Selepas Perang Dunia II, puluhan negara bersepakat mendirikan sebuah organisasi internasional yang bertujuan mencegah terjadinya konflik lintas negara. Pemenang perang seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet mengutak-atik Liga Bangsa-Bangsa yang gagal menjalankan fungsinya di Eropa. Lalu berdirilah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 24 Oktober 1945.
Lembaga tingkat global itu diamanahi tugas mulia seperti menjaga perdamaian dunia, mengentaskan kemiskinan global, sampai mendorong terciptanya standar kesehatan dan pendidikan terbaik bagi seluruh manusia di bumi Allah ini.
Serangkaian badan khusus bergerak di bawah naungannya, beberapa yang paling terkenal misalnya Badan Kesehatan Dunia (WHO), Badan Pendidikan Keilmuan Kebudayaan (UNESCO), Pasukan Perdamaian (UN Peacekeeping), dan banyakl lagi lainnya.
PBB sekarang memiliki 40 ribu pegawai dari seluruh dunia. Seiring makin besarnya organisasi tersebut, kinerjanya tak berbanding lurus dengan niatan awal. Perang masih rutin terjadi, negara anggota tetap saling veto demi menjaga kepentingan masing-masing, kemudian wabah seperti ebola yang menyebar parah tahun lalu disebut-sebut akibat kelambanan PBB. Seakan ingin menambah masalah, PBB kini berkalang skandal di internalnya.
Seperti diberitakan Emirates247 Minggu (1/11), tercatat ada 60 kasus pelanggaran yang dilakukan pegawai PBB hanya dalam Juli-Oktober 2015. Ada delapan kasus bersifat kriminal berat dilakukan pejabat PBB maupun tim ahli misi khusus PBB di beberapa negara.
Contoh kasus terbaru adalah pemecatan empat pegawai PBB lantaran ketahuan mengirim dan menyimpan konten pornografi anak di dalam komputer mereka. Tidak hanya itu, konten cabul tersebut juga masuk ke dalam jaringan surat elektronik internal PBB di Kantor Pusat Kota New York, Amerika Serikat.
Pornografi, disusul skandal seks menjadi salah satu sumber utama skandal PBB yang grafiknya meningkat di era kepemimpinan Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon.
Seperti diberitakan Channel News Asia Agustus lalu, Kepala Misi Perdamaian Afrika Tengah, Babacar Gaye (64), dipecat oleh PBB. Pemicunya adalah rentetan skandal seks yang melanda pasukan perdamaian, termasuk pelecehan seksual terhadap gadis di bawah umur.
Tak tanggung-tanggung, yang memecat Gaye langsung Sekretaris Jenderal PBB, Bank Ki-moon. "Dia mengundurkan diri dari posisinya atas permintaan saya," kata Ban saat jumpa pers di Kota New York, seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (13/8).
Pasukan Perdamaian yang berasal dari gabungan kontingen banyak negara, termasuk Indonesia itu, dilaporkan sering memakai jasa pelacur lokal di lokasi penugasan.
Mereka jarang membayar para perempuan itu dengan uang, melainkan menggunakan benda-benda berharga. Misalnya adalah telepon genggam, perhiasan, atau logistik pangan.
"Transaksi seks di kalangan pasukan perdamaian PBB cukup umum, tetapi tidak dilaporkan," tulis BBC yang mengutip dokumen tersebut.
Ban malu karena keberadaan pasukan perdamaian PBB justru menimbulkan masalah bagi warga daerah konflik.
"Tidak terkatakan lagi rasa marah sekaligus malu yang saya tanggung karena kasus pelecehan seksual yang melibatkan personil PBB," kata diplomat asal Korsel ini.
Kasus pasukan internasional 'jajan' sembarangan dilaporkan banyak terjadi di
Advertisement
Advertisement
Liberia dan Haiti. Itu belum termasuk adanya 480 kasus dugaan eksploitasi dan pelecehan seksual dilaporkan anggota pasukan PBB selama 2008-2013.
Sepertiga dari tuduhan pelecehan itu melibatkan anak di bawah umur. Sementara transaksi seks yang tercatat dilakukan pasukan PBB dengan 225 wanita.
Lebih jauh diketahui, pelanggaran pekerja di bawah naungan PBB tidak hanya sebatas perilaku cabul. Serangkaian kasus kriminal lain seperti penyelundupan ganja seberat 173 kilogram menggunakan mobil dinas PBB juga pernah dilakukan oleh staf lembaga ini dalam kasus tahun lalu.
Paling parah, diplomat senior PBB terpergok terlibat kasus korupsi, skandal paling memalukan pernah menimpa organisasi diikuti 192 negara itu.
Laporan BBC di awal Oktober kemarin, seorang mantan Presiden Majelis Umum PBB, John Ashe, ditangkap akibat skandal suap oleh Kejaksaan New York, Amerika Serikat. Dia diyakini penyidik menerima rasuah senilai USD 1,3 juta (setara Rp 18,1 miliar) dari pengusaha asal China yang kemudian dipakainya membeli sebuah mobil mewah dan banyak lagi barang mahal.
"Diplomat yang mewakili Antigua dan Barbuda, memanfaatkan posisinya di PBB untuk meloloskan program pembangunan gedung konferensi internasional di Makau, Republik Rakyat China, tersangka meyakinkan anggota Majelis Umum bahwa gedung di Makau bisa digunakan sebagai lokasi satelit kegiatan PBB selain di New York," kata juru bicara Kejaksaan New York, Preet Bharara.
"Demi jam rolex, lapangan basket, jas mewah, dan benda berharga mahal lainnya, John Ashe menjual lembaga global yang dia pimpin," imbuh Bharara.
Bermacam kasus pejabat bejat PBB memang terungkap. Namun dalam realitanya sangat sulit 'mematikan' skandal mereka. Media Barat mengaku sulit mendapat informasi valid soal adakah kelanjutan hukuman terhadap pejabat PBB yang nakal. Salah satu masalahnya adalah tidak adanya mekanisme internal maupun eksternal yang fokus mengadili pegawai PBB melanggar kode etik maupun disiplin.
PBB mengklaim menerapkan sanksi tegas bagi para pegawai nakal seperti penurunan jabatan, atau PHK untuk kasus dianggap berat.
Atas semua skandal yang terungkap media dalam era kepemimpinannya itu, khususnya kasus korupsi mantan koleganya, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon meminta maaf pada publik. Belum ada informasi lanjutan, apa saja langkah PBB ke depan untuk memperbaiki citranya yang hancur-hancuran.
"Saya terkejut dan sangat terpukul mendengar kabar itu," ungkap Ban, beberapa saat setelah Ashe dicokok Kejaksaan New York.
Advertisement