Foto-Foto Langka, Ketika Mahasiswa dan Mahasiswi UI Angkat Senjata

Sejumlah foto-foto memperlihatkan aktivitas mahasiswa dalam latihan kemiliteran. Latihan kemiliteran yang diterima oleh mahasiswa, yakni penggunaan senjata dan baris-berbaris menggunakan senjata.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Foto-Foto Langka, Ketika Mahasiswa dan Mahasiswi UI Angkat Senjata
Resimen Mahasiswa Universitas Indonesia. Jejak Perjalanan Resimen Mahasiswa Universitas Indonesia 1962—2015©2023 Merdeka.com

Pada 19 Desember 1961, Presiden Sukarno mengeluarkan komando untuk melakukan konfrontasi militer dengan Belanda. Komando itu Sukarno di kota Yogyakarta. Dikenal dengan sebutan Tri Komando Rakyat (Trikora).

Trikora merupakan respons atas tindakan Belanda yang masih melanjutkan kolonialisme di Irian Barat. Padahal Indonesia sangat mengupayakan penyelesaian masalah Irian Barat secara damai. Baik melalui perundingan bilateral maupun melalui forum PBB.

"Ternyata upaya tersebut tidak membuahkan hasil, karena sikap Belanda yang tidak mau menyerahkan Irian Barat. Akhirnya, pemerintah Indonesia menarik kesimpulan sudah tidak ada gunanya berunding dengan Belanda. Oleh karena itu, harus mengubah strategi diplomasi dari defensif menjadi ofensif," seperti dikutip dalam buku Sejarah TNI Jilid III.

Seperti namanya Tri Komando Rakyat, terdapat tiga komando yang diserukan kepada seluruh Rakyat Indonesia.
1) Gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua buatan Belanda Kolonial.
2) Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia.
3) Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air Bangsa.

Seruan komando itu ditanggapi beragam reaksi. Termasuk di kalangan akademisi.

"Di Universitas Indonesia, seruan mobilisasi umum dijawab melalui pelaksanaan latihan kemiliteran sebagai sukarelawan mahasiswa pada 22 Januari 1962," seperti dikutip dalam buku Jejak Perjalanan Resimen Mahasiswa Universitas Indonesia 1962-2015.

Sejumlah foto-foto memperlihatkan aktivitas mahasiswa dalam latihan kemiliteran. Latihan kemiliteran yang diterima oleh mahasiswa, yakni penggunaan senjata dan baris-berbaris menggunakan senjata.

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Penguasa Perang Daerah (Peperda) Jakarta Raya No.063 Tahun 1962, dibentuklah Resimen Mahadjaya (Mahasiswa Djakarta Raya) yang anggotanya adalah mahasiswa dari berbagai Universitas dan Akademi di Jakarta. Termasuk di dalamnya Universitas Indonesia.

Pembentukan Resimen Mahadjaya sebagai sarana mahasiswa mendapatkan latihan kemiliteran selaras dengan Radiogram No. T-4174/1961 tentang pembentukan Brigade-Brigade Kecil dan Latihan Kemiliteran Mahasiswa dalam rangka mobilisasi oleh Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (MKN/KASAB).

Kemudian sebutan Brigade diganti menjadi Resimen melalui Radiogram No. T-105/1962 tanggal 11 Januari 1962, karena belum stabilnya kondisi kemanan dalam negeri dan dalam rangka penguatan potensi pertahanan.

Pembentukan Menwa merupakan salah satu realisasi dari sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata) di kalangan mahasiswa. Tujuan dan Fungsi pembentukan Menwa adalah memperluas usaha-usaha dalam penyelenggaraan latihan ketangkasan dan keprajuritan (Rakyat Terlatih) dalam rangka kewaspaan nasional, khususnya para mahasiswa di Perguruan Tinggi.

Memang dalam operasi Trikora tidak semua mahasiswa yang mendapatkan latihan kemiliteran diturunkan. Akan tetapi, latihan kemiliteran yang diampu oleh ABRI dapat dilihat sebagai pelibatan mahasiswa pada seruan mobilisasi umum guna penguatan Angkatan Perang.

Reporter Magang: Muhamad Fachri Rifki

Rekomendasi