D.N Aidit Ditangkap dan Ditembak Mati, Soeharto Tersenyum

Sabtu, 1 Oktober 2022 08:07 Reporter : Merdeka
D.N Aidit Ditangkap dan Ditembak Mati, Soeharto Tersenyum Mayjen Soeharto di Lubang Buaya. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) D.N Aidit dan para simpatisannya menjadi sasaran pengejaran TNI Angkatan Darat (AD) usai malam mencekam 30 September 1965. Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soeharto adalah sosok yang memerintahkan pengejaran dan penangkapan Ketua CC PKI. Dia tersenyum ketika mendengar laporan anak buahnya, bahwa Aidit sudah 'dibereskan'.

Dalam buku Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara dijelaskan percakapan antara Mayor Jenderal Soeharto dengan Kolonel Brigade IV Infanteri, Kolonel Yasir Hadibroto.

"Ada di mana kamu saat pemberontakan PKI Madiun?" tanya Mayjen Soeharto.

"Saya waktu itu baru saja dihijrahkan dari Jawa Barat, kompi saya lalu mendapat tugas menghadapi tiga batalyon komunis di daerah Wonosobo, Pak," jawab Kolonel Yasir.

"Nah, yang memberontak sekarang ini adalah anak-anak PKI Madiun dulu. Sekarang bereskan itu semua! D.N. Aidit ada di Jawa Tengah. Bawa pasukanmu ke sana," ujar Soeharto memberi perintah.

2 dari 4 halaman

Aidit Sembunyi di Balik Lemari

Kolonel Yasir Hadibroto memboyong pasukannya ke Solo. Di kota tersebut dia menemui Sriharto. Seorang intelijen yang berhasil menyusup sebagai orang kepercayaan dalam tubuh PKI. Hanya dalam beberapa hari, Sriharto melaporkan keberadaan Aidit yang berada di rumah di Desa Sambeng. Tepatnya di belakang Stasiun Balapan.

Rencana penangkapan disusun. Sekitar pukul sebelas siang, Aidit muncul dari rumah tersebut. Dia menumpang vespa Sriharto. Sekitar pukul sembilan malam, Letnan Ning Prayitno memimpin pasukan Brifif IV menggerebek rumah milik bekas pegawai PJKA itu.

Salah seorang wartawan yang bekerja di Solo, yakni Alwi Shahab menulis di harian Republika. Saat digerebek, Aidit bersembunyi di dalam lemari. Pada malam itu Yasir menginterogasi Aidit. Lalu Aidit membuat pengakuan tertulis setebal 50 halaman. Isinya, Aidit yang bertanggung jawab atas peristiwa G30S.

Namun menurut Yasir, dokumen itu dibakar Pangdam Diponegoro. Anehnya, Risuke Hayasi yang merupakan koresponden Asahi Evening News, berhasil mendapatkan dokumen tersebut.

3 dari 4 halaman

Aidit Minta Bertemu Bung Karno

Menjelang dini hari, Yasir kebingungan. Lantaran Aidit berkali-kali meminta untuk dipertemukan dengan Presiden Sukarno. Yasir menolak permintaan itu. Karena jika diserahkan kepada Bung Karno, pasti akan memutarbalikkan fakta sehingga persoalannya jadi lain.

Akhirnya, pada pagi buta tanggal 23 November 1965, Yasir membawa Aidit meninggalkan Solo. Mereka menggunakan tiga buah Jeep. Aidit yang diborgol berada di Jeep terakhir bersama Yasir.

Tanpa sepengetahuan dua Jeep yang ada di depannya, Yasir membawa Jeep yang berisi Aidit belok masuk ke Markas Batalyon 444. Yasir bertanya kepada Mayor Trisno.

"Ada sumur?" tanya Kolonel Yasir.

Yasir membawa Aidit ke tepi sumur. Dia mempersilakan Aidit mengucapkan pesan terakhir. Namun Aidit malah berapi-api dan berpidato. Hal ini membuat Yasir dan anak buahnya marah.

Dor!! Dengan dada berlubang Aidit terjungkal masuk sumur.

4 dari 4 halaman

Soeharto Tersenyum

Keesokan harinya, 24 November 1965, pukul 3 sore. Yasir bertemu Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta. Setelah melaporkan pekerjaannya, termasuk keputusannya membunuh Aidit, sang kolonel memberanikan diri bertanya.

"Apakah yang Bapak maksud dengan bereskan itu seperti sekarang ini, Pak?"

Soeharto pun tersenyum.

Eksekusi tersebut telah menghilangkan kesempatan mengorek keterangan Aidit di depan pengadilan. Sementara itu, momentum ini terus dimanfaatkan oleh Mayjen Soeharto untuk meningkatkan pengaruhnya di Angkatan Darat.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini