Rakyat Cianjur Beri Karpet Merah Tentara Jepang, Terselip Cerita Foto Keluarga Kaisar
Merdeka.com - Disambut bak pahlawan pembebas, bala tentara Jepang diperlakukan sebagai tamu agung oleh Bupati Cianjur.
Penulis: Hendi Jo
Usai melakukan pemboman terhadap Cianjur, militer Jepang mulai melakukan pergerakan. Dari Bogor, mereka bergerak ke Puncak. Lalu turun menuju Pacet dan langsung menguasai Istana Cipanas. Di sana mereka kemudian membangun markas sebagai basis awal untuk menguasai Cianjur dan merencanakan pengepungan Bandung.
"Sebelum menuju Cianjur, mereka terlebih dahulu melakukan pembersihan terhadap pos-pos KNIL di sepanjang rute menuju Cugenang," demikian menurut manuskrip berjudul Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, 1942-1949 (disusun oleh DHC BPP JSN 45 Kabupaten Cianjur).
Pergerakan tentara Jepang itu selalu dipantau para aktivis pemuda Cianjur pimpinan Hasjim Ning (keponakan Bung Hatta) dan Kuswaya Hardjakusumah (keponakan Gatot Mangkupraja, aktivis PNI senior). Bahkan saat Jepang mulai memasuki Bogor, Gatot Mangkupraja telah mengadakan sejumlah pertemuan rahasia dengan kawan-kawan seperjuangan.
"Kemudian disiapkan bendera-bendera kecil warna putih bergambar bola merah dan ratusan kertas kecil bertuliskan: Nippon Banzai (Hidup Jepang)," ungkap Gatot dalam otobiografinya, Gatot Mangkoepradja, 1898-1968 (disusun oleh Nina H. Lubis).
Foto Keluarga Kaisar Jepang
Suatu hari para aktivis pergerakan Cianjur mendapat berita bahwa sebuah tim advance 'tentara saudara tua' berjumlah kurang lebih satu seksi (dua puluh prajurit) tengah meluncur ke Cianjur. Maka secara cepat dibentuklah tim penyambut yang terdiri dari Kuswaya, Idris dan O. Sarosi. Mereka lantas menunggu kedatangan tim kecil tentara Jepang itu di Jembatan Cibeureum (sekira 7 km dari pusat kota).
"Tak lupa mereka dibekali dengan potret keluarga Istana Kekaisaran Jepang yang dulu pernah diberikan kepada Pak Gatot saat dia melakukan kunjungan ke Jepang," ungkap E.Muchtarman yang merupakan salah satu kader Gatot di Cianjur.
Benar saja, menjelang siang, rombongan serdadu Jepang bersepeda tiba di Jembatan Cibeureum. Pakaian mereka tampak kotor dan sebagian malah sudah terlihat rombeng. Masing-masing berselempang senjata panjang berbayonet di punggung, layaknya sebuah pasukan yang baru keluar dari medan laga.
Begitu melihat ketiga anak muda pribumi seolah mencegat perjalanan mereka, para prajurit Jepang itu menghentikan sepedanya secara serentak dan langsung membuat posisi menembak. Salah seorang mendekati Kuswaya, Sarosi dan Idris.
Sayang saat Sarosi mengajak mereka berbincang dalam bahasa Inggris, orang-orang Jepang itu malah menyuruh mereka bertiga untuk mengangkat tangan lewat bahasa isyarat. Untunglah Kuswaya cepat bertindak. Dia lantas menyodorkan foto yang diberikan Gatot Mangkuparaja kepadanya.
Setelah mengamati foto itu dengan sungguh-sungguh, barulah muka para prajurit Jepang itu berubah lebih ramah. Mereka lantas menghubungi seseorang lewat radio penghubung. Setengah jam kemudian datanglah seorang perwira Jepang dengan sepedanya.
"Ternyata dia bisa berbahasa Inggris dengan fasih," ungkap Kuswaya seperti dikutip E. Muchtarman dalam otobiografinya.
Disambut bak Pahlawan
Kuswaya menyampaikan sambutan selamat datang kepada para prajurit Jepang itu. Atas nama kaum pemuda di Cianjur, dia menyilakan rombongan tersebut memasuki kota Cianjur dan langsung menemui bupati di pendopo.
Dikisahkan oleh Muchtarman, saat memasuki kota Cianjur, para prajurit Jepang itu disambut bak pahlawan oleh ratusan orang yang sudah dibekali bendera Jepang dalam ukuran kecil. Mereka yang terdiri dari anak-anak, perempuan, orang tua dan remaja berderet sepanjang jalan sambil melambaikan bendera-bendera hinomaru yang terbuat dari kertas itu.
"Banzai! Banzai Dai Nippon! Banzai!" teriak mereka.
Rupanya sebelum kedatangan orang-orang Jepang itu, para penduduk telah diajari oleh anak buah Kuswaya cara menyambut 'pahlawan mereka'.
Pada hari itu juga (29 Maret 1942), rombongan tentara Jepang yang dipimpin oleh dua perwira bernama Yanagawa Motosiga dan Togasi diterima oleh Bupati Soerja Nataatmadja alias Dalem Abas. Mereka diperlakukan layaknya seorang tamu agung. Maka sejak hari itu, resmilah Cianjur jatuh dalam kekuasaan Jepang hingga 17 Agustus 1945.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya