Sejarah Kekerasan di Sri Lanka, dari Tamil Hingga ISIS

Rabu, 24 April 2019 07:31 Reporter : Pandasurya Wijaya
Sejarah Kekerasan di Sri Lanka, dari Tamil Hingga ISIS Serangan bom di Sri Lanka. ©REUTERS/Dinuka Liyanawatte

Merdeka.com - Selepas perang saudara yang berlangsung hampir tiga dekade, Sri Lanka dalam keadaan relatif aman selama 10 tahun terakhir. Kedamaian itu berakhir di Minggu Paskah. Serangkaian serangan bom bunuh diri di gereja dan hotel menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai 500 lainnya.

Sri Lanka terkenal karena keindahan alamnya yang menyedot sampai dua juta wisatawan asing pada 2018. Namun warga Sri Lanka sudah sejak lama masih memikul beban akibat kekerasan.

Negara Sri Lanka merdeka dari penjajah Inggris pada 1948 dengan nama Ceylon dan kemudian menjadi Republik Sri Lanka pada 1972.

Sejarah Sri Lanka diwarnai banyak ketegangan sektarian dan belakangan negara ini terkait dengan ketegangan kawasan antara China dan India.

Sekitar 22 juta penduduk tinggal di Sri Lanka. Lebih dari 70 persen rakyatnya menganut Buddha.

Etnis dan kelompok agama lain termasuk Hindu (12 persen), muslim (di bawah 10 persen) dan Katolik sekitar 6 persen.

Sejumlah kalangan nasionalis Budhha Singhalese belakangan mulai merasa khawatir terhadap kelompok minoritas, terutama muslim yang kian bertambah jumlah dan pengaruhnya.

REUTERS/Dinuka Liyanawatte

Macan Tamil

Sejarah panjang konflik antara kelompok minoritas Tamil yang mayoritas Hindu dengan mayoritas warga Budhha menimbulkan perang saudara pada era 1980-an.

Kelompok bersenjata Macan Tamil menyebut diri mereka sekuler dan melancarkan sejumlah serangan mematikan, termasuk dengan metode yang baru muncul karena banyak digunakan: bom bunuh diri. Sebagai respons, tentara Sri Lanka mengerahkan operasi brutal, sebagian besar menyasar wilayah kekuasaan Tamil di sebelah timur laut.

Perang saudara berakhir pada 2009 setelah operasi besar-besaran militer berhasil mengalahkan Macan Tamil dan menghabisi pemimpinnya.

Tidak ada laporan angka resmi, tapi PBB mencatat sedikitnya ada 40 ribu warga sipil tewas dalam fase akhir perang saudara.

Hingga kini prasangka buruk yang menyebabkan perang saudara masih belum teratasi.

Keluarga Tamil masih mencari ribuan orang yang hilang di masa perang dan mereka juga berusaha mengambil kembali tanah mereka yang kini dikuasai militer. Layanan kesehatan hingga kini masih menangani pasien yang kelewat trauma karena kekerasan selam beberapa dekade.

Kian meluasnya nasionalisme Budhha membuat ketegangan sektarian terus tumbuh dan Sri Lanka mengalami gelombang kekerasan baru. Tahun lalu pemerintah menyatakan negara dalam keadaan darurat di Distrik Kandy setelah massa Budhha menyerang bisnis dan rumah warga minoritas muslim.

Di kalangan elit Sri Lanka juga mengalami ketegangan politik.

Upaya menggulingkan perdana menteri tahun lalu memicu krisis konstitusi yang mengancam timbulnya kekerasan horizontal. Untuk pertama kalinya, dalam masa yang sebentar, Sri Landa punya dua perdana menteri.

Presiden Maithripala Sirisena memberhentikan Perdana Menteri Ranil Wickremengsinghe Oktober lalu. Sebagai gantinya dia menunjuk mantan presiden dan orang kuat Mahinda Rajapaksa.

Ketika sudah cukup jelas terlihat Rajapakasa tidak punya cukup suara dari parlemen, Sirisena memecatnya.

Kemarin segenap rakyat Sri Lanka memulai hari berkabung nasional setelah serangkaian bom di gereja dan hotel menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai 500 lainnya saat hari Minggu Paskah. Di sejumlah gedung pemerintahan bendera setengah tiang dikibarkan. Orang-orang menunduk dalam diam seraya mengheningkan cipta setelah peristiwa yang mengguncang dua hari lalu hingga memicu kemarahan dunia internasional.

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kemarin melalui media propaganda mereka, Amaq, mengklaim serangkaian serangan bom bunuh diri itu.

Twitter

"Tentara ISIS melancarkan serangan terhadap warga yang menentang ISIS dan umat Kristen di Sri Lanka," kata pernyataan Amaq, seperti dilansir laman the Jerusalem Post, Selasa (23/4).

ISIS kemudian menyebarkan video delapan pelaku serangan bom bunuh diri sebelum melancarkan aksinya. Mereka terlihat berdiri berpakaian seragam gamis panjang warna hitam. Seorang yang berdiri di tengah memikul senjata senapan tanpa memakai penutup wajah seperti enam pelaku lainnya. Dalam video itu mereka juga bersumpah setia terhadap pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini