Ilmuwan Jelaskan Mengapa Banyak Terjadi Gempa Dahsyat di Afghanistan

Senin, 27 Juni 2022 15:15 Reporter : Hari Ariyanti
Ilmuwan Jelaskan Mengapa Banyak Terjadi Gempa Dahsyat di Afghanistan Gempa guncang Afghanistan. ©AFP

Merdeka.com - Pada Rabu dini hari pekan lalu, di saat warga di Provinsi Paktika, Afghanistan sedang tertidur pulas, gempa berkekuatan 6,1 magnitudo mengguncang. Sedikitnya 1.000 orang tewas dan 3.000 lainnya terluka. Ratusan rumah hancur.

Gempa Paktika merupakan gempa bumi paling mematikan di Afghanistan dalam dua dekade ini.

Mengapa kerap terjadi gempa di Afghanistan?

Gempa bumi terjadi ketika ada pergerakan tiba-tiba di sepanjang lempeng tektonik yang membentuk permukaan Bumi. Fraktur yang disebut garis patahan terjadi di mana lempeng bertabrakan.

Afghanistan sangat rawan gempa karena berada di atas garis patahan di mana lempeng India dan Eurasia bertemu.

Dalam dua pekan terakhir, ada 10 gempa sedang berkekuatan 4 magnitudo ke atas di dalam dan sekitar Afghanistan. Ada juga 219 gempa kecil dalam setahun terakhir dengan kekuatan antara 1,5 dan 4 magnitudo.

Gempa di Paktika sangat mematikan karena disebabkan tekanan yang terbentuk dari tumbukan lempeng India dan Eurasia. Menurut Survey Geologi Amerika Serikat, kekuatan gempa tersebut 5,9 skala Richter, dikutip dari BBC, Senin (27/6). MEnurut Badan Penanganan Kedaruratan AS, angka ini sama dengan 475.000 ton TNT atau bahan peledak atau 37 kali energi yang dilepaskan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Getaran gempa juga dirasakan sampai sejauh 500 kilometer di Pakistan dan India.

Menurut pengukuran Badan Survei Geologi AS, salah satu alasan mengapa gempa tersebut sangat merusak karena terjadi hanya 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

"Bagian Afghanistan ini terdiri dari kaki bukit Himalaya," jelas ahli kegempaan Badan Survei Geologi Inggris, Dr Brian Baptie.

"Di sini, lempeng tektonik tidak bertabrakan secara langsung, tetapi sebagian saling meluncur. Akibatnya, gempa di wilayah ini cenderung lebih dangkal, sehingga getarannya lebih dekat ke permukaan," paparnya.

"Gempa ini hanya berkekuatan sedang tetapi dalam hal dampak, itu sangat merusak."

Baptie mengatakan, Jepang dan negara-negara Amerika Selatan cenderung lebih sering mengalami gempa daripada Afghanistan. Namun, secara khusus Afghanistan sangat rentan karena bangunan-bangunannya tidak tahan gempa.

"Mereka cenderung terbuat dari kayu dan bata - sejenis bata lumpur - atau dari beton yang tidak kuat," ujarnya.

Kerusakan akibat gempa di kawasan pegunungan Afghanistan biasanya akibat longsor yang dipicu gempa. Longsor ini bisa meratakan rumah-rumah di desa pegunungan dan menutupi sungai-sungai sehingga menyebabkan banjir yang meluas.

Terkadang berita gempa diketahui pemerintah setelah beberapa hari. Longsor bisa menutup jalan, sehingga tim SAR dan peralatan evakuasi sulit mencapai lokasi bencana.

Evakuasi juga kerap terhalang cuaca seperti hujan dan salju, kabut, dan musim dingin ekstrem.

2 dari 2 halaman

Gempa-gempa mematikan di Afghanistan

mematikan di afghanistan

Menurut kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, selama satu dekade terakhir, lebih dari 7.000 orang tewas karena gempa di Afghanistan. Ada rata-rata 560 kematian akibat gempa dalam setahun.

Sebelum gempa Paktika, gempa mengguncang wilayah barat Afghanistan pada Januari lalu, menewaskan lebih dari 20 orang dan menghancurkan ratusan rumah.

Pada 2015, gempa berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang Hindu Kush, menewaskan 399 orang. Gempa ini juga terasa sampai Provinsi Xinjiang, China, 1.400 kilometer dari pusat gempa.

Dua gempa bumi berturut-turut di pegunungan Hindu Kush pada Maret 2002 menewaskan lebih dari 1.100 orang.

Pada Mei 1998, gempa di Provinsi Takhar dan Badakshan, Afghanistan utara menewaskan sekitar 4.000 orang. Hampir 100 desa dan 16.000 rumah hancur atau rusak, dan 45.000 orang telantar.

Gempa pada Februari 1998 di wilayah yang sama, menewaskan 4.000 orang dan menyebabkan 15.000 orang kehilangan rumah.

[pan]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini