Tanpa "miss V", Merlyn Sopjan ukir prestasi

Minggu, 16 Juni 2013 15:10 Reporter : Vizcardine Audinovic
Tanpa merlyn sopjan. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Stigma negatif masyarakat tentang waria rupanya tidak membuat Merlyn Sopjan sakit hati. Ia malah membuktikan jika waria juga bisa mengukir prestasi.

Waria yang pernah menjadi ketua Iwama ini terpilih sebagai putri Waria Indonesia 2006."Yang menarik sebagai Putri Waria Indonesia 2006, lebih kepada bagaimana masyarakat menerima saya dengan baik sebagai hasil dari pemilihan yang berkualitas yang tidak hanya dilihat secara fisik, tetapi lebih kepada kemampuan," ungkapnya.

Dia menambahkan, artinya orang menghargai dirinya sebagai Putri Waria benar-benar dalam paket yang komplet dengan penilaian yang sama dengan Putri Indonesia yaitu 3B (Brain, Beauty, Behavior). Sehingga opini negatif bahwa kontes-kontes waria yang dianggap sebagian orang cuma ajang kecantikan dan hura hura semata, itu tidak benar.

Perjalanan Merlyn dalam mengukir prestasi ternyata tidak mulus. Dia juga pernah mengalami kegagalan. Dia didiskualifikasi saat mengikuti ajang Miss International Queen yang digelar di Thailand.

"Sebenarnya ajang Miss International Queen (MIQ), bukanlah ajang beauty pageant yang seperti dalam bayangan saya karena ketika mengikutinya, saya tahu bahwa yg keluar sebagai pemenang bukanlah dari penilaian 3B, melainkan dari talenta seni dan fisik semata." jelas waria kelahiran Kediri itu. Ternyata pemenang hanya dijadikan ikon dari tempat hiburan sebagai penyelenggara ajang MIQ.

Lima jam sebelum final panitia mendiskualifikasi Merlyn sebagai kontestan karena talent show yg dia lakukan, monolog dari buku saya yg kedua, sehari sebelumnya dianggap memprovokasi waria untuk tidak melakukan operasi kelamin.

"Pers di Thailand sendiri heran kenapa saya didiskualifikasi dengan alasan tersebut karena bagi mereka sendiri itu tidak masuk akal. Tapi intinya saya tetap berbesar hati karena menjadi pemenang juga bukan tujuan utama setelah tahu bahwa penilaian bukan berdasar 3B," katanya kepada Merdeka.com.

Dia lebih berbangga ketika memenangkan Putri Waria Indonesia karena memang dinilai oleh 10 Juri yang kompeten dan dengan seleksi yang ketat dengan ukuran 3B. Tapi waria berprestasi versi harian New York Times itu bersyukur pernah mendapatkan pengalaman bisa berkumpul dengan teman teman yang baik dan cantik dari 30 negara dan beberapa dari mereka sampai hari ini masih berkomunikasi.

Selain aktif pada isu HAM dan gender, tiga besar Anugerah Saparinah Sadli 2012 ini juga menulis buku. Sudah dua buku yg beredar di masyarakat. Buku pertama tahun 2005, sebuah memoar, judulnya Jangan Lihat Kelaminku. Buku kedua tahun 2006, kumpulan cerpen, judulnya Perempuan Tanpa V. Rencananya buku ketiga akan diluncurkan tahun ini.


Buku kedua karya Merlyn berjudul "Perempuan Tanpa V"


"Yang ingin disampaikan lewat buku tentunya cara pandang saya tentang sesuatu hal. Dan buat saya, buku adalah komunikasi saya dengan banyak orang yang abadi selama buku itu disimpan oleh pembaca karena mereka bisa membaca kapanpun.

Sebagai penulis dia juga menyelenggarakan bedah buku di beberapa kota. Dari brainstorming dengan pembaca dia mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis buku lagi. [vic]

Topik berita Terkait:
  1. LGBT
  2. Waria
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini