Paus Leo XIV Mulai Berjalan Pasca Operasi, Rencana Lawatan Amerika Latin Belum Pasti

Paus Leo XIV pulih sesuai rencana setelah operasi paru-paru. Status penyebaran kanker dan perjalanan ke Amerika Latin pada 6-17 November masih menunggu hasil pemeriksaan.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Paus Leo XIV Mulai Berjalan Pasca Operasi, Rencana Lawatan Amerika Latin Belum Pasti
Audiensi ini merupakan salah satu tradisi penting dalam kehidupan Gereja Katolik. (Filippo MONTEFORTE/AFP)

Paus Leo XIV mulai berjalan dan kembali menjalani pola makan normal setelah operasi pengangkatan massa di paru-parunya, menurut pernyataan Vatikan. Dikutip dari APNews, Kamis (15/10/2026), kondisi pemimpin Gereja Katolik itu disebut menunjukkan pemulihan sesuai rencana.

Dokter pribadi Paus, Luigi Carbone, bersama kepala bedah toraks Rumah Sakit Gemelli, Stefano Margaritora, menyatakan hasil tes darah dan rontgen dada menunjukkan pemulihan normal. "Bapa Suci menjalani fisioterapi pernapasan dan mulai berjalan di kamarnya. Ia kembali menjalani pola makan normal serta telah sarapan dan makan siang," kata kedua dokter tersebut.

Operasi yang berlangsung pada Selasa mengonfirmasi diagnosis adenokarsinoma paru-paru, jenis kanker paru-paru yang paling umum. Tim bedah mengangkat lobus bawah paru-paru kanannya. Paru-paru kanan memiliki tiga lobus, sedangkan paru-paru kiri dua lobus; setelah satu lobus diangkat, jaringan paru-paru yang tersisa dapat menyesuaikan diri secara bertahap, terutama pada orang yang sehat dan aktif secara fisik. Paus Leo dikenal rutin bermain tenis dan berenang.

Vatikan juga menyatakan Paus merayakan misa bersama para sekretarisnya pada Rabu sore di kapel khusus yang disiapkan di lantai 10 rumah sakit. Belum ada pengumuman resmi apakah kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain; beberapa kelenjar getah bening kemungkinan telah diangkat dan diperiksa, tetapi hasil pemeriksaan itu belum dipublikasikan.

Seorang pakar kanker paru-paru dari Lombardi Comprehensive Cancer Center, Universitas Georgetown, Dr. Stephen Liu, mengatakan bahwa setelah diagnosis, langkah berikutnya adalah mengetahui stadiumnya. "Meski kita sudah mengetahui diagnosisnya, sekarang kita perlu mengetahui stadiumnya," kata Liu. "Kita perlu mengetahui seberapa besar tumornya, berapa banyak bagian paru-paru yang terdampak. Apakah hanya ada satu nodul atau lebih dari satu, dan apakah kelenjar getah beningnya mengandung sel kanker?"

Kepala Onkologi Radiasi Rumah Sakit San Pietro Fatebenefratelli di Roma, Dr. PierCarlo Gentile, mengatakan operasi dada dengan bantuan video yang minim invasif biasanya membutuhkan waktu pemulihan 15 hingga 20 hari dan komplikasi pascaoperasi seperti infeksi jarang terjadi.

Rencana Lawatan Amerika Latin Masih Menunggu Kepastian

Vatikan belum mengumumkan perubahan terhadap rencana perjalanan Paus Leo ke Uruguay, Argentina, dan Peru pada 6-17 November. Rencana itu mencakup lawatan terpanjang dalam masa kepausan Leo dengan jarak lebih dari 31.000 kilometer, melibatkan sekitar 12 penerbangan dan dua perjalanan menggunakan helikopter, serta sejumlah perubahan ketinggian dalam agenda di Peru.

Presiden Peru Keiko Fujimori menyatakan diagnosis dan proses pemulihan Paus berpotensi memengaruhi kunjungan. "Kami memahami bahwa pemulihan ini akan memakan waktu beberapa pekan, lebih lama dari yang diperkirakan," kata Fujimori kepada wartawan. "Kami juga memahami bahwa mungkin ada beberapa perubahan pada jadwal kunjungannya."

Fujimori menambahkan bahwa jutaan warga Peru mendoakan kesembuhan Paus dan menantikan pengumuman lebih lanjut dari Vatikan. "Kami berharap pemulihannya berlangsung cepat dan kunjungannya dapat terlaksana. Namun, kami juga akan memahami jika hal itu tidak memungkinkan," ujarnya. "Yang terpenting adalah Yang Mulia kembali sehat."

Para ahli bedah onkologi umumnya menyarankan pasien agar tidak melakukan penerbangan selama tiga pekan setelah operasi. Dr. Liu mengatakan bahwa apabila kanker berada pada stadium pertama, Paus mungkin masih dapat melakukan perjalanan tersebut. "Jika ini stadium satu, ia bisa menyelesaikan perjalanan tersebut. Jika diperlukan pengobatan lebih lanjut, kemungkinan saya akan menyarankan agar ia tidak melakukan perjalanan itu," kata Liu.

Paus Leo menunjukkan keterbukaan yang tidak biasa soal masalah kesehatan ini. Dalam doa tengah hari yang disiarkan Minggu lalu, ia menyebut telah ditemukan nodul di paru-parunya dan menyatakan temuannya berada pada tahap awal dan terlokalisasi tanpa menggunakan kata "kanker" saat itu. Buletin medis Vatikan yang dirilis menyebut pemeriksaan praoperasi membuat dokter mencurigai adanya kanker, dugaan yang kemudian dikonfirmasi melalui operasi.

Vatikan menyatakan pemeriksaan praoperasi mencakup biopsi bronkoskopi robotik yang dikenal sebagai bronkoskopi ION, CT scan dada dengan kontras, dan pemindaian PET. Kepala Bedah Toraks Institut Onkologi Eropa di Milan, Dr. Lorenzo Spaggiari, mengatakan prosedur bronkoskopi ION memerlukan anestesi umum dan peralatan canggih sehingga harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap; menurut Spaggiari, Rumah Sakit Gemelli telah memiliki peralatan tersebut sekitar satu tahun.

Kepala Bedah Onkologi Montefiore Einstein di New York, Dr. Brendon Stiles, menyatakan pemindaian PET dapat digunakan untuk memastikan penyakit tidak menyebar ke bagian tubuh lain, dan bahwa hasil pemindaian serta biopsi diharapkan memberikan keyakinan apakah kanker masih berada pada stadium pertama.

Langkah Keterbukaan Paus Leo Kontras Dengan Tradisi Vatikan

Selama bertahun-tahun, Vatikan dikenal tertutup mengenai kondisi kesehatan para paus dan mengendalikan ketat informasi yang dirilis. Praktik itu sering dirangkum dalam ungkapan populer di Italia: "Paus baik-baik saja sampai ia meninggal."

Sejarah menunjukkan perbedaan pendekatan: Paus Yohanes XXIII yang meninggal 1963 diketahui menderita kanker perut namun diagnosis tersebut dirahasiakan saat itu; Paus Yohanes Paulus II mengalami dampak penyakit Parkinson dalam waktu lama dan Vatikan baru mengonfirmasi kondisi tersebut setelah ia wafat. Paus Fransiskus beberapa kali menunjukkan keterbukaan soal kesehatan, termasuk wawancara mendalam, namun menjelang akhir hayatnya juga membatasi informasi yang dirilis.

Keputusan Paus Leo untuk mengumumkan sendiri temuan nodul dan rencana operasi dipandang signifikan dalam konteks budaya komunikasi Vatikan. Giovanni Maria Vian, sejarawan Gereja dan mantan pemimpin redaksi L'Osservatore Romano, menilai langkah itu sebagai perubahan besar. "Itu benar-benar sebuah revolusi. Seolah-olah ia sendiri yang sedang membacakan buletin medis," kata Vian.

Rekomendasi