Bung Karno Sering Ngutang pada Arief Sopir Taksi Langganannya

Sabtu, 30 Juli 2022 01:05 Reporter : Merdeka
Bung Karno Sering Ngutang pada Arief Sopir Taksi Langganannya Arief sopir pribadi Bung Karno. ©2022 Istimewa

Merdeka.com - Berlangganan sejak era pergerakan, seorang pengemudi taksi dijadikan sopir pribadi oleh Presiden Sukarno

Penulis: Hendi Jo

Stasiun Gambir, 1930-an. Pagi baru saja menyeruak Jakarta ketika seorang lelaki jangkung berparas tampan keluar dari gedung stasiun kereta api tersebut. Tanpa menoleh kepada penjaga pintu, lelaki berpeci hitam itu memberika karcis.

Sambil melangkah, matanya seolah menyapu seisi jalan besar di depan Stasiun Gambir. Begitu sampai di dekat sebuah tiang besar, perhatian lelaki muda itu semakin fokus ke deretan taksi yang tengah ngetem.

"Ngelamun, Bung?" tanya seorang anak muda usia sekira 20-tahunan.

Si Tampan agak terkejut mendengar sapaan tersebut. Begitu menoleh, dia langsung tersenyum senang. Matanya berbinar .
"Ah kamu Arief…Saya cari kamu sedari tadi," katanya.
"Mau kemana, Bung?" tanya anak muda yang dipanggil Arief itu seraya membawa tas besar yang dibawa Si Tampan.

"Biasa. Mau kemana lagi?" jawab sang pemuda
"Ke Gang Kenari?"
"Iya dong. Kemana lagi…Tapi eeehmm, uang saya pas-pasan. Bagaimana ya?" tanya pemuda itu.
"Soal uang pas-pasan, jangan dipikirin Bung. Saya tahu orang pergerakan memang pas-pasan hidupnya," jawab Arief sambil menghidupkan mesin mobil.

2 dari 4 halaman

Sering Utang

Arief memang bukan satu atau dua tahun mengenal lelaki perlente bernama Sukarno itu. Dia sudah bergaul rapat dengan Si Bung sejak dirinya masih berprofesi sebagai supir taksi pada awal 1930.

Bahkan bisa dikatakan, taksi yang dikemudikan Arief adalah langganan Sukarno jika dirinya tengah berkunjung ke Gang Kenari, kediamannya tokoh pergerakan asal tanah Betawi: Husni Thamrin.

Awal-awal mengantarkan Suarno ke Gang Kenari, Arief tadinya mengira Si Tampan adalah seorang sinyo yang sedang berkunjung ke rumah pacarnya. Namun lambat laun dia tahu bahwa tujuan langganannya itu ke Gang Kenari adalah untuk menjumpai Husni Thamrin.

"Tentunya pemuda tampan itu juga adalah seorang tokoh pergerakan," pikir Arief seperti tertuang dalam buku Menyingkap Tabir Bung Karno karya Anjar Any.

Begitu seringnya Bung Karno menggunakan jasa Arief, hingga muncul keakraban di antara keduanya. Tak jarang sepanjang perjalanan Stasiun Gambir-Gang Kenari, Bung Karno bercerita tentang situasi politik terkini dan betapa tamaknya kekuasaan kolonial mengeksploitasi tanah Hindia.

Di sepanjang perjalanan itu pula, Arief yang lugu jadi mengenal apa itu marhaenisme, kejamnya kapitalisme dan bengisnya imperialisme. Juga soal betapa perlunya orang-orang Hindia bangkit menjadi bangsa yang merdeka.

"Kita harus sadar bahwa kita ini bukan bangsa tempe, Arief…" ujar Bung Karno pada suatu perjalanan ke Gang Kenari. Arief mangut-mangut, sementara Si Bung terus berceloteh tentang kedegilan pemerintah Hindia Belanda.

Dan tak terasa taksi sudah mencapai Gang Kenari. Pintu mobil dibuka dan Bung Karno pun keluar. Dia kemudian menjulurkan sebagian kepalanya ke dalam mobil lewat kaca jendela depan. Sambil tersenyum dia berkata:

"Rif, biasa…Ngutang dulu ya…"
"Nggak apa-apa, Bung. Lalu besok dijemput?"
"Ya besok dijemput juga di tempat ini. Jangan lupa besok pun masih ngutang lagi," ujar Bung Karno seraya menepuk pundak Arief.
"Bung jangan berkata itu terus. Bikin malu saja.Sampai besok pagi,Bung!" kata Arief sambil menjalankan mobilnya, kembali menuju Stasiun Gambir.

3 dari 4 halaman

Kehilangan Sukarno

Pagi sekali, Arief sudah menyusuri jalanan Batavia yang masih sepi. Bukan menuju Stasiun Gambir tempat dia biasa mangkal, tapi langsung ke Gang Kenari. Namun betapa terkejutnya Arief saat sampai di sana, orang-orang membicarakan penangkapan langganannya itu malam tadi oleh polisi.

Entah mengapa, mendengar berita itu, Arief merasa sedih. Ketika dia sibuk mencari rezeki untuk kepentingan perut sendiri, seorang pejuang yang memperjuangkan nasib bangsanya, harus meringkuk di dalam penjara. Demikian Arief merenung.

Sejak itu, Arief tak pernah lagi bertemu dengan Sukarno. Di telah kehilangan langganan yang dikaguminya itu. Dari selentingan berita, Arief mendengar Sukarno sudah meninggalkan tanah Jawa. Ya Gubernur Jenderal B.C. de Jonge tanpa ampun membuang sahabatnya itu ke tanah Ende di Pulau Flores, demi membungkam celotehannya yang selalu memanaskan kuping para pejabat Hindia Belanda.

4 dari 4 halaman

Menjadi Sopir Pribadi

Beberapa tahun kemudian. Suatu malam, ketika militer Jepang baru saja berkuasa atas tanah Nusantara, seorang lelaki jangkung datang ke rumahnya. Di depan pintu dia tersenyum lebar sambil menyorongkan tangannya ke arah Arief.

"Apa kabarnya, Rif?" katanya.

Arief baru sadar bahwa itu adalah Sukarno. Dengan gembira dipeluknya lelaki yang usianya tak begitu jauh dari dirinya itu. Sukarno hanya tertawa. Sukarno lantas secara singkat mengisahkan cerita hidupnya selama menghilang dari tanah Jawa. Tak lupa dia pun melunasi seluruh utang-utangnya kepada Arief.

"Sekarang, apakah kamu mau bekerja dengan saya?" kata Bung Karno.

Singkat cerita, Arief menyanggupi ajakan sahabat lamanya itu. Dia kemudian menjadi sopir pribadi Bung Karno dan ikut terlibat dalam arus revolusi bangsanya, termasuk saat dia mendampingi hari-hari Si Bung Besar menjadi presiden Republik Indonesia hingga 1962.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini