond Westerling. Gerakan ini juga didukung golongan kolonialis dengan alasan untuk mengamankan kepentingan ekonomi mereka.

Untuk melancarkan gerakannya, Kapten Raymond Westerling mempermainkan kepercayaan rakyat tentang akan datangnya Ratu Adil. Westerling juga menyadari sebagian besar rakyat Indonesia yang telah lama menderita di bawah kolonialisme, mendambakan kehidupan yang makmur. Seperti diramalkan Jayabaya.

Menurut ramalan Jayabaya akan datang seorang pemimpin yang disebut Ratu Adil. Dia yang akan memerintah rakyat dengan adil dan bijaksana. Sehingga keadaan aman dan damai, rakyat akan makmur dan sejahtera.

Tujuan dari Gerakan ini jelas. Yakni mempertahankan bentuk federal Indonesia dan mempertahankan adanya tentara atau pasukan tersendiri di negara-negara bagian RIS.

3 dari 4 halaman

Serangan ke Bandung

Pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) terdiri dari kurang lebih 523 orang. Kira-kira 300 anggota bersenjata lengkap menyerang kota Bandung pada pagi hari 23 Januari 1950. Sehari sebelum serangan tersebut, pimpinan Divisi Siliwangi telah mensinyalir adanya kelompok bersenjata yang akan menyerang kota Bandung.

Akan tetapi, sebelum mereka sempat mengadakan persiapan untuk mengantisipasi, Westerling terlebih dahulu melancarkan serangannya. Dalam Gerakan ke Bandung, pasukan APRA melucuti anggota polisi di pos Cimindi, Cibeureum, dan pabrik Mecaf. Para pasukan tersebut juga membunuh setiap tentara yang mereka temui.

Mereka berhasil menduduki Markas Staf Divisi Siliwangi setelah membunuh hampir seluruh regu jaga yang berjumlah 15 orang serta Letnan Kolonel Lembong. Menurut catatan Mamet Tanudjiwa, hanya 3 orang yang selamat meloloskan diri dari pengepungan pasukan APRA.

Gerakan APRA di Kota Bandung menewaskan 79 anggota Angkatan Perang RIS (APRIS) dan menyebabkan banyak korban dari warga sipil. Pemerintah RIS segera mengirimkan bala bantuan ke Bandung. Kepolisian RIS mengerahkan satuan Mobiele Brigade Polisi dari Jawa Timur yang dipimpin oleh Komisaris Polisi II Sutjipto Judodihardjo.

Sementara itu, perundingan antara Perdana Menteri Moh. Hatta dan Komisaris Tinggi Belanda tengah berlangsung. Hasilnya, Komisaris Tinggi Belanda memerintahkan Mayor Jenderal Engels (Komandan Tentara di Bandung) untuk memukul mundur Westerling dan pasukannya dari kota Bandung.

Seperti yang diungkapkan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, sore harinya pasukan APRA berhasil dipukul mundur dan menyebar ke berbagai tempat. Pasukan APRA yang bergerak ke arah Jakarta dihancurkan oleh Angkatan Perang RIS (APRIS) di daerah Cianjur.

4 dari 4 halaman

Dampak Peristiwa

Setelah kejadian tersebut, pasukan APRIS secara intensif melakukan razia. Tokoh-tokoh yang diduga terlibat dalam gerakan APRA ditangkap. Beberapa diantaranya seperti Anwar Tjokroaminoto (Perdana Menteri Pasundan), Komisaris Besar Polisi R. Jusuf, Komisi Besar Polisi Djanankum, Surja Katalegawa, dan Male Wiranatakusumah.

Gerakan tersebut juga menyebabkan Wali Negara Pasundan R.A.A. Wiranatakusumah mengundurkan diri. Pemerintah RIS lantas mengangkat Sewaka sebagai Komisaris RIS untuk Negara Pasundan.

Pengangkatan tersebut tidak sesuai dengan keinginan mayoritas rakyat yang memilih untuk bergabung dengan RI. Oleh karena itu, tanggal 8 Maret 1950 terjadi demonstrasi di Bandung yang menuntut pembubaran negara Pasundan.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini