Sejarah Islam: Pesantren dan Empat Pilar Masjid Bungkuk Peninggalan Abad 18
Merdeka.com - Masjid At-Thohiriyah atau Masjid Bungkuk di Pagentan, Singosari, Malang awal dibangun abad 18 Masehi. Keberadaan masjid tersebut tidak lepas dari aktivitas dakwah di kawasan Malang bagian utara oleh Kyai Hamimuddin.
Kiai Hamimuddin merupakan anggota laskar pasukan Pangeran Diponegoro yang melarikan diri saat kalah dalam Perang Jawa (1825-1830). Kekalahan tersebut membuat laskar tercerai-berai dalam pelarian ke beberapa daerah termasuk ke Malang.
Keluarga Kiai Hamimuddin, KH Moensif Nachrawi (87) menceritakan, berdasarkan dokumen keluarga dan cerita turun-temurun bahwa pembangunan masjid Bungkuk sudah didahului dengan aktivitas dakwah di gubuk-gubuk kecil.
"Dari laskar Diponegoro yang semburat (melarikan diri), satu (Kyai Hamimuddin) lari ke sini. Bikin gubug, disebut gubug karena memang terbuat dari ayaman bambu, gedeg dan bangunan kecil untuk mengajar mengaji dan sholat," jelas KH Moensif Nachrawi di rumah kediamannya Jalan Bungkuk, Pagentan, Singosari, Malang, Sabtu (9/4).
©2022 Merdeka.com/Darmadi Sasongko
Asal Muasal Nama Bungkuk
Saat itu, masjid masih belum dibangun, bahkan sekitar lokasi masih dalam bentuk hutan belantara. Kawasan tersebut memang merupakan sisa-sisa kerajaan Singosari yang berjaya sekitar 500 tahun sebelumnya, dengan mayoritas masyarakatnya beragama Hindu.
Kiai Hamimuddin mengajarkan Islam dengan penuh kesabaran dan tanpa unsur paksaan. Masyarakat berbondong-bondong tertarik dengan 'agama baru' sebagai alternatif keyakinan yang sudah turun menurun saat itu.
"Ketika orang mendengar agama baru yang tidak membeda-bedakan kasta, mereka datang berbondong-bondong. Semuanya dianggap sama, tidak ada bedanya antara mereka, yang membedakan cuma taqwanya," kisahnya.
Lewat mulut ke mulut, Islam dan ajarannya semakin menyebar dan mengundang banyak orang berdatangan. Majelis atau pengajian pun mulai banyak dihadiri dari berbagai kalangan dari petani, pedagang, buruh bahkan pejabat.
"Mereka ingin diorangkan, itu sebabnya orang-orang tersebut masuk Islam. Tidak ada paksaan, dari mulut ke mulut, cerita satu dengan yang lain sehingga makin lama makin besar," tegasnya.
Sementara nama Bungkuk sendiri merupakan julukan atau sebutan oleh warga sekitar terhadap aktivitas Kyai Hamimuddin dan para santrinya. Namun seiring waktu nama itu tetap melekat hingga melekat di kawasan tersebut secara turun menurun sampai sekarang ini.
"Ketika Kiai Hamimuddin mengajar di sana, mengaji dan salat, di sana tempatnya orang Mbungkuk-Mbungkuk, tidak tahu aktivitas apa. Itu adalah aktivitas orang yang lagi sujud itu, yang diajarkan Kyai Hamimuddin. Masyarakat tahunya itu orang Mbungkuk dan Mbungkuk itu dilestarikan sebagai wilayah di sini, namanya wilayah Mbungkuk," urainya.

©2022 Merdeka.com/Darmadi Sasongko
Soko Guru Masjid Bungkuk
Ketika jumlah santri semakin banyak dan dibutuhkan tempat ibadah lebih besar maka diputuskan membangun masjid. Pembangunan masjid diperkirakan 1850, walaupun jauh sebelumnya sudah dimulai aktivitas dakwahnya.
Bangunannya dibuat lebih permanen dengan menggunakan material kayu, batu-bata dan genting, walaupun tidak terlalu besar untuk ukuran sekarang.
"Masjid yang dibangun, kalau awalnya dari bambu atau gubug saja, kemudian dibangun semi permanen, ada bata, kayu, genteng. Karena sudah dimulai genteng, maka harus ada penyangga, kuda-kuda dan tiang. Itu zamannya Kiai Hamimuddin, ketika santri mulai semakin banyak," jelasnya.
Masjid Bungkuk telah mengalami beberapa renovasi seiring usianya yang sudah 172 tahun. Tetapi bangunan aslinya berupa empat pilar utama atau soko guru masih terjaga hingga sekarang.
Empat pilar itu diposisikan di tengah-tengah masjid Masjid At-Thohiriyah sekarang. Posisinya serupa soko guru di rumah gaya Jawa, kendati saat ini tidak lagi menjadi topangan bangunan di atasnya.
"Empat tiang itu sekarang diabadikan. Karena bangunan yang sekarang sudah konstruksi modern, tidak perlu kayu, tapi bangunan yang berupa tiang empat itu dilestarikan sampai sekarang. Tidak ada rangkaiannya dengan bangunan, tapi untuk melestarikan sisa zaman Kyai Hamimuddin," jelasnya.

©2022 Merdeka.com/Darmadi Sasongko
Pesan Pangeran Diponegoro
Secara kasat mata, bagian atas terlihat kayu yang sudah lapuk atau berlubang bekas dimakan rayap atau sejenisnya. Kayu tersebut di topang oleh bagian di bawahnya yang sudah dibungkus kayu jati berukir ayat dalam Surat AlMukminun.
Begitupun bagian empat tiangnya sudah dibungkus kayu jadi berukir. Kayu aslinya tidak nampak karena berada di tengah-tengah atau dilapisi kayu jati.
Terkait keberadaan Masjid Bungkuk sebagai yang tertua di Malang Raya, KH Moensif Nachrawi tidak dapat memastikan klaim tersebut. Walaupun sejumlah sejarawan kerap memberikan pernyataan tersebut.
Karena seperti diketahui, pelarian para laskar Pangeran Diponegoro di kemudian hari banyak dikenal sebagai penyebar agama Islam. Kedatangan Kiai Hamimuddin diperkirakan semasa atau bersamaan dengan Eyang Jugo (Soeryo Koesoemo atau Kyai Zakaria II), tokoh penyebar Islam di Gunung Kawi, Wonosari, Malang.
Karena itu tidak menutup kemungkinan di Gunung Kawi atau lokasi pelarian laskar Diponegoro lain juga sudah berdiri tempat ibadah serupa. "Pesan yang sering dikatakan Pangeran Diponegoro, di manapun berada sebarkan agama Islam," tegasnya.

©2022 Merdeka.com/Darmadi Sasongko
Nama Besar dari Ponpes Bungkuk
Usai Kiai Hamimuddin, kepemimpinan pondok dilanjutkan KH Muhammad Thohir, putra mantu dari pernikahan dengan putri ketujuhnya, Murtosiah. Kiai Thohir berasal dari Banggil, Pasuruan dan masih berdarah keturunan Sunan Ampel.
Kiai Thohir dikenal walliyullah dan kharismatik. Dua Pahlawan Nasional yakni KH Hasyim Asyari dan KH Masjkur pernah menuntut ilmu kepada Kyai Thohir. KH Hasyim Asyari adalah pendiri NU dan KH Masjkur dikenal sebagai Pemimpin Laskar Sabilillah dan Menteri Agama di masa Presiden Ir. Soekarno.
Kiai Thohir meninggal dunia tahun 1933 dan Pondok dilanjutkan oleh putranya, KH Nachrowi Thohir. KH Nachrowi Thohir ini yang kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama 12 Kiai Besar lainnya. KH Nachrowi Thohir juga pernah menjabat Ketua Umum PB NU.

©2022 Merdeka.com/Darmadi Sasongko
Pondok Pesantren Bungkuk secara turun-temurun menjadi pusat kegiatan dan dakwah Islam hingga saat ini. KH Moensif Nachrawi sendiri merupakan keturunan atau generasi keempat dari KH Hamimuddin.
Para pendiri Pondok Pesantren Bungkuk atau Miftahul Falah secara turun menurun dimakamkan di depan kompleks Masjid At-Thohiriyah. Pusara-pusara itu menjadi saksi sejarah perjuangan perjalanan peradaban Islam di Malang Raya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya