Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kenapa Lukisan seperti Mona Lisa Bisa Dihargai Setinggi Langit?

Kenapa Lukisan seperti Mona Lisa Bisa Dihargai Setinggi Langit? Ilustrasi Mona Lisa. ©Shutterstock

Merdeka.com - Pernah terpikir kenapa lukisan seperti Mona Lisa bisa dihargai begitu tinggi? Bahkan sampai dijaga ketat di Museum Louvre? Apa keistimewaan yang menjadikannya dinilai begitu tinggi?

Alasan Karya Seni Dihargai Mahal

Faktor utama yang menjadikan sebuah karya seni berharga tinggi adalah keterbatasannya. Perdagangan karya seni merupakan bisnis yang dikendalikan beberapa kelompok kecil dengan karya-karya dari segelintir artis yang jumlahnya jauh lebih sedikit lagi. Mereka pun diwakili galeri-galeri ternama. Orang-orang inilah yang menggerakkan harga di pasar.

Faktor Originalitas dan Teknik Pembuatan

Apresiasi terhadap sebuah karya memang subjektif, namun salah satu faktor yang menyebabkan sebuah karyua mendapat pujian setinggi langit adalah sisi originalitas. Sederhananya, sebuah karya yang memperkenalkan sebuah aliran atau teknik pembuatan tertentu cenderung dihargai lebih tinggi. Misalnya saja Leonardo Da Vinci dan teknik sfumato yang dia gunakan saat melukis Mona Lisa. Atau Jackson Pollock dan aliran abstrak ekspresionisme yang dipopulerkannya.

Kelangkaan Karya Juga Ikut Menentukan Nilai

"Segala hal yang bisa saya bayangkan dihargai berdasar supply (pasokan) dan demand (permintaan). Begitu juga karya seni. Bagi karya buatan seniman yang sudah meninggal, kelangkaan merupakan faktor yang nyata. Tak banyak lukisan Vermeer yang beredar, jadi fakta itu benar-benar mempengaruhi harganya," jelas Michelle Gaugy, konsultan seni dan pemilik galeri seperti dilansir Vox.

Alasan Mona Lisa Begitu Spesial di Dunia Seni

Khusus Mona Lisa, karya ini begitu populer dan dinilai tinggi karena berbagai alasan. Keahlian Da Vinci sebagai pembuatnya merupakan salah satu faktor.

Sfumato merupakan teknik melukis yang sulit dilakukan. Alih-alih garis, Da Vinci menggunakan gradasi warna untuk menciptakan efek tiga dimensi pada lukisannya.

Ilmu anatomi yang dikuasai oleh Da Vinci juga memungkinkan dirinya membuat lukisan potret dengan proporsi yang presisi. Da Vinci melukis Mona Lisa sedemikian rupa, sehingga bagian matanya berada di pusat penglihatan penikmat lukisan. Sementara mulutnya pas dengan sudut penglihatan. Inilah yang menjadikan mata Mona Lisa seolah mengikuti dari manapun kita melihatnya. Alasan ini juga yang menjadikan senyuman Mona Lisa tampak berubah-ubah.

Masih ada satu faktor lagi yang ikut berperan, yaitu popularitas Da Vinci. Pada masa kejayaannya, Da Vinci menuai status setara selebriti berkat keahliannya di berbagai bidang. Bukan cuma melukis, Da Vinci juga dikenal sebagai arsitek, penemu, musisi, penulis, ahli matematika, pemahat, insiyur militer, geolog, dan kartografer.

(mdk/tsr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP