Selain Trump dan Kim Jong-un, Lima Sosok Ini Paling Curi Perhatian Dunia di 2018

Sabtu, 29 Desember 2018 06:28 Reporter : Pandasurya Wijaya
Selain Trump dan Kim Jong-un, Lima Sosok Ini Paling Curi Perhatian Dunia di 2018 Razan Ashraf al-Najjar. Twitter

Merdeka.com - Tahun 2018 mencatat berbagai peristiwa bersejarah di dunia, salah satunya adalah pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura pada Juni lalu.

Pertemuan itu merupakan kelanjutan dari pertemuan yang juga bersejarah antara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di perbatasan kedua negara. Dalam pertemuan itu kedua negara sepakat untuk perundingan damai di Semenanjung Korea.

Pada pertemuan di Singapura, Trump dan Kim membahas soal pelucutan nuklir Korut dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Pertemuan kedua pemimpin negara itu diakui banyak kalangan sebagai sebuah langkah maju dan bersejarah demi kehidupan dunia yang lebih baik dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Namun selain Trump dan Kim, ada sejumlah tokoh dunia yang juga menyita perhatian dunia. Siapa saja mereka? Berikut ulasannya versi merdeka.com yang diambil dari berbagai sumber:

1 dari 5 halaman

Mahathir Mohamad

Mahathir Mohamad. ©2015 REUTERS/Olivia Harris

Mahathir Mohamad tak pernah sekali pun kalah dalam kampanye pemilu Malaysia. Dia mempertahankan rekor itu sampai ketika dia dilantik sebagai pemimpin negara tertua di dunia dalam usia 92 tahun.

"Ya, ya, saya masih hidup," kata dia dalam jumpa pers ketika mengumumkan kemenangan atas koalisi Barisan Nasional (BN) yang sudah berkuasa selama 60 tahun sejak Malaysia merdeka pada 1957.

Mahathir pernah menjadi perdana menteri selama 22 tahun sejak 1981. Sebagai pemimpin Malaysia, dia dikenal sebagai sosok yang keras, tanpa kompromi, tapi berhasil mengubah Malaysia menjadi negara industri modern.

Sejak memutuskan pensiun dia tidak pernah lepas dari sorotan media. Dua tahun lalu dia kembali aktif di dunia politik di kubu oposisi. Mahathir berjanji akan menggulingkan Najib Razak dari kursi perdana menteri lantaran kasus skandal dugaan korupsi di badan negara 1MDB.

 /></p>
<center><em class=Perdana Menteri Mahathir Mohamad Reuters



Sebagai bentuk pengorbanannya dia bahkan mundur dari Organisasi Bangsa Melayu Bersatu (UMNO), partai yang ikut dia bangun sejak muda.

"Di kala itu saya adalah penentang keras Mahathir," ujar Joseph Paul, 70 tahun, pensiunan dinas sosial yang bergabung dengan ribuan rakyat Malaysia di Kuala Lumpur untuk merayakan kemenangan Mahathir.

"Politik, kata orang, adalah seni mengelola kemungkinan, jadi kalau dia kembali untuk menyingkirkan penjahat, mengapa tidak?"

Dilansir dari laman Channel News Asia, Kamis (10/5), hasil resmi Komisi Pemilihan Umum kemarin memperlihatkan koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin Mahathir meraih 113 dari 222 kursi parlemen. Angka itu cukup untuk memenangkan suara mayoritas di parlemen.

Keberhasilannya membangun negeri membuat dia digelari "Bapak Malaysia Modern" meski gaya kepemimpinannya terbilang keras dan tanpa kompromi.

Mahathir beberapa kali menjebloskan lawan politiknya ke penjara. Para pengamat menyebut dia melarang kebebasan berpendapat dan menindas lawan politiknya. Itu juga yang dialami mantan wakilnya sebagai perdana menteri, Anwar Ibrahim, yang didakwa melakukan sodomi dan korupsi. Di masa lima tahun awal kepemimpinannya, Mahathir menjebloskan lebih dari seratus politisi oposisi, akademisi, dan aktivis tanpa pengadilan.

Mahathir kini satu kubu dengan Anwar Ibrahim dan dia berjanji akan memberinya pengampunan. Dia juga sudah berjanji akan mundur dan membiarkan Anwar menjadi perdana menteri.

Dalam wawancara Maret lalu dia mengatakan akan terus berjuang menumbangkan Najib Razak meski jika kalah dalam pemilu.

"Saya akan berumur 90an tahun dan secara fisik tidak sekuat dulu," kata dia. "Tapi kalau saya masih sehat saya akan terus berjuang."

Mahathir juga mengaku dia pernah berbuat salah di masa lalu. Dalam tulisannya di blog pada Januari dia menyebut rakyat dan media tidak pernah luput menyoroti dirinya pernah memerintah secara otoriter selama 22 tahun.

"Menengok ke belakang, saya sadar mengapa sebagai perdana menteri Malaysia saya pernah dianggap diktator," tulis Mahathir. "Ada banyak hal yang saya lakukan di masa lalu yang mirip perbuatan diktator."

2 dari 5 halaman

Pangeran Muhammad bin Salman

Pangeran Mohammad Bin Salman. ©2016 Merdeka.com

Pangeran Arab Saudi Muhammad bin Salman, putera mahkota yang kelak akan naik takhta menjadi raja, jelas menjadi tokoh sorotan internasional di 2018. Dalam sebuah konferensi investasi di Ibu Kota Riyadh Selasa lalu, Pangeran Muhammad atau kerap disebut MBS, mencetuskan Visi 2030 bagi Saudi dengan mengatakan negara itu akan menjadi lebih toleran berlandaskan Islam sebagai konstitusi dan modernitas sebagai praktiknya.

"Kami hanya ingin kembali ke asal: Islam moderat yang terbuka kepada dunia dan semua agama," kata dia, seperti dilansir laman Middle East Eye, Sabtu (28/10). "Kami tidak akan menyia-nyiakan waktu 30 tahun mengurusi ide ekstremis. Kami akan hancurkan ide itu sekarang."

Pidatonya itu sontak mendapat tepukan hangat dari para hadirin dan diulas dalam satu halaman depan koran inggris The Guardian.

Saudi selama ini dikenal sebagai negara konservatif yang tertutup dan berhaluan Islam ekstrem. Pangeran berusia 32 tahun itu disebut-sebut sebagai sosok pembaharu yang mengenalkan konser musik, bioskop, dan disinyalir sebagai orang di balik keputusan Raja Salman yang membolehkan wanita mengemudi mobil tahun depan.

MBS juga telah mengumumkan Saudi akan membangun sebuah lokasi wisata kelas dunia di kawasan Laut Merah lengkap dengan berbagai fasilitas modern, canggih, dan kaum hawa di pantai dibolehkan memakai bikini.

 /></p>
<center><em class=pangeran muhammad bin salman di kampus MIT Amerika Serikat ©AP



"Apa yang dilakukan MBS adalah hal yang harus dia lakukan demi reformasi ekonomi. Seperti halnya reformasi ekonomi menuntut perubahan etik Protestan, dia juga perlu Islam yang baru," kata pengamat dari Institut Strategi Global London, Maamur Fandy.

Namun belakangan nama MBS tercoreng lantaran kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. MBS disebut-sebut terlibat dalam pembunuhan wartawan harian the Washington Post berusia 59 tahun itu. CIA bahkan berkesimpulan dialah yang memerintahkan Khashoggi dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.

Khashoggi dikenal sebagai sosok pengkritik Kerajaan Saudi, terutama kebijakan-kebijakan MBS. Sebelum dibunuh Khashoggi pernah berkomentar tentang sosok MBS.

"Dia benar-benar ingin membuat Arab Saudi hebat lagi. Tapi dia melakukannya dengan cara yang salah," kata Khashoggi kepada rekannya, seperti dikutip dari laman Vanity Fair.

Karena merasa hidupnya tidak aman, Khashoggi kemudian mengasingkan diri ke Washington, Amerika Serikat.

Sebulan setelah meninggalkan Saudi, Khashoggi mulai merasa ada perubahan drastis dari MBS. Aparat keamanan Saudi menangkap sejumlah pengusaha dan menahan mereka di Hotel Ritz Carlton atas tuduhan korupsi. Khashoggi kemudian mendapat laporan menyebut mereka disiksa dan dipaksa menyerahkan ribuan dolar kepada pemerintah.

"Kasar betul. Ada yang dilecehkan. Ada yang dipukuli. Ada yang bilang mereka disetrum," kata Khashoggi.

Perlakuan semacam itu juga dialami oleh sejumlah cendekiawan, insan pers, dan ulama moderat. Hal itu membuat Khashoggi yakin MBS telah berubah dari sosok seorang reformis menjadi otoriter yang brutal.

"Ketika penangkapan itu mulai terjadi, saya berbalik. Saya mulai merasa ini saatnya bersuara," kata Khashoggi.

"Arab Saudi bukanlah negara bebas tapi orang-orang ditangkapi seperti ini. Mereka yang ditangkap MBS bukanlah orang-orang radikal," ujar Khashoggi. "Sebagian besar mereka adalah pendukung reformasi untuk kaum perempuan dan masyarakat yang lebih terbuka. Dia menangkapi mereka untuk menciptakan ketakutan. Orang-orang jadi takut dan ini jadi semacam kebijakan polisi negara."


3 dari 5 halaman

Razan Najjar

Razan Ashraf al-Najjar. Twitter

Peristiwa demo besar-besaran warga Palestina di Gaza pada peringatan 'Kembalinya Unjuk Rasa Agung' tahun ini menyisakan kenangan tentang sosok petugas medis Palestina yang tewas diterjang peluru penembak jitu Israel.

Razan al-Najjar, 21 tahun, ditembak mati oleh tentara Israel saat dia lari menuju pagar perbatasan untuk menolong korban yang terluka di Gaza, 1 Juni 2018.

Kematian perempuan relawan itu memicu duka, tak hanya di Palestina, tapi juga di seluruh dunia.

Razan adalah seorang perawat yang bekerja secara sukarela untuk Palestinian Medical Relief Society (PMRS). Dia bekerja di area yang hanya beberapa ratus meter dari rumah keluarganya.

Sebelumnya, beberapa media pernah mewawancarai perempuan berusia 21 tahun ini. Salah satunya adalah mengenai kenapa dia mau ikut terjun ke medan konflik?

"Saya akan merasa sangat malu kalau saya tidak ada untuk (membantu) warga Palestina. Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk ada di sini dan membantu mereka yang terluka," kata Razan dalam wawancaranya dengan Al Jazeera pada bulan April 2018.

 /></p>
<center><em class=pemakaman razan ©2018 REUTERS/Mohammed Salem




"Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk ada di sini dan membantu mereka yang terluka," kata Razan kurang dari dua bulan sebelum meninggal dunia.

Dia sendiri sebelumnya pernah terluka, pingsan dua kali karena menghirup gas. Pada 13 April, dia cedera di bagian pergelangan kaki saat jatuh ketika berlari menuju pendemo yang terluka.

Razan ditembak saat sedang lari menuju pagar perbatasan di dekat Khan Younis, Gaza, 1 Juni 2018. Dia sedang berusaha menolong korban yang terluka.

Mengenakan baju putih, seragam paramedis, "Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan sangat jelas, tapi tentara Israel menembak dan dia tertembak di dada," kata seorang saksi yang minta namanya dirahasiakan kepada kantor berita Reuters.

Saksi lain bercerita bahwa Razan awalnya tidak sadar bahwa dia sudah tertembak. Saat peluru telah tembus ke punggung, dia baru sadar dan berkata "Punggungku, punggungku!" kemudian dia jatuh ke tanah.

Mustafa Barghouti, Presiden PMRS, menjelaskan bahwa Razan ditembak di dada, meskipun dia jelas-jelas mengenakan rompi putih berlambang bulan sabit dan palang merah, dan lambang PMRS yang menandakan bahwa dia bagian tim medis.

Razan dimakamkan pada Sabtu, 2 Juni 2018. Jenazah Razan dibawa melewati jalanan Gaza dengan dibungkus bendera Palestina.

Ayahnya membawa jaket medis Razan yang berlumuran darah.

Ribuan orang yang berduka dan marah, menyertai iring-iringan dan penguburan.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut Razan mati syahid.

4 dari 5 halaman

Jack Ma

Jack Ma Alibaba. ©Reuters

Sosok asal China satu ini mencuri perhatian dunia internasional di 2018.

Sang miliuner dari Negeri Tirai Bambu itu dikenal sebagai pendiri raksasa e-commerce Alibaba yang mendunia.

Jack Ma dulunya bukanlah orang yang bergelimang harta. Kesuksesannya dengan bisnis e-commerce dia rintis dari bawah, alias dari nol. Dulu, bisa dibilang, dia orang yang tidak punya. Namun kehidupannya berubah drastis ketika berhasil meluncurkan Alibaba.

Kekayaan yang dimiliki Jack Ma membuat dirinya pernah dinobatkan menjadi orang terkaya nomor 7 di dunia. Kendati dirinya tidak lagi berada di peringkat tersebut, namun kekayaan Jack Ma kian bertambah dari tahun ke tahun.

Di balik kesuksesan hidupnya, seperti apa sosok Jack Ma yang sebenarnya.

Jack Ma bukanlah orang yang suka bermalas-malasan. Setiap detik waktu yang dia miliki selalu dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna. Hal ini dibuktikan dari bisnis yang digelutinya. Waktu yang dia miliki digunakan untuk membangun Alibaba menjadi bisnis berskala global.

Dia-pun telah menghadirkan banyak inovasi terkait bisnis yang dijalankannya. Prinsip Jack Ma, segala sesuatu membutuhkan pengorbanan. Dan inilah Jack Ma sekarang. Dirinya berhasil menjadi salah satu orang terkaya di China.

Sekadar informasi, Jack Ma telah resmi mengumumkan undur diri dari Alibaba sejak 10 September 2018, bertepatan dengan ulang tahun Alibaba ke-20. CEO Daniel Zhang akan meneruskan kepemimpinan Jack Ma sebagai Chairman of the Board Alibaba Group.

5 dari 5 halaman

Aung San Suu Kyi

aung san suu kyi. ©Reuters

Peraih Nobel Perdamaian asal Myanmar ini menjadi sosok yang disorot dunia internasional di 2018 karena penindasan yang dialami etnis muslim Rohingya. Sejumlah gelar kehormatan dari berbagai lembaga dunia yang pernah diraihnya satu per satu dipreteli.

Lembaga-lembaga dunia itu menilai Suu Kyi sudah tidak pantas menyandang gelar kehormatan lantaran dia membiarkan etnis muslim Rohingya dibantai militer Myanmar.

Suu Kyi dulu dianugerahi gelar Tokoh Perdamaian Newcastle tahun 2011 atas perjuangan panjangnya menegakkan demokrasi di Myanmar. Namun kini dia malah bungkam saat seisi dunia berteriak atas pembantaian Muslim Rohingya di Rakhine.

"Dia tidak melakukan apa pun untuk menghentikan genosida pada Muslim Rohingya di negaranya," kata Ketua Dewan Kota Nick Forbes seperti dikutip media lokal itv.

Sebelumnya pada November 2017, Dewan Kota Oxford mencabut penghargaan Freedom of the City untuk Suu Kyi, yang dianugerahkan pada tahun 1997.

Pemimpin Dewan Kota Oxford Bob Price mengecam sikap Suu Kyi yang cuma diam melihat pembantaian di Rohingya. St Hugh's College di Universitas Oxford, tempat Suu Kyi mempelajari politik, pun sudah mencopot foto Aung san Suu Kyi dari dinding kampus.

 /></p>
<center><em class=Aung San Suu Kyi saat menerima penghargaan dari Universitas Oxford, Inggris ©2018 Merdeka.com




Anggota Dewan Kota Dublin juga memutuskan untuk menarik lagi penghargaan Freedom of Dublin City yang dulu mereka anugerahkan kepada Aung San Suu Kyi.

Sementara itu sejumlah aktivis di seluruh dunia terus mendesak agar Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi dicabut. Dulu dia mendapatkannya tahun 1991 karena memperjuangkan demokrasi tanpa kekerasan.

Salah satu desakan itu datang dari Organisasi Pendidikan, Ilmu, dan Budaya Islam (ISESCO).
Dalam pernyataannya ISESCO menyatakan Suu kyi "sudah tidak berhak menyandang gelar itu karena apa yang dia lakukan di negaranya, di bawah kepemimpinannya, terhadap warga minoritas muslim Rohingya."

Amnesty International juga mencabut gelar kehormatan Suu Kyi. Lembaga pembela HAM di Inggris itu menyatakan pencabutan gelar tersebut terkait dengan perlakuan Suu Kyi terhadap Muslim Rohingya yang tidak sesuai dengan penghargaan tersebut.

"Hari ini kami cemas bahwa anda (Suu Kyi) tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian, dan pembela HAM," ungkap Sekjen Amnesti Kumi Naidoo, yang dilansir dari CNN, Selasa (13/11).

Amnesty mengkritik Suu Kyi karena dianggap gagal mengenakan peran 'otoritas politik dan moral' dalam melindungi HAM di negaranya. Selain itu Suu Kyi juga dilucuti oleh sejumlah penghargaan lainnya karena tuduhan genosida terhadap kaum minoritas Muslim Rohingya.

[pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini