Kisah Erdogan ngambek di pemakaman Muhammad Ali akibat batal pidato
Merdeka.com - Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan, mempersingkat lawatan di Amerika Serikat akhir pekan ini menjadi hanya sehari. Pada Jumat (10/6), dia sudah bertolak kembali ke Istambul kendati seharusnya menghadiri prosesi pemakaman petinju legendaris Muhammad Ali di Kota Louisville, Kentucky.
Usut punya usut, Erdogan rupanya tersinggung karena keluarga Ali tak memberinya kesempatan pidato mengenang mendiang. Sang presiden juga tak mendapat akses meletakkan kain kiswah asli dari Ka'bah di peti mati Ali.
Selain itu Menteri Agama Turki, Mehmet Gormez, yang diajak rombongan Erdogan tak memperoleh kesempatan membaca ayat Quran dalam prosesi tersebut, seperti dilaporkan kantor berita Dogan dan Stasiun Televisi Al Arabiya.
Merujuk rangkaian acara, seharusnya Erdogan serta Raja Abullah II dari Yordania diberi kesempatan berpidato pada acara komunitas lintas iman memperingati wafatnya Ali. Namun belakangan keluarga mendiang Ali mengalokasikannya untuk tokoh lain, termasuk mantan presiden AS Bill Clinton.
"Pembatalan ini bukan tentang siapa mereka, namun hanya saja waktu yang tersedia sangat terbatas," kata Bob Gunnel, juru bicara keluarga saat dikonfirmasi.
Alhasil, selama di AS, Erdogan hanya menghadiri salat jenazah Ali. Beberapa jam sebelumnya dia masih sempat menemui undangan buka bersama komunitas diaspora Turki di Negeri Paman Sam. Pada acara bersama warga Turki etnis Meskhetian itu, Erdogan tetap menyampaikan pandangan positif terhadap sepak terjang Muhammad Ali semasa hidupnya.
"Selain mengalami kejayaan di atas ring tinju selama karirnya, Muhammad Ali adalah suara umat muslim seluruh dunia, termasuk juga bagi mereka yang teraniaya dan yang papa," kata Erdogan.
Ali dan Erdogan berteman akrab, jauh sebelum sang politikus Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu menjadi Presiden. Erdogan pun sejak pekan lalu sudah menyatakan kesanggupannya hadir dalam prosesi pemakaman.
Di luar insiden Erdogan 'ngambek', sebetulnya pemakaman Ali berlangsung lancar dan dipadati ratusan ribu orang. Warga yang mengenang petinju terbaik sepanjang masa itu datang dari pelbagai latar agama, baik Islam, Kristen, Yahudi, hingga Mormon.
Muhammad Ali wafat Jumat (3/6) malam waktu AS dalam usia 74. Dia meninggal akibat gangguan pernafasan imbas dari penyakit parkinson yang dideritanya selama tiga dekade.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya