Amerika Serikat mengancam akan menghentikan operasional seluruh maskapai penerbangan Iran mulai 23 September 2026. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut Washington menyiapkan tekanan melalui pembatasan layanan penerbangan serta akses ke sistem keuangan, dikutip dari CNBC, Selasa (22/9/2026).
Bessent menjelaskan cara penerapannya mencakup pemutusan berbagai layanan penting bagi penerbangan komersial Iran. "Bagaimana kami melakukannya? Jika mereka mendarat, Anda tidak dapat menyediakan bahan bakar untuk mereka. Anda tidak dapat menyediakan layanan pendaratan, Anda tidak dapat menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar," kata Bessent.
Ia menegaskan Washington kini menekan Iran "seperti yang belum pernah dilakukan sebelumnya" dengan menargetkan pihak-pihak yang memungkinkan perekonomian Iran tetap bergerak, termasuk perbankan.
Pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap VTB Bank, lembaga keuangan yang dikendalikan negara Rusia. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya AS mengisolasi Iran secara ekonomi dengan menargetkan mitra bisnis serta pihak lain yang dianggap sebagai "pendukung" keuangan Iran.
Secara terpisah, Inggris dilaporkan akan mendukung Arab Saudi menghadapi kelompok Houthi yang didukung Iran. Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) akan menyediakan pengisian bahan bakar di udara untuk armada Saudi. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan pengaturan tersebut berlangsung selama beberapa pekan dan akan terus ditinjau.
Langkah ini diambil setelah Presiden AS Donald Trump menolak permintaan Riyadh pada akhir pekan dan membatalkan rencana serangan udara.
Menurut Associated Press, Burnham mengatakan Inggris "bertindak untuk mengamankan kepentingan Inggris dan kawasan yang lebih luas".
Advertisement
Houthi Kuasai Pulau Perim di Laut Merah
Kelompok Houthi baru-baru ini merebut Pulau Perim di Laut Merah, memperkuat kendali mereka atas Selat Bab el-Mandeb. Perkembangan ini menempatkan Iran dan kelompok yang didukungnya pada posisi untuk memengaruhi dua jalur sempit yang krusial bagi arus minyak dunia: Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz.
Bab el-Mandeb merupakan jalur alternatif penting untuk menyalurkan ekspor minyak ketika Selat Hormuz terganggu. Bagi Arab Saudi, jalur ini strategis karena pipa Timur–Barat memungkinkan sebagian aliran minyak dialihkan untuk diekspor melalui Laut Merah.
Pekan lalu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengisyaratkan kemungkinan dukungan negara-negara Eropa kepada Arab Saudi terkait situasi di kawasan tersebut.
"Saya tidak akan terkejut jika ada beberapa pembicaraan melalui telepon antara sekutu-sekutu Eropa," ungkap Rutte.