KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Jelang pelantikan, Donald Trump dijegal isu mata-mata

Rabu, 11 Januari 2017 19:14 Reporter : Yulistyo Pratomo
Donald Trump. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebuah kabar tak sedap menghampiri Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump. Aparat intelijen dilaporkan menemukan informasi di mana isu peretasan yang dialami Calon Presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, ternyata juga menyeret pengusaha properti asal New York itu.

Dilansir The Telegraph, Rabu (11/1), dalam sebuah dokumen disebutkan mata-mata Rusia berhasil mengumpulkan sejumlah informasi terkait Trump. Informasi itu didapatkan dari komunikasi intens yang dilakukan para peretas dengan tim kampanye politikus eksentrik tersebut.

Tak hanya itu, terdapat sebuah addendum yang sangat rahasia, di mana peretasan diduga atas perintah langsung dari Kremlin, pusat pemerintahan Rusia. Informasi itu sudah diungkap aparat intelijen kepada Presiden Barack Obama serta Presiden terpilih.

Aksi mata-mata itu diduga dilakukan agar Trump bisa memenangi pemilihan presiden, beberapa waktu lalu.

Dokumen itu terdiri berupa sipnosis dua halaman, berupa laporan sangat rahasia yang dilakukan mata-mata Rusia agar terjadi konflik antara dua partai besar di AS, serta membuat tuduhan agar kalangan intelijen bisa mendapatkan perhatian Trump.

"Beberapa dokumen juga menyebutkan telah terjadi komunikasi antara tim kampanye Trump dengan pejabat Rusia selama Pemilu berlangsung," ujar seorang sumber dari keamanan nasional, demikian dilansir harian The Telegraph, Rabu (11/1).

Beberapa memo yang juga menjadi bagian dari dokumen itu disebut-sebut disusun oleh seseorang yang mengaku sebagai intelijen Inggris, namun pernah bekerja untuk AS di masa lalu. Memo disusun berdasarkan sipnosis dari sejumlah oposisi anti-Trump, baik dari Partai Demokrat maupun Partai Republik. Penyusun dokumen ini mengaku menyewa mantan agen MI6 yang pernah berdinas di Rusia pada 1990-an.

Tindakan mata-mata ini sudah dimulai sejak sejak pemilihan pendahuluan Partai Republik berlangsung, dan didanai kelompok pendukung oposisi dari Partai Republik. Tak hanya itu, kelompok liberal dan pendonor juga ambil bagian dalam memberikan dana penyelidikan setelah Trump menjadi calon presiden.

BuzzFeed sempat menerbitkan sebuah scan dokumen secara jelas, namun mereka menekankan temuan-temuan itu belum terverifikasi.

Melalui akun Twitternya, Trump membantah semua tudingan itu. " Berita bohong, ini permainan politik total," tulisnya. [tyo]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.