KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Pemilu Iran jadi pertarungan sengit antara Rouhani dan Raisi

Jumat, 19 Mei 2017 16:48 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Pemilihan Presiden Iran 2017. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemilihan umum Iran digelar hari ini, Jumat (19/5). Ini adalah pemilu pertama yang dilakukan Iran usai kesepakatan nuklir dan menjadi pertarungan sengit bagi dua kandidat, Hassan Rouhani yang reformis dan Ebrahim Raisi yang konservatif.

Pemilu kali ini dianggap sangat penting untuk menentukan langkah Iran untuk reformasi sosial dan ekonomi, serta keterlibatannya kembali dengan dunia.

Tempat pemilihan suara mulai dibuka sejak pukul 03.30 waktu Iran. Sebanyak 56 juta warga berhak memilih pemimpin yang tepat untuk negaranya.

"Setiap orang harus memilih dalam pemilihan penting ini, mereka memberikan suara pada dini hari. Nasib negara ditentukan rakyat hari ini," tutur Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, seperti dilansir dari Aljazeera.

Jajak pendapat sendiri akan ditutup pada 13.30 waktu setempat, meskipun demikian, pihak berwenang biasanya memperpanjang pemungutan suara sampai malam hari.

Penghitungan suara sendiri akan dimulai tengah malam dan hasil akhirnya diumumkan dalam waktu 24 usai penghitungan selesai.

Sang Presiden, Hassan Rouhani yang kembali mengajukan diri dalam pemilu ini dinilai telah membawa Iran kembali terbuka pada dunia. Dalam pemerintahan sebelumnya, Rouhani berusaha membangun kembali kondisi ekonomi Iran.

Dia berusaha membingkai pemilu sebagai kebebasan bagi sipil untuk menyerukan suaranya. Selama kampanye, dia mendorong batas-batas, mengkritik penangkapan pemimpin reformis dan aktivis, serta meminta badan keamanan untuk tidak ikut campur dalam pemungutan suara.

Namun, di pemilu ini, Rouhani mendapat lawan cukup kuat dari Ebrahim Raisi. Dia menempatkan dirinya sebagai pembela kaum miskin. Kebalikan dengan Rouhani yang membuat Iran membuka diri, Raisi malah menginginkan perpecahan dengan negara Barat.

Meski demikian, Raisi mengatakan akan tetap mengikuti kesepakatan nuklir. Namun, ekonomi yang merosot jadi senjatanya untuk membuktikan gagalnya upaya diplomatik Rouhani.

"Alih-alih menggunakan tangan muda yang cakap untuk menyelesaikan masalah (ekonomi), dia (Rouhani) malah menempatkan ekonomi kita ke tangan orang asing," seru Raisi.

Sementara itu, Rouhani menanggapinya dengan meminta pemilih mencegah garis keras mengambil alih tuas diplomatik Iran yang sensitif. "Satu keputusan salah dari presiden bisa menyebabkan perang dan keputusan benar bisa mengakibatkan perdamaian," pungkasnya. [ary]

Topik berita Terkait:
  1. Iran
  2. Jakarta
  3. Pemilu Iran

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.