Memakai seragam militer saja sudah nyaris tidak pernah. Tapi tiba-tiba dipilih presiden.
Presiden Soeharto selalu punya pertimbangan saat memilih Panglima TNI.
Tidak selalu melewati jalur reguler seperti yang lazim dilakukan saat ini. Atau menunjuk satu dari kepala staf angkatan.
Saat memilih Jenderal M Jusuf menjadi Panglima TNI tahun 1978 pun Soeharto mengejutkan banyak pihak.
Jusuf diangkat menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sebutan TNI waktu itu.
Advertisement
Advertisement
Jenderal M Jusuf Saat itu Sudah Lama Berdinas di Luar TNI
Belasan tahun dia dikaryakan menjadi menteri perindustrian.
Sejak G30S/PKI tahun 1965, Jusuf sendiri mengaku hanya sempat mengenakan pakaian seragam militer beberapa kali.
Jabatan terakhir Jusuf di TNI adalah Pangdam XIV/Hasanudin. 'Kurang lengkap' jika dibanding para perwira senior lainnya.
Pada Maret 1978, Jusuf tiba-tiba ditelepon untuk menghadap Presiden Soeharto di Jalan Cendana.
Ternyata Jusuf diminta menggantikan Jenderal Panggabean sebagai Panglima. Apa pesan Soeharto?
"Perkuat dan bangkitkan kemanunggalan ABRI dan rakyat." Hanya itu pesan Soeharto untuk Jenderal M Jusuf.
Jusuf pun meminta masukan dari banyak senior sebelum diangkat menjadi Panglima.
Advertisement
Advertisement
Latihan Baris Berbaris
Sebelum dilantik, Jusuf segera memanggil protokoler Departemen Pertahanan Keamanan.
Dia merasa harus belajar baris berbaris kembali. Maklum sudah 12 tahun Jusuf tidak melakukan baris berbaris seperti tata cara kemiliteran.
Serah terima jabatan itu berlangsung dengan lancar. Presiden Soeharto menjadi inspektur Upacara di depan 14.000 prajurit. Lengkap dengan drumband Akabri dan Defile Pasukan.
Semasa Jenderal M Jusuf, berbagai terobosan dilakukan. Di bidang militer, dia meremajakan alutsista TNI yang saat itu sudah usang.
M Jusuf juga menerapkan berbagai gaya baru dalam operasi militer di Timor Timur yang lebih efektif.
Advertisement
Panglima Para Prajurit
M Jusuf juga dikenal sangat dekat dengan para prajurit. Dia sering blusukan ke pelosok daerah untuk melihat langsung kehidupan para prajurit.
Karena kedekatannya, Jusuf disebut Panglima Para Prajurit. Dia benar-benar memperhatikan kesejahteraan prajurit, terutama yang berpangkat rendah.
Sosok M Jusuf menjadi sangat populer semasa Orde Baru. Hal yang tidak disukai penguasa saat itu.