Melacak Rute Pasokan Senjata AS yang Jatuh ke Tangan ISIS

Selasa, 10 September 2019 17:23 Reporter : Pandasurya Wijaya
Melacak Rute Pasokan Senjata AS yang Jatuh ke Tangan ISIS Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). ©REUTERS

Merdeka.com - November tahun lalu koran Turki Yeni Safak mengatakan mereka mempunyai sejumlah dokumen yang membuktikan kelompok militan ISIS menerima pasokan senjata dan amunisi langsung dari Amerika Serikat.

Koran itu juga menyebut, menurut bocoran informasi dari sumber pejabat di kelompok militan Kurdi di Suriah, penyerahan senjata itu dilakukan di Kota Mansura, sebelah barat Kota Raqqa dan di kota perbatasan Tanaf.

Dikutip dari laman qasioun-news, sumber yang tidak ingin diketahui namanya mengatakan pasukan AS membentuk tim terdiri dari orang Arab dan Kurdi yang diberi tugas menjamin keamanan penyerahan senjata itu kepada ISIS.

Dia menambahkan, ada tim khusus yang dipimpin AS dengan misi mengirimkan senjata kepada ISIS.

"Operasi pengiriman senjata itu biasanya mengambil jalur melalui Kota Tanaf yang berada di perbatasan Suriah, Irak, dan Yordania," kata sumber itu.

Dia juga menuturkan ISIS menerima pasokan senjata dari AS itu ketika Turki melancarkan operasi militer melawan ISIS di Kota Al-Bab, sebelah utara Suriah.

Kabar dari koran Turki itu rupanya bukan isapan jempol belaka.

Peneliti Persenjataan dalam Konflik (CAR), organisasi internasional yang didanai Uni Eropa setahun sebelumnya juga sudah menggelar penyelidikan untuk melacak pasokan senjata AS yang jatuh ke tangan ISIS.

James Bevan, penyelidik lapangan dari CAR dan timnya pada 2016 lalu mengunjungi Kota Qaraqash, Irak, tidak jauh dari Mosul, untuk menjawab pertanyaan, benarkah senjata AS jatuh ke tangan ISIS?

Sejak awal mula konflik, CAR sudah melakukan 83 kali kunjungan ke Irak untuk mengumpulkan data persenjataan.

Qaraqash sebelumnya menjadi kota yang dikuasai ISIS.

Di sebuah rumah Bevan menemukan bukti-bukti yang dia cari. Baju-baju bekas dan sisa-sisa barang di sebuah rumah menunjukkan pernah ada keluarga yang tinggal di rumah itu. Di kamar belakang Bevan menemukan apa yang dia cari: kotak kosong amunisi.

"Hingga kini dunia internasional dibutakan oleh fakta yang menyatakan senjata-senjata ini sengaja dikirimkan ke daerah konflik," kata Bevan, seperti dilansir laman BBC, November 2016.

Kota itu sebelumnya dihuni mayoritas warga Kristiani tapi kini kondisinya sudah luluh lantak. Bangunan hancur, jalanan berlubang-lubang, gereja rusak. Jalanan sepi. Semua penduduk kota lari ketika ISIS datang.

Bevan dan timnya menyusuri gereja yang setengah hancur, di bagian dalam mereka menemukan bukti lokasi itu pernah dijadikan pabrik senjata ISIS.

Bagian-bagian dari roket berserakan di lantai dan di samping sebuah mangkuk berisi bahan kimia ada tulisan tangan 'resep' untuk mencampur bahan peledak.

1 dari 2 halaman

Pasar Turki

ISIS mencoba memproduksi massal senjata mereka di daerah yang mereka kuasai dan mendirikan pabrik senjata rumahan, tapi juga ada bukti bahan-bahan itu berasal dari luar negeri.

Di luar gereja ada sejumlah tas pabrik kimia--tim CAR sudah pernah menemukan benda semacam itu sebelumnya. Tas semacam itu dijual di pasar domestik di Turki dan sebagian besar jatuh ke tangan ISIS.

"Ketika kami melihat senjata modifikasi dan bom rakitan rumahan, kami tahu mereka (ISIS) membeli bahan-bahan ini dalam jumlah banyak di pasar Turki," kata Bevan.

"Jaringan jual-beli mereka merentang jauh sampai ke selatan Turki dan mereka jelas punya hubungan erat dengan pemasok besar."

Dalam sejumlah kasus CAR menemukan bukti sekitar 3000-5000 tas yang dibeli dengan nomor pembelian yang sama.

Dunia perdagangan senjata memang tak pernah terang benderang tapi Bevan dan timnya mempunyai bukti tentang sumber amunisi ISIS.

Di masa awal konflik, senjata-senjata itu diperoleh di medan pertempuran dari pasukan Irak dan Suriah. Tapi sejak akhir 2015 tim Bevan melihat ada sumber lain yang cukup berperan.

Kotak amunisi itu diketahui bisa dilacak sampai ke pabrik pembuatnya di Eropa Timur. Tim Bevan kemudian melayangkan permohonan informasi kepada siapa amunisi itu dikirimkan.

Ternyata ditemukan, amunisi itu dijual secara legal kepada pemerintah AS dan Arab Saudi lalu dikirimkan ke Turki lewat kapal.

Tujuan kapal itu adalah sebelah utara Suriah dan kelompok oposisi yang didukung AS dan Saudi untuk menggulingkan Presiden basyar al-Assad.

Tujuan pengiriman senjata itu memang bukan langsung ke ISIS tapi di tengah jalan ceritanya jadi lain.

2 dari 2 halaman

Pengalaman Mujahidin di Afghanistan

Amunisi itu ditemukan di Tikrit, Ramadi, Falluja, dan Mosul--daerah yang selama ini jadi medan pertempuran melawan pasukan Irak yang didukung AS.

Cepatnya ISIS mendapatkan bahan-bahan ini cukup mengejutkan--terkadang hanya butuh dua bulan dari ketika amunisi itu keluar dari pabriknya.

"Kalau kita memasok senjata dan amunisi kepada bukan hanya pihak swasta tapi pihak lain dalam jaringan konflik yang rumit, maka risiko senjata itu jatuh ke tangan yang salah cukup tinggi," kata Bevan.

Kasus serupa yang bisa mengingatkan kita adalah ketika AS memasok senjata kepada gerilyawan mujahidin yang berperang melawan Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an.

Dalam kasus itu senjata dikirim ke sejumlah kelompok yang disetujui oleh CIA tapi disalurkan melalui intelijen Pakistan dan kemudian jatuh ke tangan kelompok lain yang juga berperang melawan Uni Soviet dengan agenda yang lebih ekstrem, seperti kepada Usamah Bin Ladin.

Baca juga:
Polri: KKB dan Pemberontak Terafiliasi ISIS di Papua Beda Haluan
Pemberontak di Papua Terafiliasi ISIS Adalah Jemaah Ansharut Daulah
DPR Sebut ISIS Tunggangi Rusuh Papua Masih Dugaan
Menhan Tegaskan Kelompok Terafiliasi ISIS Ikut Nimbrung di Konflik Papua
Tak Ada Manusia, Hewan-hewan Ini Pun Jadi 'Pengantin Bom' ISIS dan Taliban
Menhan Ungkap Ada Kelompok di Papua Terafiliasi ISIS yang Serukan Jihad

[pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini