"Sampaikan kepada Dunia, Kami di Sini Sedang Sekarat"

Selasa, 2 Maret 2021 19:09 Reporter : Hari Ariyanti
"Sampaikan kepada Dunia, Kami di Sini Sedang Sekarat" korban konflik di tigray ethiopia. ©Eduardo Soteras/AFP

Merdeka.com - Tanggal 4 Desember adalah hari yang mencekam bagi Mona Lisa Abraha. Hari itu, tentara Eritrea menyerbu desanya, desa Tembin, di wilayah Tigray yang diperangi Ethiopia.

“Mereka berusaha memperkosaku dan aku dilempar ke tanah. Lalu, satu tentara menembak peluru untuk menakutiku, tapi peluru itu mengenai tangaku dan kemudian ditembakkan peluru lain mengenai lenganku,” kenang gadis 18 tahun itu dari ranjang rumah sakit di pinggiran ibu kota Tigray, Mekelle.

“Saya mengalami pendarahan berjam-jam. Lalu, tanganku diamputasi,” lanjutnya, sebelum tangisnya pecah, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/3).

Keterangan Abraha salah satu dari beberapa konflik rahasia yang muncul di Tigray, di mana komunikasi diputus selama berminggu-minggu dan akses media dibatasi sebelum kemudian dilonggarkan baru-baru ini. Saat ini Al Jazeera mendapat akses yang langka dan mendengar cerita saksi mata dan penyintas yang mengalami kekerasan mematikan tentara Eritrea.

Setelah ketegangan yang berlangsung berbulan-bulan, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed pada awal November lalu memerintahkan serangan udara dan darat di Tigray untuk untuk menyingkirkan pihak yang menguasai wilayah tersebut, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), menyusul serangan terhadap kamp angkatan darat federal. TPLF, yang mendominasi perpolitikan Ethiopia selama puluhan tahun sampai Abiy berkuasa pada 2018, memimpin perang brutal selama 1998-2000 dengan Eritrea.

Para saksi mata, penyintas, dan penduduk mengatakan kepada Aljazeera, pasukan Eritrea melakukan tindakan kejam setelah memasuki Tigray untuk mendukung militer Ethiopia melawan musuh lama mereka.

“Beberapa gadis dan saya berupaya melarikan diri dari desa, tapi di jalan kami ditangkap tentara Eritrea,” kata Saba, perempuan yang telantar dari Mai Kadra, kepada Al Jazeera.

“Lebih dari 10 tentara bergiliran memperkosa kami.”

“Suami saya dibunuh di desa kami,” kata salah seorang perempuan lainnya dari Mai Kadra, menyalahkan tentara Eritrea, sebelum memohon: “Sampaikan kepada dunia, kami sedang sekarat.”

Mai Kadra, di barat Tigray, juga di mana 600 warga sipil dibunuh pada pembantaian 9 November oleh kelompok pemuda Tigray, serta polisi dan milisi setempat.

Baca Selanjutnya: Pembantaian Axum...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Ethiopia
  3. Ragam Konten
  4. Highlight
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini