OPINI: Paradoks Masa Bersiap

Rabu, 26 Januari 2022 11:04 Reporter : Merdeka
OPINI: Paradoks Masa Bersiap Pasukan HMOT, direkrut dari pelaku Masa Bersiap. ©2022 Arsip Nasional Belanda

Merdeka.com - Bagaimana sebuah fase sejarah berubah menjadi bahasa politik jauh setelah masanya.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menghadiri suatu perhelatan tahunan yang diadakan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Pemakaman Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Sebelum acara berlangsung, saya merasa tertarik dengan deretan nisan putih yang berada di salah satu sudut pemakaman tersebut. Ada nama-nama remaja dan bayi (terketahui dari angka usia yang tertera di nisan salib putih mereka).

Saat berdiri di depan nisan seorang bayi lelaki berusia 4 tahun, seorang Belanda yang juga ada di sana tiba-tiba menghampiri saya. Dalam wajah muram, dia mengisahkan jika makam-makam itu adalah korban dari Masa Bersiap, zaman saat orang-orang Belanda dan Indo yang tak berdosa dibantai oleh kalangan pribumi pada 1945-1946, katanya.

"Jumlah-nya sekitar 7.000-20.000 yang menjadi korban," ungkap lelaki yang belakangan saya tahu adalah seorang jurnalis.

Hampir sebagian besar orang-orang Belanda (dan Indo) yang pernah berbicara dengan saya akan selalu bersikap sama jika berkisah tentang Masa Bersiap. Tak bisa dipungkiri, bagi mereka momen itu adalah kejahatan yang tak terampuni. Kesan saya: nada bicara mereka ketika menyebut kata "bersiap" sama dengan ketika seorang aktivis kemanusiaan menyebut kata "apartheid".

Saya tidak pernah menyangsikan kebrutalan itu. Tentu saja para narasumber yang pernah saya ajak bicara pernah menyebutkan berbagai praktik kesadisan di luar nalar manusia dalam insiden tersebut. Tetapi apakah tragedi kemanusiaan itu berdiri sendirian dalam sejarah kita? Benarkah sikap barbar itu hanya menjadi milik pribadi 'para inlander' sebagai bentuk keprimitifan mereka? Saya pikir kita harus membahasnya agak panjang.

Tahun 1927, hukum ketatanegaraan Hindia Belanda (indische staatsregeling) membagi warganegaranya menjadi 'tiga kasta':

1. Golongan Eropa dan yang dipersamakan, terdiri dari orang-orang Belanda dan keturunannya, orang-orang Eropa selain Belanda dan orang-orang bukan Eropa tetapi dianggap dan dimasukan sebagai sama dengan orang Eropa.

2. Golongan Timur Asing (vreemde oosterlingen); Tionghoa, Arab, India, Jepang dan lain-lain.

3. Golongan Bumiputra (inlander), yang terdiri dari orang-orang Hindia Belanda asli.

Pembagian 'kasta' itu tentu saja berimbas dalam kehidupan keseharian di zaman tersebut. Sebagai contoh, orang-orang inlander 'diharamkan' mendatangi kawasan khusus bagi orang-orang Eropa, seperti pernah digambarkan dalam film Oeroeg (1993) besutan sutradara Hans Hylkema. Bahkan suatu plakat berbunyi "Verboden voor honden en inlanders (Terlarang untuk anjing dan bumiputra) konon pernah ditempelkan di pintu masuk menuju kolam renang khusus orang-orang Eropa (Belanda) di Manggarai, Batavia.

Belasan tahun (secara tak resmi sudah ratusan tahun) 'inlander' diperlakukan sebagai sub-human. Mau tidak mau, itu mengakibatkan bertumpuknya endapan rasa sakit dan terhina jauh di relung benak mereka. Ya, sebelum orang-orang Inggris dan Amerika memberlakukan rasisme, rupanya orang-orang Belanda di Hindia memang telah menjadi yang terdepan.

Sukarno, orang yang paling dibenci Belanda saat itu, adalah salah satu korban rasisme. Saat mengisahkan kisah cinta monyet-nya di depan delegasi pemuda Tionghoa yang pernah berkunjung ke Istananya pada Februari 1964, Sukarno menyelipkan cerita perlakuan rasis seorang Belanda kepadanya.

"Ketika melamar seorang gadis Belanda, dia ditolak dengan dikatakan vuile Javanse (orang Jawa kotor)," tulis Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran.

Sejatinya kisah percintaan itu pernah disampaikan oleh Bung Karno kepada penulis Cindy Adams. Sukarno menyebut nama gadis itu adalah Mien Hussels, yang di matanya begitu sangat cantik dan menawan.

"Aku sangat tergila-gila kepada kembang tulip berambut kuning dan pipinya yang merah mawar itu. Aku rela mati untuknya kalau dia menghendakinya," ungkap Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams).

Sukarno remaja lantas bertekad untuk menikahi Mien. Maka pada suatu hari dengan pakaian dan sepatu terbaik yang dia miliki, Sukarno mendatangi rumah Mien dan dengan bibir gemetar meminta Mien kepada Meneer Hussels.

"Kamu?! Inlander kotor, seperti kamu?! Kenapa kamu berani-beraninya mendekati anakku?! Keluar kamu! Binatang kotor! Keluar!" teriak Hussels.

Betapa sedih dan marahnya Sukarno diperlakukan begitu kasar oleh ayahnya Mien. Dia merasa bahwa penghinaan itu tak akan pernah dilupakannya seumur hidup.

Apakah orang-orang beringas yang membunuhi orang tua, balita dan perempuan pada 1945-1946 juga pernah memiliki kisah yang sama (bahkan mungkin lebih tragis) seperti Sukarno? Bisa saja.

2 dari 2 halaman

Orang Belanda juga tidak pernah tahu (atau tidak mau tahu) fakta sejarah yang menyatakan jika aksi-aksi brutal di Masa Bersiap bukan bagian dari sikap pemerintah Republik Indonesia saat itu. Adalah sangat konyol, ketika pemerintah RI membutuhkan pengakuan internasional, melibatkan diri dalam pembantaian berdarah orang-orang yang negaranya merupakan pemenang Perang Dunia II.

Alih-alih mendukung pembantaian, pemerintah RI di bawah Perdana Menteri Sutan Sjahrir malah memerintahkan aparat tentara dan polisinya untuk melindungi orang-orang Belanda yang ada di beberapa kamp internir. Itu ditulis oleh sejarawan Belanda sendiri yakni Marry C. van Delden dalam disertasinya di Universitas Radboud berjudul “De Republikiense kampen in Nederlands-Indie, Oktober 1945-Mei 1947: Orde in de chaos?”

"Andaikan tentara Indonesia tidak ikut campur menjaga sebagian kamp internir saat itu, saya yakin korban jiwa akan jauh lebih banyak," ungkap Van Delden.

Pun orang Belanda melewatkan informasi yang disampaikan Remmy Limpach dalam buku Kekerasan Ekstrim Belanda di Indonesia. Menurut Limpach, sejatinya pemerintah Belanda sendiri memberlakukan standar ganda dalam soal Masa Bersiap tersebut. Itu dibuktikan ketika pada pertengahan 1947, militer mereka merekrut kelompok Panji (dicurigai terlibat dalam aksi Masa Bersiap di Batavia dan Bekasi) untuk bergabung dengan HMOT (Pasukan Non Organik Sang Ratu).

HMOT inilah yang pada 21 Juli 1947, ikut terlibat bersama tentara reguler Belanda dalam invasi militer ke wilayah RI (Agresi Militer Belanda I). Mereka yang sejak awal memang dikenal sebagai kelompok bandit itu kemudian menjadi momok menakutkan bagi orang-orang Indonesia. Mereka tak segan membunuh, memperkosa dan menyiksa sesama orang Indonesia.

"Para penguasa kolonial mempersenjatai mereka dan memberi imunitas sementara untuk berperang di bawah bendera Belanda melawan para mantan sejawat mereka sendiri," ungkap Limpach.

Mungkin saja tulisan ini dianggap upaya untuk 'mencuci piring', tapi itulah fakta sejarahnya. Bagi saya, Masa Bersiap tidak bisa dipandang sebagai 'takdir terkelam' dari perilaku barbar orang-orang Indonesia. Tidak sesederhana itu. Bahasa politik pun bermain di dalamnya.

Tinggal sejauh mana orang-orang Indonesia dan orang-orang Belanda bijaksana memikirkan itu akan berpengaruh terhadap hubungan kemanusiaan generasi ke generasi di kedua negara.

Hendi Jo
Jurnalis Sejarah

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini